Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 49


__ADS_3

Hasil pembicaraan hari itu mengalami kebuntuan sebab hal yang terduga terjadi, di mana ternyata Hulya dan Azam adalah saudara seayah.


Rizal sebagai ketua Rt dan Abu sebagai perwakilan desa juga tak bisa berbuat banyak, yang pasti Rizal akan melarang siapa pun tinggal di rumah Ragil dan Hulya untuk sementara waktu.


"Maaf Mas Ragil, kami pamit undur diri. Saya cuma bisa bilang, bersabarlah dalam menghadapi kehidupan rumit ini," ujar Rizal sebelum pulang.


"Terima kasih Pak," balas Ragil sambil menyalami keduanya.


Maya yang ikut bersama mereka ke rumah sakit pun hanya bisa tersenyum menjawab pamitan mereka.


"Ayo Gil, kita pulang juga! Dia kan bukan urusanmu, anak-anaknya saja tak peduli!" keluh Maya.


Dia memang senang anaknya memiliki sifat yang baik, tapi dia cukup kesal juga kala Ragil jadi orang yang mudah melupakan kesalahan orang padanya.


"Saya hubungi keluarga mereka dulu ya Bu," pinta Ragil pada ibunya.


"Panggil mamah Gil, jangan Ibu!" tolak Maya dengan panggilan yang sama dengan Rukayah.


"Maaf Mah, Ragil belum terbiasa," balas Ragil sambil memegang kedua tangan ibu kandungnya.


Keduanya saling berpandangan, Ragil tak menyangka jika ternyata dia mempunyai Ibu lain yaitu ibu kandungnya sendiri.


Maya kembali mengusap wajah putra bungsunya, rasa rindu dan sayangnya membuncah mendapati putranya yang telah dewasa.


"Maafkan Mamah Ragil, setelah kami tahu kalau Azam bukanlah putra kami, sungguh kami mencoba mencarimu, tapi semuanya menemui jalan buntu. Mamah harap kamu ngga marah dan kecewa sama kami," ucap Maya.


"Mamah enggak salah, mungkin ini memang takdir kita, Ragil bersyukur setidaknya Ragil masih bisa di pertemukan dengan Mamah dan Papah," balas Ragil.


Mereka berpelukan untuk saling melepaskan rasa sesak di dada. Sungguh semuanya terjadi begitu cepat dan singkat.


"Pokoknya kamu harus ikut kami ya," pinta Maya.


Ragil mengangguk, "Ragil minta izin untuk menyelesaikan masalah Ragil dulu ya Mah," mohon Ragil pada ibunya.


Maya mengangguk, dia tau putranya harus menyelesaikan masalah keluarganya. Dia pun tak mempermasalahkannya sebab dia akan menghabiskan sisa umurnya bersama dengan putra semata wayangnya kini.


"Kamu tau, andaikan kakakmu hidup, mamah pasti bahagia sekali saat ini, sayangnya Allah lebih menyayangi dia," ucap Maya mengingat mendiang putra pertamanya.


"Boleh nanti ajak Ragil ke makam kakak Ragil Mah?" pintanya.


"Tentu saja!" jawab Maya semangat.


.


.


Di tempat lain, tepatnya masih di kediaman Hulya dan Ragil. Keluarga Hulya masih berkumpul bersama Azam, Rukayah dan pasangan suami istri Amar dan Hamidah.


"Jadi kamu adalah selingkuhan ayahku?" cibir Hulya kesal pada mertua sekaligus ibu dari kekasihnya itu.

__ADS_1


Entah kenapa, Hulya merasa jika selama menjadi menantunya, Rukayah tak pernah menyukainya, meski suami mereka memutuskan ingin berbesan.


Kini dia tahu alasannya, mungkin dia iri dengan Uminya, pikirnya.


"Kamu memang perempuan murahan!" pekik Umi Hulya muak.


Sungguh dirinya ingin sekali menghajar wanita yang sama-sama memiliki putra dari suaminya.


"Jadi katakan apa Saeba juga anak suamiku?" tanyanya lagi.


Rukayah menunduk sambil terus terisak, rahasia yang selalu dia simpan begitu rapat kini akhirnya terbongkar juga.


Rukayah mengangguk, dirinya memang wanita simpanan Afdhal, sahabat suaminya. Jika di tanya apa dia mencintai Afdhal jawabannya adalah tidak.


Dia bersama dengan Afdhal karena lelaki itulah yang mampu membuatnya menjadi wanita sempurna.


Lalu Afdhal juga lah yang selalu membantu perekonomian keluarganya. Namun masalah hati, tentu saja Rukayah lebih mencintai suaminya.


Meski banyak yang bilang di bodoh karena masih mau bertahan dengan lelaki pemalas dan juga mandul itu Rukayah tak peduli.


Mereka tak tau kalau Ibnu lah yang dulu membantunya. Ibnu adalah lelaki yang mengangkatnya dari ke terpuruk kan akibat siksaan orang tua angkatnya.


Rukayah memang cantik dan lembut, membuat Afdhal terpikat dengan istri sahabatnya itu.


Terlebih lagi Rukayah bukanlah tipe perempuan penuntut membuat Afdhal gelap mata dan ingin memiliki istri sahabatnya meski saat itu dia sendiri sudah menikah dengan Uminya Hulya.


Afdhal memang menikah karena perjodohan. Yayasan yang di miliki Afdhal saat ini di terimanya dari nama besar keluarga istrinya.


Rukayah sendiri sadar semua perbuatannya adalah salah, tapi dia bisa apa? Saat semua orang mempertanyakan kesuburannya, hanya Afdhal lah orang yang menghiburnya dulu.


Sayangnya, semua yang di lakukan Afdhal hanya tipuan agar dirinya mau menjadi pelampiasannya.


Dari sanalah dia tahu bahwa dia bisa mengandung meski bukan dari benih suaminya. Hingga hubungan itu terus berlanjut sampai akhirnya Afdhal memutuskan berhenti setelah kelahiran Saeba.


Kini yang jadi pertanyaan mereka adalah, apa karena Afdhal tau kalau dia memiliki anak lain, oleh sebab itu dia sangat mudah memberikan bantuan pada Ibnu dan Rukayah. Hanya dia yang tahu alasannya.


Dulu Afdhal pernah meminta Rukayah untuk berpisah dari Ibnu dan menjadi istri keduanya. Namun di tolak mentah-mentah oleh Rukayah sebab dirinya tak mau berpisah dengan Ibnu.


"Apa Umi yakin kalau anak wanita ini adalah darah daging ayah?" cibir Zhafran.


Rukayah menatap anak dari suaminya itu, "kami sudah melakukan tes DNA dan ayahmu sangat tahu itu," balasnya sengit.


Hulya kembali terisak, dia bingung memikirkan nasibnya. Kini hadapkan pada kenyataan jika dia telah mengandung benih kakaknya sendiri.


Pantas saja Dokter mengatakan jika kondisi bayi Hulya itu tidak normal. Ternyata memang dia melakukan hubungan inces. Tak ada yang tahu selain dirinya.


"Bagaimana ini Umi?" lirih Hulya.


Umi Hulya hanya diam bergeming, karena merasa keluarganya telah melakukan dosa yang sangat besar dan tentunya aib yang sangat memalukan.

__ADS_1


Ponsel Hulya berdering, tertera nama Ragil meneleponnya.


"Iya Mas," jawab Hulya sendu.


"Maaf Mas, kami sendiri juga masih kacau, nanti aku hubungi bawahan Abi untuk menjaganya. Terima kasih banyak Mas mau mengkhawatirkan Abi," ucap Hulya tulus.


Setelah itu panggilan terputus. Hulya memandang sendu lelaki yang sangat di cintainya. Dia tak bisa dan tak mungkin mendapatkan Azam, karena mereka saudara se-ayah.


Dunia sangat kejam pada mereka, pantas dulu sang Abi pernah berkata kalau dirinya harus menikah dengan Ragil, sebab sang Abi tau jika Ragil mungkin berasal dari keluarga berada.


Hulya tau kalau menurut teman-teman Azam dulu keluarga Azam memang keluarga terpandang, ternyata inilah tujuannya, meski kala itu mereka tak tau siapa sebenarnya keluarga Ragil.


Mereka menebak jika suatu saat ini akan terbongkar, entah dengan cara apa. Jadilah dirinya akan tetap menjadi istri dari seorang Ragil Saputra pewaris dari kekayaan orang tuanya.


Hulya menyesali segala tindakannya selama ini, jika masih boleh berharap ingin sekali dia kembali pada Ragil dan merajut kembali rumah tangga yang sesungguhnya.


Tidak ada cara lain, Hulya berjanji dalam hati akan meluluhkan Ragil lagi, toh mereka belum resmi bercerai.


Azam sendiri tak menyangka jika nasibnya akan berakhir seperti ini. Dia memang merasa aneh sejak dulu karena orang tuanya memilih meninggalkannya kepada sang bibi.


Mereka bahkan menutup akses Azam untuk menemui mereka. Kini dia tahu alasannya, karena dia bukanlah darah daging Maya dan Tyo.


Dia mengepalkan tangan marah, dia merasa bahwa dirinya adalah korban dari keegoisan orang tuanya.


Selain kasih sayang orang tua yang tak pernah dia dapatkan, kini dia di hadapkan pada kenyataan bahwa dia juga akan kehilangan cintanya Sarah.


Sejujurnya Azam tak pernah sekali pun mencintai Hulya. Dia tidak buta jika Hulya menyukainya sejak dulu.


Namun saat itu, dirinya tak tau latar belakang keluarga Hulya. Sejujurnya dia selalu mencari wanita dari kalangan orang berada.


Andai saja dia tau kalau Hulya adalah anak pemilik sekolah terkenal di kota itu sudah pasti dia akan mendekati Hulya.


Dulu pun sebelum mengenal Sarah, target utamanya adalah Farah, karena wanita itu memiliki perusahaan sendiri, tapi Farah wanita yang sangat dingin dan susah sekali di dekati.


Jatuhlah dia pada Sarah yang seorang anak tunggal. Azam juga tau Sarah berasal dari keluarga berada oleh sebab itu dia memacari gadis itu.


Tak ada cinta pada wanita-wanita yang dekat dengannya. Hidupnya hanya demi harta semata.


Saat mendekati Hulya pun dia pikir bisa menjadi bagian dari keluarga besar Hulya dan berharap suatu saat bisa ikut merasakan kekayaan keluarga Hulya.


Kini semuanya kandas, rencananya gagal total. Namun otak liciknya tetap bekerja, tak mungkin bisa menjadi suami Hulya, seperti rencananya.


Maka dia akan menekan Abinya untuk mengakuinya sebagai anak dan membuatnya sama berkuasanya dengan Zhafran.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2