
Kondisi rumah Afdhal dan Huma terasa sangat berbeda. Jika dulu rumah besar nan mewah itu selalu berisi teriakan canda tawa cucu mereka, kini hanya sepi yang menyapa.
"Ya? Bukannya kamu harus kontrol?" tanya Huma pada putrinya yang lagi-lagi sedang melamun.
Kandungan Hulya sudah menginjak sembilan bulan, tapi perutnya masih kelihatan kecil, sebab kondisi bayi itu memang tak terlalu baik.
"Apa Azam benar-benar ngga bisa nemenin kamu? Kalau pun kalian bukan suami istri, senggaknya dia itu kan anak kalian!" gerutu Huma.
Hulya yang dulu cantik dan pandai merawat diri pun tampak berbeda. Wanita itu selalu menampilkan wajah murung dan sayu.
"Sudah lah Mi, aku ngga mau buat keluarganya bermasalah. Lagi pula aku udah berjanji ngga akan mengganggu Mas Azam lagi," jelas Hulya.
Obrolan mereka terhenti kala Afdhal datang bersama dengan seseorang. Membuat keduanya tersentak kaget.
"Mau apa kamu bawa dia ke sini?!" sentak Huma kesal.
Afdhal menarik napas sebelum menjawab ucapan istrinya.
Saeba hanya menunduk, setelah dia mengetahui jika dirinya adalah anak Afdhal, di rumah, sang ayah— Ibnu mengacuhkannya.
Bahkan yang lebih menyakitkan, mereka akan pergi dari kota itu tanpanya.
"Ibnu dan Rukayah menyerahkan dia pada Abi— Mi," desahnya pasrah.
Hubungannya dengan sang istri belum membaik dan kini dia di hadapkan pada pilihan harus menerima anaknya dari Rukayah, jika tidak, maka Ibnu akan melaporkannya ke pihak yang berwajib.
"Kalau Abi menolak, maka mereka akan melaporkan Abi," sambungnya.
Huma menatap nyalang suami dan Saeba. Sungguh hatinya terasa sakit jika harus di paksa menerima Saeba saat ini juga.
Saeba juga tak menyangka jika Huma yang dulu terlihat lembut kini hanya kilatan amarah di matanya saat menatap dirinya.
"Aku ngga peduli Bi, seharusnya kamu menyerahkan dia pada Faisal! Dia kan istrinya," cibir Huma.
Afdhal lantas meminta putrinya untuk duduk, perutnya yang sudah membuncit jelas membuat beban Saeba bertambah besar dan pasti membuat lelah.
"Faisal tidak mau kembali pada Saeba Mi, bahkan Hasan berani memulangkan uang kita dari pada harus menerima Saeba kembali," jelasnya.
Mendengar nama mertua serta suaminya di sebut membuat Saeba merasa sakit. Dia tak menyangka suami yang di cintainya ternyata tak pernah membalas cintanya.
Dia menyesal tak pernah memperlakukan Faisal dengan baik. Dulu dia pikir suaminya sangat mencintainya dan rela melakukan apa pun untuknya, ternyata semuanya hanya kepalsuan yang sengaja di lakukan demi sebuah tujuan.
Huma bangkit berdiri, "aku tidak menerima dia di sini, kalau Abi mau mengurusnya silakan carikan dia tempat tinggal lain," ucapnya lantas berlalu meninggalkan mereka berdua.
Hulya sendiri enggan mengurusi permasalahan sang ayah, sebab dirinya juga sedang memiliki masalah sendiri.
Keluarga itu seperti tengah menerima akibat dari segala perbuatannya.
Bahkan Zahra juga memilih tinggal di kediaman orang tuanya karena tak tahan dengan sikap Zhafran yang berubah.
Lelaki itu lebih memilih memperhatikan istri keduanya yang kini juga tengah mengandung anak pertama mereka.
Bersyukur karena keadaan Yayasan baik-baik saja karena kebobrokan keluarga mereka tak terendus media.
__ADS_1
. . . .
Terpaksa Afdhal mencarikan rumah baru untuk putrinya.
"Maafkan Abi, kamu harus tinggal di sini sendiri dulu ya," ucap Afdhal sambil mengusap kepala putrinya.
Tak ada yang bisa Saeba lakukan selain mengangguk.
"Nanti sore Abi bisa temani Saeba memeriksakan kandungan kan?" pinta Saeba.
Afdhal merasa pusing, hari ini juga jadwal kontrol Hulya, inginnya dia mengajak Saeba turut serta, akan tetapi dia yakin istrinya akan kembali menolak.
Jika besok, dirinya akan kembali sibuk dengan urusan Yayasan miliknya.
"Besok aja bisa kan? Hari ini kakak kamu juga harus kontrol kandungannya," jawab Afdhal.
Saeba menunduk hatinya cemburu melihat perhatian sang ayah kandung hanya pada Hulya saja.
"Dari dulu Ka Hulya udah mendapatkan kasih sayang Abi. Apa enggak bisa untuk kali ini Abi mengutamakan aku?"
Afdhal merasa bingung, mengapa semua orang seakan menuntut dirinya dan tak mau mengerti dengan posisinya saat ini.
"Batin kakakmu sedang terguncang, Abi harap kamu mau mengerti, toh semuanya memang sedang kacau Sa," pinta Afdhal pada putri bungsunya.
Tak ada yang bisa Afdhal lakukan, dia harus memperhatikan keluarganya, kalau tak mau kehilangan segalanya.
Meski dia tau hal ini menyakiti Saeba, tapi dia tak punya pilihan lain.
.
.
Dirinya sedang melakukan kontrol rutin untuk mengetahui kondisi bayinya.
Pandangan matanya tiba-tiba tertuju pada seorang pria dan wanita paruh baya yang sedang mendorong kursi roda seorang lelaki paruh baya.
"Mas Ragil?" panggilnya lirih.
Mendengar namanya di panggil, Ragil tentu saja menoleh, tak ada keterkejutan. Dia menatap Hulya dengan pandangan biasa saja.
"Hulya?" sapanya balik.
Hanya Maya yang tampak malas bertemu dengan mantan istri anaknya itu, sedangkan Tyo tak tau siapa wanita di depan putranya itu.
Hulya tak menyangka jika Ragil berubah sangat drastis. Lelaki itu semakin terlihat berkarisma di matanya.
"Kontrol kandungan?" tanya Ragil karena melihat Hulya hanya diam dengan mata berkaca-kaca.
Hulya mengangguk, lalu lelehan air mata lolos begitu saja.
"Aku merindukanmu Mas," ucapnya.
Hulya tak berbohong. Wanita hamil itu memang merindukan Ragil, selama ini hanya penyesalan yang terus membayanginya.
__ADS_1
Ingatannya selalu tertuju pada bagaimana dulu dia memperlakukan Ragil, dia sadar dia begitu menyakiti lelaki baik itu begitu dalam.
Baru sekarang Hulya merasa kehilangan lelaki itu. Perhatiannya, tutur katanya semua yang ada di diri Ragil di rindukan oleh Hulya hingga membuatnya tak bisa bernapas dengan baik.
"Siapa dia Mah?" tanya Tyo pelan.
"Nanti mamah ceritain Pah. Ayo Gil kita pulang," elak Maya enggan berlama-lama dengan keluarga mantan istri putranya.
Afdhal sendiri menatap Tyo dengan sangat dalam, sebab merasa pernah mengenal laki-laki itu.
Saat ingatannya tertuju pada pengusaha sukses Nugroho Group dirinya benar-benar tak menyangka jika keluarga mantan menantunya adalah orang-orang besar.
"Bapak Tyo Nugroho?" sela Afdhal yang tak ingin melepas begitu saja keluarga Ragil.
Tyo lantas menatap penuh heran pada Afdhal. Karena dia tak mengingat laki-laki di hadapannya ini.
"Saya Afdhal pak pemilik yayasan At-tausiah," jelasnya.
Tyo lantas menerima uluran tangan Afdhal karena mengingat lelaki ini yang telah menerima sumbangan perusahaannya.
"Oh iya Pak Afdhal," jawabnya datar.
"Bapak ngga pernah kelihatan, ternyata sedang sakit ya? Lalu perusahaan siapa yang memimpin sekarang?" tanya Afdhal ingin tahu.
"Putra saya ini," jawab Tyo sambil menepuk punggung tangan putranya bangga.
Afdhal benar-benar tak menyangka, dulu dia tahu Rukayah hanya menjelaskan jika putra mereka di tukar dengan anak orang kaya.
Ternyata mereka lebih dari itu, bisa di bilang keluarga Nugroho adalah salah satu keluarga konglomerat di negara ini.
Dalam hati dia berandai-andai kalau saja Hulya tak bercerai dari Ragil tentu akan menjadi sebuah pencapaian besar bisa menjadi bagian dari keluarga itu.
"Maafkan keluarga kami ya Pak Tyo," ucap Afdhal tiba-tiba.
"Maaf ya Pak, kami permisi dulu," sergah Maya yang tak tahan berlama-lama lagi.
"Mas! Apa kita ngga bisa bicara dulu?" pinta Hulya tiba-tiba mencekal tangan Ragil.
"Kamu mau ngomong apa Ya?"
"Mas, ngga bisa kah kita kembali lagi? Setelah anak ini lahir?" pintanya yang selalu sama.
"Saya tak akan membiarkan anak saya kembali pada perempuan rendahan sepertimu, jadi cukup sadar diri dan jangan berharap terlalu banyak!" balas Maya sengit.
Huma hanya bisa menenangkan sang putri saat menerima hinaan seperti itu dari Maya. Hatinya memang sakit, tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain mendengar hinaan ibu dari mantan menantunya.
Dalam hati Maya, dia tak bisa membiarkan sang putra terlalu lama menyandang status duda. Oleh sebab itu dia sedang berniat ingin menjodohkan putranya dengan seseorang.
.
.
.
__ADS_1
Tbc