
Napas Zhafran tersengal, tak menyangka jika pikiran istrinya akan sejauh itu.
"Bukan begitu maksud Ayah Bun. Dengar, ayah enggak akan biarkan rumah ini sampai tersita, tolong jangan berpikir macam-macam. Ayah hanya pinjam, ayah janji akan membayar cicilannya tepat waktu," sergah Zhafran panik.
Dia yang dulu sangat otoriter seperti tak berdaya pada sikap istrinya kini. Zahra begitu dingin dan jauh, sekarang wanita itu tampak menjaga jarak dengannya.
Zahra tersenyum sinis. "Memang berapa cicilan hutang Aryani? Bukankah sekarang pun ayah enggak sanggup bayar?"
"Sudahlah yah, aku enggak akan mengalah lagi. Kali ini aku akan mempertahankan hakku dan anak-anakku," ucap Zahra tegas tanpa menatap sang suami.
"Jadi, bunda tak mau membantu ayah?"
Zahra lantas menoleh, dia tersenyum manis pada sang suami.
"Aku akan bantu tapi dengan satu syarat, mari kita bercerai. Maka semua harta akan di bagi dua, terserah mau ayah apa kan harta ayah. Adil bukan?" ucap Zahra tenang.
Zhafran terkesiap, tak menyangka sang istri akan mengatakan hal yang sangat di takutkannya.
Dia memang mencintai Aryani, tapi Aryani berbeda dengan Zahra yang selalu bisa membuatnya tenang.
Zhafran tak menampik jika Aryani mampu memuaskannya di ranjang tak seperti Zahra. Namun untuk ketenangan hati dan jiwa, jelas istri pertamanya itu jauh di atas Aryani.
"Bercerai? Tidak! Sampai kapan pun ayah enggak akan menceraikan salah satu dari kalian!" pekik Zhafran murka.
Zahra tidak terkejut, karena yakin sang suami tak akan semudah itu melepaskannya.
"Terserah ayah. Tapi ingat satu hal. Jangan bahas harta bersama kita! Cukup tabungan kita ayah gunakan semena-mena untuk menyenangkan istri mudamu itu, tapi tidak yang lain," sinis Zahra.
"Bahkan aku bisa mengajukan cerai tanpa persetujuanmu karena kamu telah lalai dengan janjimu," sambung Zahra lalu meninggalkan suaminya.
Zhafran terduduk lemas, dia tak berdaya. Lupa akan surat perjanjian saat dirinya berusaha mengambil kembali hati sang istri.
Salah satu isi perjanjian itu, dirinya harus bersikap adil dari segi waktu dan nafkah. Zhafran melalaikan keduanya.
Bahkan sudah dua bulan ini dia tak menjenguk sang istri dan anak-anaknya. Kedua putra putrinya menjadi sedikit asing padanya.
Usia mereka yang baru beranjak empat tahun harus merasakan kesenjangan kasih sayang ayahnya.
Dengan langkah lunglai, Zhafran meninggalkan kediamannya.
Baru sampai di kediaman istri keduanya. Zhafran sudah kembali harus merasakan sesak saat melihat keberadaan para penagih hutang di ruang tamu rumah istri mudanya.
Terlihat Aryani yang tampak lega saat melihatnya.
Zhafran berusaha bernegosiasi dengan para penagih karena janjinya yang kembali meleset.
__ADS_1
"Kami tidak mau tau, bapak sudah menjanjikan pembayaran hari ini, maka segera lunasi atau pergi tinggalkan rumah ini."
"Bapak tau kami tidak semena-mena, uang penjualan rumah akan kami kembalikan jika memang ada sisanya," jelas sang penagih.
Zhafran tahu, andai di izinkan, dia lebih memilih menjualnya sendiri, sebab dia pasti akan mencari pembeli dengan harga tinggi.
Namun jika di sita oleh mereka, maka dia yakin rumahnya dan Aryani pasti akan di jual cepat asal uang mereka kembali, meski di jual murah sekali pun.
"Tunggu, beri saya waktu tiga hari lagi. Saya sudah meminjam uang, tapi perlu waktu untuk mencairkan, kalian pasti paham maksud saya kan?" pinta Zhafran.
Mereka akhirnya setuju meski dalam keadaan terpaksa.
Zhafran mendudukkan diri, dia menyugar rambutnya frustrasi.
"Papah akan dapat uang?" tanya Aryani penuh harap.
Zhafran menatap penuh amarah pada istrinya. Sinar bahagia yang terpancar dari mata Aryani membuat Zhafran mendengus dengan kesal.
"Apa Mbak Zahra mau meminjamkan sertifikat rumahnya?" cecarnya lagi.
“Mamah tau orang yang mau meminjamkan uang dengan cepat Pah. Pasti rumah Mbak Zahra di hargai mahal Pah!” ucap Aryani tak punya hati.
Dia yang terlilit hutang karena kegemarannya berbelanja. Namu orang lain yang harus menanggung masalahnya.
Zhafran bangkit tak menggubris ucapan istrinya. Lelah pikiran dan fisik membuatnya ingin sekali melampiaskan kemarahannya, tapi dia tak ingin gegabah dengan menyakiti fisik Aryani yang hanya akan semakin menghancurkan nama baiknya.
Sudah bisa Zhafran tebak, istri keduanya itu akan tega menjual drama rumah tangganya hanya demi bisa mencari popularitas dan dukungan.
Terlebih lagi dia tak ingin Zahra kembali di libatkan oleh Aryani yang selalu ingin merasa bisa menyaingi istrinya.
Selama ini Aryani selalu mencari celah menjatuhkan sang istri tapi tak pernah bisa, cap sebagai pelakor tak bisa di hilangkan meski dia menyewa orang untuk menjelekkan istri pertamanya.
Bukanya tak tahu dan tak bisa menegur, Aryani selalu bisa mengelak dari segala tuduhannya. Dia yang memang tengah sibuk dengan urusan yayasan yang tak ada habisnya membuat dia mengabaikan tingkah istri keduanya.
Aryani yang bingung dengan tingkah suaminya membuntuti sang suami sambil terus mencecarnya.
Zhafran memilih masuk ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintu masuk sebab dirinya tak ingin di ganggu sang istri.
Aryani kesal bukan main, sebab sang suami belum menjawab pertanyaannya dan kini justru menghindarinya.
Aryani mengetuk dengan kasar pintu ruangan suaminya. Dia harus mendapatkan jawaban, sebab merasa belum tenang.
Ingin bertanya pada Zahra juga tak sanggup dia lakukan. Selama menjadi istri kedua suaminya hanya sekali dia pernah berbicara dengan madunya itu.
Tak menyangka Zahra membalasnya dengan sikap dingin dan tak menghiraukannya segala perkataannya. Zahra seperti tak pernah menganggap keberadaannya.
__ADS_1
Angkuh, begitulah Aryani mengecap sikap Zahra. Tak sadar akan kelakuannya yang membuat wanita itu berubah, karena dia pernah berharap jika Zahra akan menjadi kakak madu yang baik baginya.
Nyatanya, sikap Zahra yang dia kira lembut tak sama dengan pikirannya saat dia menjadi istri kedua suaminya.
Lelah mengetuk dan sepertinya sang suami tengah marah padanya. Membuat Aryani memilih mengalah. Dia yakin Zhafran akan melakukan apa pun untuk membahagiakannya.
Di dalam ruang kerjanya, Zhafran menangis pilu, sebuah keputusan besar sudah dia ambil.
Dia tahu dirinya egois karena memilih melepaskan istrinya. Namun dalam pikiran Zhafran, dia yakin jika melepaskan Zahra karena dia wanita yang tangguh, dia yakin Zahran akan kembali bangkit dan bisa menata kembali hidupnya.
Sedangkan jika dia melepaskan Aryani, dia sangat tahu bagaimana perangai istri keduanya itu.
Kehidupan rumah tangga Zhafran dan Zahra tak akan pernah damai karena Aryani pasti akan merecoki mereka terus dan membuat sang istri atau anak-anaknya semakin terluka.
Jadi dia mengambil keputusan, melepaskan Zahra agar bisa melindungi sang istri dan anak-anaknya dari Aryani.
Biarlah dia yang hancur hidup bersama Aryani dari pada istri keduanya itu membayangi kehidupan mereka lagi.
Ini juga sebagai ucapan maaf Zhafran pada Zahra meski tahu istrinya itu tetap akan mengecap buruk dirinya.
Seperti saat ini, Aryanilah yang terus mendesaknya meminta bantuan pada istri pertamanya. Wanita itu selalu memaksa kehendaknya. Sifat buruk lain Aryani yang sayangnya baru di ketahui oleh Zhafran setelah menjadi istrinya.
Dia ingin menyelamatkan hak Zahra dan juga anak-anaknya dari keegoisan Aryani.
"Assalamualaikum Bun, maaf mengganggu, ada yang mau ayah bicarakan," ucap Zhafran menahan sesak di dadanya.
"Silakan Yah, ingin berkunjung atau bagaimana?" jawab Zahra lembut.
"Di sini saja. Maafkan ayah. Ayah setuju dengan keputusan Bunda. Besok bersiaplah, akan ayah antar Bunda ke rumah mamah papah," ucap Zhafran yang berusaha menahan air matanya.
Di seberang sana, hati Zahra hancur berkeping-keping. Meski dia yang menginginkan perceraian itu, tapi tak urung saat di kabulkan oleh sang suami tetap merasa sakit.
"Maafkan Ayah Bun. Bunda benar, kelakuan ayah hanya akan semakin menyakiti Bunda. Ayah harap Bunda bisa menemukan kebahagiaan lain. Satu pinta ayah, tolong jaga anak-anak, jangan buat mereka membenci ayah ya Bun," pinta Zhafran yang tak bisa lagi menahan tangisnya.
Kedua insan yang masih saling mencintai itu memutuskan berpisah dengan alasan masing-masing.
Satu yang sama adalah, baik Zahra dan Zhafran ingin melindungi mental anak-anak mereka.
.
.
.
Tbc
__ADS_1