
Senyum Hulya pagi ini sangat cerah, mungkin semangatnya sangat menggebu, ingin sekali aku menanyakan apa rencananya.
Jangan sampai dia membuat rencana pernikahan Azam dan Sarah berantakan.
"Kamu kenapa Dek?" tanyaku datar.
Dia terkesiap lalu terlihat gugup, "enggak Mas, oh iya Mas bisa luangkan waktu saat makan siang? Mas Azam bisanya bertemu di jam itu," terangnya.
Astaga, kupikir Hulya itu wanita berpendidikan, tapi mengapa dia sekarang tampak bodoh.
Dia bicara seolah-olah tak ada tujuan tertentu untuk bertemu dengan Azam. Padahal dia yang paling tau tentang pertemuan itu.
Aku memilih diam menikmati sarapanku. Kututup hati dan menyiapkan diri siang nanti.
Mungkin aku harus mengajak Hulya jalan-jalan setelah ini,
"Setelah kamu mengutarakan perasaanmu, memang apa yang kamu harapkan dek?" tanyaku memecah keheningan.
Sungguh aku tak bisa membendung rasa penasaran, setidaknya aku ingin dia berpikir ulang sebelum melakukan hal bodoh.
"Jangan sampai kamu merusak rencana mereka. Kamu hanya boleh mengutarakan perasaanmu, tapi jangan berharap lebih," tegasku.
"Bukan salahku kalau akhirnya rencana mereka batal Mas. Seperti yang Mas bilang, aku hanya mengutarakannya," jawabnya yakin.
Ya Tuhan, picik sekali pikiran istriku ini. Aku berbicara seperti itu berharap dia mau merenungi keputusannya. Setidaknya sesama perempuan harusnya dia memiliki rasa empati pada Sarah.
Aku jadi berpikir jika tujuan dia mengutarakan perasaannya, tak memedulikan orang lain. Kalau pun rencana Azam rusak, dia tak akan peduli.
Kupejamkan mata menahan rasa sesak di hati. Ke keras kepalaannya membuatku muak.
Belum habis makanan di piring sudah kutinggalkan. Sungguh aku berusaha keras agar tak menghantam kepala Hulya saat ini saking kesalnya.
Namun lagi-lagi ucapannya menghentikan langkahku.
"Kalau mas ngga ingin bertambah kesal, aku harap mas ngga perlu banyak ikut campur urusanku," kecamnya.
Aku tak percaya dia bahkan berani terang-terangan mengecamku. Aku berbalik, dia masih santai menikmati makanannya.
Kudaratkan kedua tanganku di meja tepat di depannya. Dia tak peduli tetap melanjutkan makannya.
Sinting! Benar-benar sinting istriku ini.
"Coba jelaskan apa yang kamu harapkan Hulya!" ucapku tajam.
"Lebih baik kita perjelas sekarang juga dan tak perlu berbelit-belit!" lanjutku.
Dia meletakan sendok di atas piring lalu menenggak air sebelum akhirnya bangkit.
"Kurasa, aku tak perlu berpura-pura lagi. Aku yakin kamu marah, kecewa dan sakit hati denganku. Tak masalah, aku mengerti. Satu yang kamu harus tau mas, tentang perasaanku itu hakku, jadi sebaiknya kita bersikap biasa saja, tak perlu kamu tunjukan otoritermu padaku!" desisnya.
Apa? Dia berpikir aku otoriter? Lupakah dia pada dasar pelajaran agamanya? Aku ini suaminya, kepala keluarga, bagaimana bisa dia berpikir kalau sikapku otoriter?
"Aku pikir menikahi seorang Hulya yang paham sekali agama, ternyata dia sama miskin ilmunya denganku!" cibirku.
Dia mengepalkan kedua tangannya. Giginya bergemeletuk menahan amarah.
__ADS_1
Setelah itu dia tersenyum sinis. Jika melihat wajah Hulya saat ini, ingatanku kembali pada film horor yang dulu sering kutonton bersama Saeba.
Dia seperti orang yang benar-benar asing. Seperti kerasukan jin atau semacamnya.
Dia berubah total dalam semalam, aku bahkan sempat merinding menghadapinya.
"Tidak usah bawa-bawa ilmu agamaku! Kau—" tunjuknya pada wajahku.
"Tak bisa apa-apa tanpa sokongan keluargaku, jadi sebaiknya diam saja!" ketusnya lalu berlalu meninggalkanku.
Tubuhku sedikit goyah usai mendengar cibirannya padaku.
Aku merasa tak punya harga diri. Apa dia pikir selama ini aku bergantung pada keluarganya yang kaya.
"Jangan lupa nanti siang!" ujarnya di depan pintu sebelum pergi meninggalkan rumah.
Sialan! Sekarang dia sudah berani menunjukkan watak aslinya padaku. Aku terlalu bodoh yang tau bahwa di balik wajah malaikatnya ternyata dia seorang iblis.
Tidak! Aku menolak menyamakan Hulya dengan iblis. Nuraniku menolaknya.
Mungkin kini dia hanya berusaha mengungkapkan rasa kecewanya. Tak mungkin mengubah sikap hanya dalam semalam.
Dia mungkin memendam marah dan benci padaku karena perjodohan ini.
Ya, mungkin seperti itu.
Kutinggalkan rumah dengan perasaan galau. Riuhnya jalanan membuatku sedikit melupakan pertengkaran dengan Hulya tadi.
Selama tiga bulan pernikahan baru tadi kami bertengkar.
.
.
Siang menjelang, sekali seumur pernikahan kami, inilah kali pertama Hulya mengirim pesan padaku.
Apalagi tujuannya kalau bukan mengingatkan rencana kami.
Muak sekali aku dengan semangatnya. Apa dia tak punya hati? Paling tidak memikirkan bagaimana perasaanku.
Dia tau, sangat tahu, tapi memilih tak peduli.
Aku hanya menjawab 'ya' saja seperti kebiasaannya.
"Ada apa? Kamu kelihatan kesal?" sergah Hendi saat aku baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku.
"Kami akan melakukan ide gilamu!" ketusku.
Hendi terkesiap, tak lama dia tertawa terbahak-bahak, bahkan sudut matanya sampai mengeluarkan air.
Puas sekali rasanya dia menertawakanku.
"Serius?" tanyanya masih sambil memegang perutnya yang kram mungkin karena terlalu senang tertawa.
"Ada dari tadi aku terlihat bercanda?!" jawabku datar.
__ADS_1
Dia berusaha serius kali ini, "coba ceritakan. Sungguh aku tak bermaksud seperti itu. Lalu kenapa akhirnya kamu melakukannya?"
Mengalirlah ceritaku lagi, dari saat Hulya menerima undangan sampai sikapnya yang berubah drastis pagi tadi.
"GILA! Apa sebenci itu ia pada perjodohan kalian, hingga dia berubah demikian? Kupikir Hulya akan menerimamu, meski pernikahan kalian karena orang tua, tapi ternyata dia tersiksa," tebaknya.
"Kamu jangan berkecil hati, dia mungkin marah padamu. Tapi aku pikir itu wajar, sebab karena pernikahan kalian, dia tak bisa memiliki tambatan hatinya," jelasnya.
"Apa dia yakin kalau ngga menikah denganku dia akan bersama Azam? Apa lagi dia begitu sombongnya berkata bahwa aku menopang hidup pada keluarganya! Pikiran dari mana coba? Selama ini aku menghasilkan uang dari usaha kita sendiri!" ketusku.
"Aku juga ngga bisa berkata banyak, sebab hanya mendengar dari sebelah pihak. Maaf Gil, saranku hanya berlaku untukmu karena aku hanya tau dari ceritamu saja," tukasnya.
"Lalu sekarang kamu beneran mau antar istrimu mengungkapkan perasaannya?"
Aku hanya bisa mengangguk. Hendi menepuk bahuku menyemangati.
Entah kejutan apa lagi yang akan menungguku. Bagaimana nanti tanggapan Azam saat melihatku membiarkan seorang istri menyatakan cinta pada lelaki lain.
Mungkin dia akan menganggapku pecundang.
Aku datang di tempat sesuai yang di katakan Hulya lewat pesannya. Kulihat mobil mewah istriku sudah terparkir tak jauh dari tempatku.
Masuk ke dalam kafe, aku di sambut oleh pelayan yang menawarkan bangku. Namun aku berkata sedang mencari seseorang.
Tatapanku tertuju pada dua manusia berbeda kelamin yang tengah berbincang sambil tersenyum.
Senyum yang sangat menyakitkan bagiku, karena Hulya tak pernah senyum seindah itu padaku.
Kudekati meja mereka. Azam yang duduk membelakangiku lalu bangkit dan menjabat tanganku.
"Aku kaget saat Bu Hulya bilang Mas Ragil mau ketemu denganku," ucapnya begitu aku mendudukkan diri di sebelah Hulya.
Udara mendadak terasa panas, obrolan yang tadi mereka lakukan terasa kaku setelah kehadiranku.
Tak lama pelayan datang membawakan minuman untukku, sepertinya sudah di pesankan oleh Hulya.
Ucapan Azam membuatku terenyak sesaat lalu kubalas dengan tersenyum miris.
"Wah selera kita sama ya mas Azam. Mocalatte," jelasnya.
Bukan seleraku! Tapi memang Hulya berharap aku menjadi kamu! Makiku dalam hati.
"Mas tolong buatkan saya orange jus," pintaku pada pelayan tadi.
Sang pelayan hanya mengangguk lalu meninggalkan meja kami. Hulya menatapku sengit, tapi aku tak peduli.
Kini aku tau semua yang dia berikan padaku adalah semua hal yang di sukai oleh Azam.
Keadaan hening sejenak setelah aku memesan minuman tadi. Sepertinya Azam tau ada yang tidak beres dengan keadaan saat ini.
"Maaf saya ralat ya Pak Azam, bukan saya yang memiliki keperluan untuk bertemu dengan Anda, tapi istri saya," jelasku tanpa basa-basi.
Aku sungguh-sungguh muak, berharap semuanya segera berakhir saja secepatnya.
__ADS_1