
Aku harus segera menemui keluarga mertuaku. Saat ini aku telah mempunyai bukti untuk membungkam mereka.
Tak menyangka masalahku justru bisa di tolong oleh orang asing yang kebetulan terhubung dengan kami semua.
Farah yang memiliki uang dan kekuasaan mampu menyewa orang untuk membuntuti suami sepupunya.
Awalnya dia lakukan untuk membuktikan kecurigaannya pada suami sepupunya, tak menyangka jika tujuannya juga bisa menolongku.
"Bu Farah terima kasih karena sudah mau membantuku," ujarku.
"Sama-sama Mas, silakan hubungi saja aku kalau kamu butuh bantuanku lagi," tawarnya.
Aku mengangguk, rasanya dengan ini aku rasa cukup untuk menghentikan kegilaan mereka.
Kami pun kembali ke dalam rumah sakit, aku juga ingin menjenguk Sarah sebagai bentuk rasa peduli karena bagaimana pun wanita itu sakit karena ulah istriku.
"Bu Sarah," panggilku pada wanita yang tengah menatap kosong ke arah jendela.
Dia menoleh ke arahku, "Mas Ragil?" lirihnya menyahut panggilanku.
"Semoga lekas sembuh ya Bu," ucapku iba, aku tak bertanya tentang sakitnya, karena Farah memberitahuku jika Sarah tengah depresi dengan masalah rumah tangganya.
Terlebih lagi dia memergoki sendiri suaminya dan Hulya yang keluar dari hotel bersama.
Dia lalu terisak, membuatku semakin tak enak hati. Farah dengan sigap memeluk dan menenangkannya.
"Salah aku apa Far! Kenapa mereka begitu kejam padaku," isaknya yang terdengar memilukan.
Usia pernikahan kami yang tergolong masih baru, harus terkena masalah karena sikap egois pasangan kami.
Aku mengecam keduanya. Kalau memang mereka saling mencintai, bukankah aku dulu sudah merelakannya.
Harusnya mereka tak perlu menyakiti Sarah, aku yakin Sarah akan ikhlas menerima kenyataan jika calon suaminya memilih wanita lain.
Namun tidak sekarang, tidak seperti ini. Keadaan ini seolah mereka memainkan perasaan kami.
Aku pamit undur diri tanpa ingin mengganggu keduanya. Farah yang melihatku hendak pergi hanya mengangguk tanpa berkata.
Aku kembali ke kamar inap Saeba untuk memberikan pesanan ibu.
"Bu aku harus pulang, maaf ngga bisa bantu jaga Saeba. Kata perawat di depan kalau keadaan Saeba makin membaik kemungkinan dua hari sudah boleh pulang," jelasku.
"Kamu mau pulang ke mana? Ke rumahmu sendiri?" tanya ibu bingung.
"Iya aku mau menemui mertuaku," jawabku datar.
Ibu tersenyum senang, aku tau apa yang dia pikirkan, tapi kubiarkan saja dari pada harus menceritakan tujuanku menemui mertuaku.
__ADS_1
"Akhirnya kamu mau mendengarkan nasihat ibu Bang, terima kasih. Baiklah, bicaralah yang baik-baik Bang, setelah itu segera kembali ya," pinta ibu penuh harap.
Aku hanya mengangguk saja membenarkan pikirannya.
Kulanjukan mobil kembali ke kota tempat aku mengais rezeki. Sebelum ke rumah mertuaku, kuputuskan untuk pulang ke rumah untuk mengajak Hulya turut serta.
Mobilnya ada di garasi, menandakan wanita itu sedang berada di rumah. Mungkin juga sudah pulang mengajar, aku tak tau.
Kuparkirkan mobil di seberang rumahku, tepatnya di rumah yang belum di huni.
Saat melangkahkan kaki menuju pintu, sayup-sayup terdengar suara tertawa Hulya dengan seorang lelaki.
Amarah tiba-tiba menyeruak dalam pikiranku. Tak menyangka jika wanita yang masih sah menjadi istriku secara negara itu sudah berani membawa laki-laki ke rumahku.
Berusaha bersikap tenang, aku berbalik dan mendatangi ketua Rt. Aku tak mau gegabah, harus ada saksi untuk menguatkan tuduhanku.
Perumahan kami yang masih sepi sepertinya di manfaatkan Hulya untuk memasukkan selingkuhannya ke rumah kami.
Pak Rt menyambut kedatanganku dengan ramah. Kami memang tak terlaku akrab karena memang jarang beramah-tamah.
Aku mengatakan maksud dan tujuanku datang menemui beliau.
"Ada apa Mas Ragil? Ada yang bisa saya bantu?" usia kami sepertinya tak terlalu jauh, karena memang kebanyakan penghuni rumah kami ini adalah pasangan muda.
"Begini Pak, maaf, saya butuh bantuan Bapak untuk ikut saya ke rumah," ajakku.
"Bisakah Bapak menjaga permasalahan saya ini?" pintaku.
Jujur aku malu dengan kelakuan Hulya yang pasti akan mencoreng nama baikku di perumahan ini.
"Tentu saja Mas Ragil, semua masalah akan saya jaga sebagai amanat," jawabnya yakin.
Aku tersenyum lega, beliau memang terkenal arif dan bijaksana, istrinya pun sangat santun dan di segani, oleh sebab itu tak salah kami memilihnya sebagai pengayom rukun tetangga.
"Sejak beberapa waktu terakhir ini saya tidak di rumah Pak dan hari ini saya terkejut saat mendengar suara laki-laki ada di rumah saya," ucapku.
"Astagfirullah," ucap Pak Rt.
"Maaf Mas Ragil, sebenarnya saya juga sempat mendapat laporan dari tetangga Mas Ragil yaitu Bu Eva, kalau beliau sering melihat Bu Hulya pulang dan pergi bersama seorang laki-laki."
"Saat itu saya segera mengkonfirmasinya dan beliau mengatakan jika lelaki yang tengah bersamanya adalah kakaknya. Maaf sekali lagi, kita juga belum lama bertetangga jadi kami tidak tau anggota keluarga besar kalian," sambung beliau.
"Kenapa tidak di tegaskan saja Pak?" balasku sedikit gemas dengan sikap ketua Rt.
"Maaf Mas setelah saya menanyakan ke Bu Eva apa saja yang beliau lihat, beliau hanya berkata kalau melihat Bu Hulya pulang pergi bersama lelaki itu saja. Tak ada beliau melihat yang aneh-aneh dengan keduanya," jawab Pak Rt.
Namun saat ini setelah mendengar laporanku, Pak Rt setuju mengikutiku ke rumah.
__ADS_1
"Mas Ragil yakin itu suara laki-laki? Bukan karena Mbak Hulya sedang menonton televisi?" tanya beliau memastikan.
"Aku yakin pak, makanya aku ajak bapak ke sini sebagai saksi nanti," ujarku.
Aku tak pernah mengecek kamera CCTV di rumah ini karena Hulya mematikan sambungan ke ponselku dan menggantinya hanya ke dirinya saja.
Membuatku tak memiliki bukti apa pun dengan kelakuannya saat di rumah.
Untungnya aku memegang kunci rumahku sendiri hingga tanpa perlu mengetuk aku bisa masuk ke sana.
Sepi, ruang tamu yang berdekatan dengan ruang keluarga mendadak tak terdengar suara.
Apa mungkin yang di katakan Pak Rt benar? Jika aku hanya salah mengira.
Namun aku tak menyerah, segera kulangkahkan kaki menuju ke kamar Hulya.
Tak terdengar suara apa pun dari dalam sana karena memang kamar itu kedap suara.
Baru saja hendak membuka kamar dengan kunci cadangan yang kupunya, ternyata pintu terbuka dari dalam, menandakan seseorang hendak keluar dari sana. Hulya terkejut melihat sosokku yang berdiri di depan kamarnya.
Dia saat ini sedang memakai pakaian tidur menerawangnya, lalu refleks hendak menutup pintu lagi, tapi segera kuhentikan, sebab di dalam sana aku melihat siluet tubuh orang lain yang tertidur di ranjang kami.
"HENTIKAN MAS!" Pekiknya saat aku mendorong pintu lebih kuat.
Dia jatuh tersungkur di lantai, untung kamarnya menggunakan karpet tebal hingga mungkin tak akan terasa sakit.
Sempat terbesit rasa khawatir mengenai kandungannya, tapi segera kutepis kala melihat ternyata dia benar-benar tengah berzina dengan lelaki yang selama ini menjadi biang permasalahan kami.
Terdengar suara Pak Rt, beristigfar tanpa banyak kata aku memotret keduanya. Hulya menjerit histeris.
Azam sendiri panik karena keadaannya yang setengah telanjang.
"Kalian benar-benar menjijikkan!" makiku tak tahan.
"Sabar Mas, jangan gegabah," cegah ketua Rt saat aku hendak menerjang Azam dan menghajarnya.
"Mbak Hulya dan Anda!” tunjuk pak Rt pada keduanya.
“Segera berpakaian, kami menunggu kalian di depan. Jangan coba-coba kabur karena kami memiliki bukti untuk menjebloskan kalian ke penjara," ancam ketua Rt.
.
.
.
Tbc
__ADS_1