
Afdhal mendatangi Fathur bersama dengan Zhafran di kediamannya.
Rumah mewah dengan dua pilar besar berwarna putih serta garasi mobil berisi mobil-mobil mewah sangat bisa menggambarkan betapa kayanya seorang Fathur, sang pengusaha batu bara.
Afdhal di sambut hangat oleh lelaki itu. Meski hanya terpaut lima tahun usia mereka. Fathur masih terlihat bugar dan garis ketampanannya saat muda masihlah melekat.
Zhafran merutuki sang adik—Hulya yang justru menolak lelaki kaya tersebut.
Andai dia perempuan, maka dia tak segan menerima Fathur sebagai suaminya.
Persetan dengan istri, asalkan kebutuhan materi tercukupi, baginya tak jadi persoalan. Begitu pikirnya.
Nyatanya, semua pikiran wanita Zhafran kira hanya ada uang saja di otaknya. Sama seperti istri mudanya.
"Aduh, maaf ini enggak ada persiapan buat nyambut Pak Afdhal dan Mas Zhafran datang ke sini," sapa Fathur sambil menyalami keduanya.
"Duduk-duduk, kayaknya ada hal penting," sambung Fathur ramah.
Afdhal tersenyum kaku. Dia lantas melirik sang putra yang juga sama dengannya. Raut wajah bingung dan cemas jelas sekali terpancar dari wajah mereka.
Fathur bukan tak menyadari, hanya dia tak ingin gegabah dalam mengambil sikap.
"Silakan di minum pak Afdhal mas Zhafran," tawar Fathur untuk memecahkan kesunyian yang sempat tercipta sejenak tadi.
Setelah melihat tamunya menikmati suguhannya. Barulah Fathur mulai bertanya maksud kedatangan keduanya.
"Sepertinya ada hal penting yang ingin Pak Afdhal sampaikan? Sebab enggak biasanya bapak dan mas Zhafran datang ke rumah?" tanya Fathur ramah.
Dia memang merasa heran karena biasanya Afdhal dan Zhafran akan menemuinya di kantor.
Bahkan rencana memperistri Hulya waktu itu pun mereka bicarakan di kantor.
Meski merasa akan ada suatu berita penting yang ingin di sampaikan keduanya. Fathur memilih bertanya untuk sekedar basa-basi.
"Kami ke sini untuk menjawab masalah penawaran pak Fathur," ucap Afdhal hati-hati.
Afdhal menelisik raut wajah lawan bicaranya yang masih terlihat tenang.
Fathur tak menjawab, dia hanya diam menunggu ucapan Afdhal selanjutnya.
Afdhal menarik napas, "Putri saya menolak Pak. Maafkan saya," sambung Afdhal tak enak hati.
Namun dia buru-buru melanjutkan ucapannya. "Tapi saya punya putri lain yang tak kalah cantik dengan Hulya," tawar Afdhal tak punya hati.
Dia menawarkan anaknya seperti barang dagangan.
__ADS_1
"Siapa? Saya taunya pak Afdhal hanya punya dua orang anak?" tanya Fathur pura-pura tak paham.
Jelas dia tahu sekali kebobrokan keluarga Afdhal, hanya saja menjawab terlalu gamblang hanya akan membuat malu tamunya.
Afdhal tersenyum kaku tapi mau tak mau dia harus jujur pada Fathur, entah bagaimana nanti keputusan lelaki itu, yang pasti dirinya memang sudah pasrah.
"Anak dari mantan istri kedua saya pak Fathur," dusta Afdhal mempertahankan harga diri.
Meski dalam hati dia mencebik, tak mungkin seorang Fathur tak tahu sisi kehidupannya.
Fathur tak tersenyum guna mengejek Afdhal. Lelaki itu tetap tenang dan mengangguk mengerti meski dia tahu lelaki di hadapannya ini tengah berdusta.
"Boleh saya tau seperti apa anaknya?"
Untuk masalah yang satu itu Fathur tak berbohong. Dia memang tak tahu seperti apa rupa Saeba anak lain dari Afdhal.
Afdhal lantas menyerahkan selembar foto bergambar Saeba dan putranya.
"Dia sudah memiliki anak? Janda juga?" tanya Fathur sambil mengamati wajah ayu dan manis Saeba.
Cantik. Begitu pikir Fathur, tapi tetap tak secantik Hulya. Dia dan istri pertamanya menginginkan Hulya sebagai istri ke tiga Fathur.
Bukan tanpa alasan, mengapa Fathur meminta Hulya menjadi istrinya.
"Bagaimana Pak Fathur?" tanya Zhafran cemas.
Mereka seperti sudah menduga kalau Fathur pasti akan menolak Saeba. Tak ada yang bisa menandingi kecantikan Hulya di mata laki-laki, begitu pula dengan Fathur yang mereka yakini sangat menginginkan Hulya.
Fathur menghela napas, "Pak Afdhal tentu tahu, bukan hanya saya yang memilih menjadikan Hulya sebagai istri ketiga saya. Tapi juga atas pilihan istri pertama saya. Jadi ... Saya rasa kami harus membicarakan masalah ini dulu," jawab Fathur.
Afdhal meluruh, dia sudah menduga jawaban Fathur akan seperti ini. Dia tak bisa memaksa karena memang atas izin istri pertama Fathurlah lelaki itu bisa menikahi Hulya.
Dalam hati Afdhal dan Zhafran sedikit merasa cemburu karena melihat Fathur adalah lelaki beruntung yang bisa memiliki banyak istri.
Mereka tengah berandai-andai, kalau saja istri mereka seperti istri-istri Fathur.
"Baiklah Pak, kami enggak bisa berbuat banyak. Semoga istri bapak mau menerima Saeba," balas Afdhal penuh harap.
Dalam perjalanan pulang Zhafran mengungkapkan rasa penasarannya. Mengapa istri pertama dari Fathur begitu menginginkan Hulya menjadi istri ketiga suaminya.
"Bi, sebenarnya abang penasaran, kenapa justru istri pak Fathur berharap Hulya menjadi madu keduanya ya?" herannya.
"Entah Abi pun tak tau, semoga saja bukan niatan buruk. Abi tentu akan tetap mengawasi rumah tangga adikmu kelak andai kata dia mau menjadi istri dari Pak Fathur" jawab Afdhal gamang.
.
__ADS_1
.
Azam pulang dengan hati riang. Saat melihat Sarah duduk di ruang tamu rumah mereka, dia bergegas mendekati sang istri.
"Sayang, ini oleh-oleh untuk kamu," ucapnya ringan sambil mengecup pipi Sarah.
Namun sayang, Sarah diam bergeming tak membalas sentuhan sang suami. Justru wanita merasa jijik dengan kelakuan suaminya.
"Dari mana kamu sebenarnya Mas?" cecar Sarah yang sudah tak lagi bisa tenang.
Azam mengernyit heran, dalam hati ada rasa gugup melihat perubahan Sarah.
"Apa maksud kamu sayang? Kamu kan tau mas ini seorang freelance, lagi pula mas udah bilang akan ada pekerjaan di luar kota selama dua hari kan?"
"Nih lihat, bayarannya," sambung Azam sambil memperlihatkan saldo tabungannya di M-Banking miliknya.
Tak ada raut wajah berbinar yang biasanya Sarah tunjukkan jika Azam bisa menghasilkan uang.
Dia merasa di bodohi. Memang baru dua kali Azam menghasilkan uang dari pekerjaannya sebagai seorang pekerja lepas.
Entah apa yang di kerjakan sang suami. Yang Sarah tahu Azam membantu para pemilik usaha kecil dalam menghitung pajak mereka. Karena memang pekerjaan itu pernah di bawa pulang oleh sang suami.
Hanya sekali, lalu entah yang kedua kalinya apa yang Azam kerjakan.
Dalam hati dia terusik, apakah sang suami selingkuh atau justru menjadi seorang penghangat ranjang para wanita kesepian?
Sarah menelan kasar salivanya. Mengapa dia tak pernah berpikir ke sana? Namun saat melihat foto yang di bagikan oleh pengirim misterius itu, wanita yang bersama dengan suaminya adalah wanita muda.
"Kamu tau? Aku di panggil polisi dan di pecat dari pekerjaanku! Saat aku membutuhkan kamu, justru kamu susah di hubungi! Sebenarnya apa pekerjaan kamu Mas?!" bentak Sarah.
Dia memang sudah di panggil pihak penyidik. Sarah bisa lolos karena uang jaminan miliknya.
Karena tindak penganiayaan yang terjadi pada Farah bukan termasuk kejahatan berat.
Namun bukan itu masalahnya. Dia harus rela keluar dari pekerjaannya karena memang terbukti bersalah.
Kini dia menjadi seorang pengangguran sama seperti suaminya. Lalu bagaimana kelanjutan hidup mereka ke depannya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1