Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 23


__ADS_3

Mas Ragil tampak aneh, dia memaksa mengantarku, apa jangan-jangan dia mendengar doaku semalam ya di kamar kedua.


Aku memang menata kamar itu untuk tempat kerjaku.


Aku beralasan agar sewaktu aku sedang membuat soal untuk anak-anak didikku di sekolah tak mengganggu istirahatnya.


Padahal di sanalah, aku sering menuliskan kisah hidupku dan mencurahkan segala perasaanku. Seperti hari ini banyak kejadian tak terduga yang membuatku cukup khawatir.


Aku selalu ingin tampil terbaik, ingin di kenal baik dengan sebutan wanita nyaris sempurna.


Aku suka saat orang menilaiku seperti itu dan akan kupertahankan gelar itu.


Aku merasa gugup saat Mas Ragil berkata ingin sesekali memperhatikanku, sepertinya dia merasa kurang perhatian karena kesibukannya.


Padahal aku merasa tak masalah, tapi karena tak ingin dia tau isi hatiku, terpaksa aku membual dengan berkata kalau aku takut berubah jadi manja.


Huweek, aku ingin muntah mendengar ucapanku sendiri. Lama-lama melelahkan juga bersikap seperti ini di hadapan suamiku.


Saat kami sampai di parkiran para guru dan staf, kulihat wajah mas Ragil terlihat sendu.


Lalu dia berkata seakan malu dengan kondisi mobilnya tak seperti para pengajar di yayasanku.


Padahal mas Azam pun belum memiliki mobil, lelaki itu bahkan lebih memilih menggunakan kendaraan Online.


Baru saja turun, tiba-tiba Bu Asri menyambut kami. Aku melihat tatapan berbinar wanita yang usianya tak begitu jauh denganku itu saat melihat suamiku.


Entah kenapa ada perasaan kesal, jadi aku sengaja mengajak dia masuk, apalagi saat Bu Asri berkata jika aku di cari oleh Mas Azam.


"Suami Bu Hulya, tampan sekali! Ah beruntungnya, kalian serasi sekali, cantik dan tampan," ujarnya semangat.


Ya aku memang tau suamiku tampan, tapi saat di puji oleh orang lain ada perasaan kesal juga.


"Makanya menikah Bu Asri," sambarku sekalian mengejeknya.


"Huh! Saya juga ingin menikah Bu Hulya, belum ada jodohnya aja, Pak Azam terlalu Friendly, jadi susah di tebak dia mah! Apa jangan-jangan Pak Azam punya pacar ya?" ucap Bu Asri tampak berpikir.


"Aku rasa enggak, soalnya dia ngga pernah ngomongin soal perempuan," jawabku yakin.


"Kelihatannya Pak Azam deket sama Bu Hulya, jodohkanlah aku dengan pak Azam Bu," pinta Bu Asri yang membuatku kesal.


"Maaf Bu saya harus ke ruangan pak Azam, tadi ibu bilang beliau mencari saya kan?" elakku ingin segera berlalu darinya.


Ruangan guru atau pun staf sekolah perempuan dan laki-laki terpisah, dalam satu ruangan, kami di pisahkan lagi dengan kubikel-kubikel sebagai pembatas kerja kami.


"Pal Azam mencari saya?" tanyaku setelah mengetuk ruangan kerja para lelaki.


"Ah, Bu Hulya sudah datang? Kita bicara di kantin aja yuk!" ajaknya.


Aku hanya mengangguk lalu mengikutinya ke sebuah kantin.


"Ibu mau kopi apa teh?" tawarnya.


"Teh aja pak," jawabku tersenyum.


Dia memesan kopi latte seperti biasa. Aku sudah hafal apa saja yang dia sukai.


"Ada perlu apa ya Pak?" tanyaku penasaran.


Jika dalam ruang lingkup sekolah, maka aku membiasakan diri memanggilnya Pak, karena panggilan 'Mas' akan di anggap tidak sopan.

__ADS_1


"Saya dapat teguran dari pak Zhafran Bu," adunya lemah.


Ah iya, Mas Zhafran sering sekali mengeluhkan kelakuan Azam yang dia pikir belum layak untuk di terima di sekolah ini.


Saat ini mas Azam bekerja sebagai Staf karena dia bukan lulusan dari jurusan pendidikan. Meski aku dan mas Azam dulunya satu universitas, tapi memang kami berbeda kejuruan.


Padahal menurutku tugasnya tak begitu sulit tapi entah kenapa dia selalu terkena teguran.


"Memangnya ada apa Pak?" tanyaku penasaran.


"Pak Zhafran meminta aku membuat daftar kegiatan untuk kegiatan bakti sosial tiga bulan yang akan datang berikut anggarannya, tapi setelah saya buat Pak Zhafran menolak dan merasa apa yang saya kerjakan terlalu monoton seperti bakti sosial yang sudah-sudah," keluhnya.


"Kenapa Pak Azam ngga buat aja kegiatan baru, memangnya Pak Zhafran ngga memberikan masukan apa gitu?" tanyaku.


Dia menghela napas, "iya dia memberi masukan, sudah coba saya buat tapi pas anggarannya di sesuaikan beliau merasa kurang pas, kan saya jadi bingung Bu," jelasnya.


"Lalu apa yang bisa saya bantu pak?" tanyaku karena tak tau harus mengatakan apa lagi.


"Emm ... Bagaimana kalau ibu tanyakan bakti sosial seperti apa yang di harapkan pak Zhafran. Lalu berapa anggaran yang di harapkan oleh beliau. Sebab saya merasa apa yang saya kerjakan selalu salah," keluhnya.


Aku mengepalkan tangan, benarkah Mas Zhafran berbuat seperti itu pada Mas Azam? Kalau iya, sungguh keterlaluan sekali kelakuan mas Zhafran.


"Baiklah mas, nanti saya tanyakan ya," ucapku menenangkan kekasih hati.


Sayangnya aku tidak bisa bertemu dengan Mas Zhafran karena beliau sedang rapat di dinas pendidikan kota kami.


.


.


Pulangnya, aku merasa sangat bahagia, sebab aku bisa pulang bersama dengan Mas Azam meski harus menggunakan kendaraan Online.


Banyak hal yang kami bicarakan, aku merasa jika diri ini lebih spesial di banding wanita lain yang dekat dengannya, sebab hanya denganku mas Azam terlihat lebih terbuka dan jujur.


"Maaf ya Mas Azam, saya tidak bisa menawarkan untuk mampir, sebab mas Ragil belum pulang," jawabku sendu.


"Ah ngga papa Hulya, titip salam untuk suamimu ya," ucapnya lalu mobil kembali berjalan meninggalkan kediamanku.


Hatiku sangat riang, bahkan aku sengaja memasak makanan spesial untuk suamiku, karena perasaanku yang sedang bahagia.


Aku terkejut kala tiba-tiba suara Mas Ragil sudah berada di belakangku. Untung saja aku tak menyebutkan nama mas Azam sejak tadi.


Selama ini Mas Ragil tak pernah mengeluh dengan masakan yang kumasak, aku juga tidak pernah bertanya makanan apa yang di sukainya.


Pokoknya makanan yang di sukai oleh Mas Azam, pasti akan kuhidangkan untuknya.


Hitung-hitung belajar, siapa tau jika kami bersama kelak, aku sudah mahir dengan rasa masakan itu.


Tiba-tiba Mas Ragil mengajakku main ke rumah abi dan umi. Aku sebenarnya kurang suka, sebab tak ingin kembali di tuntut memiliki anak dan juga di tuntut untuk melupakan Azam.


Setelah mengatakan kebenarannya pada abi tentang Azam, umi selalu menerorku agar tak terlalu dekat dengan lelaki itu dan aku harus mengubur perasanku padanya.


Mereka keterlaluan, tak ada yang mau mengerti diriku dan perasaanku. Sedih sebenarnya, tapi tak ada yang bisa kulalukan untuk menjawab mereka.


.


.


Umi menyambut kami dengan gembira saat melihat kedatangan kami.

__ADS_1


Mas Ragil segera mendatangi kedua ponakanku, sedangkan aku kesal karena godaan Mbak Zahra yang menginterupsiku soal momongan.


Tak lama Umi mengajakku masak di dapur, aku yakin akan kembali kena ceramahnya. Namun tetap saja aku mengikuti langkah kakinya.


Benar saja, mereka memojokkanku karena aku masih saja bertemu dengan seseorang yang aku cintai.


Kepanikan tersorot dari tatapan Mbak Zahra saat memberiku kode dengan mengerakkan matanya ke arah belakangku.


Ternyata benar di sana ada mas Ragil dan juga Mas Zhafran, jarak mereka cukup berjauhan.


Apa dia mendengar pembicaraan kami ya? Pikirku takut-takut.


Jangan sampai kami berpisah karena kesalahan dari pihakku. Nama baikku dan keluargaku harus bersih, jika harus ada yang di salahkan dan di korbankan, aku rasa itu tanggung jawab Mas Ragil.


Aku senang karena sepertinya Mas Ragil selalu berpihak padaku, dia bahkan membelaku saat Abi meminta kami berbulan madu.


Sempat terjadi perdebatan hingga tanpa sadar aku mengeluarkan suara yang cukup kencang pada abi.


Bang Zhafran menegurku cukup keras, aku terpaksa meminta maaf dan kembali pada Hulya yang lembut.


Malamnya, saat aku pikir mas Ragil akan meminta haknya ternyata aku salah, dia hanya sedang memerhatikanku.


Aku merasa ada yang tengah dia sembunyikan. Sorot matanya memancarkan kebingungan.


Apa dia mulai curiga dengan sikapku? Aku harus berhati-hati dalam bersikap, jangan sampai niatku menghancurkannya akan berbalik padaku.


Setelah kupastikan Mas Ragil terlelap, aku mendatangi ruang kerja abi. Aku yakin di sana juga ada Mas Zhafran karena mereka biasanya mendiskusikan masalah yayasan saat malam hari seperti ini.


"Abi, Mas Zhafran boleh Hulya Masuk?" ucapku setelah mengetuk pintu.


Setelah mendengar sahutan dari dalam, aku bergegas membuka pintu dan mendekati dua orang yang sangat aku cintai ini.


"Ada apa Hulya?" tanya Abi setelah membuka kaca matanya dan menatapku.


Aku duduk di sofa yang berada dekat dengan meja kerja Abi.


"Aku mau ngomong sama Mas Zhafran sebenarnya Bi!" jelasku.


"Sama Mas? Ada apa emangnya Ya?" jawab Mas Zhafran sambil berjalan dan duduk di sofa berhadapan denganku.


"Mas kenapa mempersulit pekerjaan Mas Azam sih! Kasihan tau, jangan bawa-bawa masalah pribadi dong Mas! Kan urusan perasaanku sama mas Azam ngga ada sangkut pautnya dengan urusan yayasan!" keluhku.


"Astaga! Dia mengadu apa sama kamu?" cerca Mas Zhafran tak terima.


Lalu aku menjelaskan apa yang Mas Azam ceritakan padaku, tak ada yang aku kurangi dan lebihkan sedikit pun.


Usai bercerita, kulihat Mas Zhafran menarik napas panjang. Lalu mas Zhafran menceritakan versinya.


"Dia itu memang ngga becus kerja Hulya! Mas sudah bilang, baca saja jurnal bakti sosial yang pernah kita lakukan, lalu tambahlah kegiatan baru, agar tak membosankan," ucap Mas Zhafran.


"Lalu apa yang terjadi? Dia hanya mengopi apa yang sudah pernah kita lakukan, lalu mas sudah memberikan dia masukan, tapi kau tau, dana yang dia minta melebihi anggaran! Jelas saja mas kesal!" sambung Mas Zhafran.


Entah ucapan siapa yang benar di antara keduanya. Aku yakin itu hanya alasan Mas Zhafran saja mempersulit pekerjaan Mas Azam, agar lelaki itu menyerah dari pekerjaannya.


Aku yakin sekali dia dan Abi bersekongkol ingin memisahkan aku dan mas Azam.


"Sepertinya kamu ngga percaya sama Mas Ya!" dengus Mas Zhafran.


"Terlihat sekali lelaki itu adalah orang yang suka cari aman, setelah tau kamu anak pemilik tempatnya bekerja, dengan tak tau malu dia selalu bersembunyi di belakangmu!" sindir Mas Zhafran.

__ADS_1


"Dia ngga begitu mas! Justru aku di minta hanya menanyakan kira-kira apa yang sesuai dengan keinginan Mas, kenapa Mas jadi nuduh yang macam-macan!" kesalku, membela diri dan mas Azam tentunya.



__ADS_2