
Flasback.
Pagi itu keluarga besar Nugraha tengah di selimuti kepanikan sebab menantu pertama mereka yang bernama Maya hendak melahirkan anak keduanya.
Maya yang sudah kesakitan di usia kehamilannya yang baru menginjak delapan bulan membuat semua keluarga besarnya khawatir.
"Aduh Mas, gimana ini, sakit banget," keluh Maya.
Putranya yang baru berusia dua tahun juga mendadak rewel di tengah keributan itu.
"Sepertinya Maya mau melahirkan Yo!" ucap ibu mertua Maya pada putranya.
"Masa sih Bu? Usia kandungan Maya baru delapan bulan loh?" jelasnya.
"Kamu ini, jangankan delapan bulan, tujuh bukan lahiran juga ada!" bentak mertua Maya.
"Sudah-sudah, kalian malah ribut di sini, ayo segera kita ke rumah sakit," sela ayah mertua Maya.
Mereka segera menuju rumah sakit. Di sana Maya bertemu dengan adik iparnya yang berprofesi sebagai perawat.
"Bu, Mas, Mbak Maya kenapa?" tanyanya khawatir.
"Kamu ngga lihat kalau kakak iparmu ini kesakitan? Mungkin mau melahirkan, dasar menantu mandul!" maki ibu mertuanya.
Hamidah hanya bisa mencengkeram ujung bajunya mendengar hinaan ibu mertuanya.
Padahal dia bertanya karena khawatir, tapi respons ibu mertuanya selalu saja memakinya.
Maya dan dirinya sama-sama menantu di keluarga Nugraha, tapi perlakukan mertuanya sangat berbeda.
Mertuanya itu lebih menyayangi Maya, menantunya yang kaya raya dan juga yang bisa memberikan mereka keturunan.
Sedangkan dirinya yang hanya seorang perawat dan dari keluarga sederhana harus merasa di asingkan oleh mertuanya sendiri.
"Saya akan panggilkan Dokter," ucap Hamidah mengalah.
Dia lalu pergi untuk segera menemui Dokter agar bisa segera membantu kakak iparnya.
Benar saja, Maya sudah mengalami kontraksi dan hendak melahirkan putra keduanya. Namun karena dia mengalami preeklamsia, Dokter mengambil keputusan untuk melakukan tindakan operasi demi menyelamatkan keduanya.
Tyo sebagai suami hanya bisa pasrah asalkan anak dan istrinya bisa selamat.
Tak lama suara tangisan bayi terdengar, membuat semua keluarga yang menunggu kelahiran Maya di depan ruang operasi menghela napas lega.
Di lain tempat, Rukayah juga hendak melahirkan putra pertamanya. Dia melahirkan di ruangan bersalin biasa, sebab dia bisa melahirkan secara normal.
Hari itu kebahagiaan hinggap pada dua ibu yang melahirkan seorang putra di waktu yang sama hanya dengan kondisi yang berbeda.
Bayi keduanya berada di ruang perawatan khusus bayi.
__ADS_1
Maya yang berasal dari keluarga berada di rawat di kelas eksekutif di rumah sakit itu, sedangkan Rukayah yang saat itu ekonominya sedang terpuruk harus menerima nasib di rawat di kelas tiga, karena permintaan suaminya.
Inilah kali pertama keduanya bertemu di ruangan bayi setelah melahirkan.
Maya baru bisa mendatangi bayinya setelah dua hari di rawat pasca operasi, sedangkan Rukayah selalu rutin mengunjungi putranya.
Rukayah menatap penuh iri pada pasangan suami istri di depannya ini.
Tyo, suami Maya sangat penuh perhatian, apa lagi mereka terlihat sangat bahagia atas kelahiran putra mereka.
Rukayah hanya bisa menatap sendu pada putranya. Sang suami bahkan baru sekali menjenguknya, lelaki itu beralasan jika sedang banyak pekerjaan di kantornya hingga tidak bisa cuti lama-lama.
Semua itu di perhatikan oleh Hamidah. Hatinya juga cemburu saat melihat kebahagiaan kakak iparnya yang selalu dia anggap beruntung.
Suami tampan, memiliki anak dan pekerjaan yang menjanjikan serta di sayang oleh mertua, itulah perbedaan nasib keduanya.
Dia mendekati Rukayah yang saat itu tengah bersedih menatap kakak iparnya.
"Kenapa Bu?" tanya Rukayah ramah.
"Ah enggak sus, ngga papa, kapan saya bisa pulang ya?" tanya Rukayah pada Hamidah.
Hamidah memang perawat di bagian ibu dan anak, jadi dia memiliki akses keluar masuk ke ruangan bayi.
"Tunggu visit dari Dokter ya Bu. Ibu kenapa kelihatan sedih?" tanya Hamidah mencari tahu.
"Lihatlah keluarga di sana terlihat sangat harmonis dan bahagia ya Sus," jelasnya.
Perempuan berhati lembut itu tiba-tiba berubah karena perasaan sakit hati yang di ciptakan oleh sikap mertuanya.
"Kamu mau aku bantu?" ucap Hamidah tiba-tiba pada Rukayah.
Rukayah yang tak mengenal Hamidah dan juga maksud perkataannya hanya bisa termenung bingung.
"Ayo kita bicara di luar!" ajak Hamidah.
Rukayah lantas meletakan bayinya kembali ke box miliknya.
Mereka berdua meninggalkan rumah sakit dan duduk di sebuah taman. Hamidah mendorong kursi roda Rukayah untuk sampai ke sana.
"Ada apa? Apa maksud ucapanmu itu?" tanya Rukayah langsung.
"Apa kamu bersedia? Aku punya cara agar anakmu bisa hidup enak," jawab Hamidah ambigu.
"Maksudnya?" Rukayah belum paham ke mana arah pembicaraan Hamidah.
"Keluarga yang kamu lihat tadi adalah keluarga kaya raya. Kalau kamu mau, aku bisa menukar bayi kalian agar anakmu bisa hidup senang, bagaimana?" tawar Hamidah.
Rukayah tersentak kaget tak percaya dengan ucapan Hamidah. Wanita itu merasa ide Hamidah adalah ide gila.
__ADS_1
Kenapa ada perempuan yang tega memberikan ide dengan menukar bayinya.
Rukayah juga tak tau apa tujuan Hamidah melakukan hal itu.
"Kenapa kamu mengatakan hal gila itu? Apa tujuanmu sebenarnya?" Cecar Rukayah.
Hamidah menatap kosong pemandangan di depannya.
"Mereka adalah keluargaku, lebih tepatnya kakak iparku. Jujur saja aku sering sakit hati dengan mereka, maka dari itu aku ingin membalas mereka," jelas Hamidah tanpa ragu sedikit pun.
Rukayah diam mematung, salah satu sisi hatinya ingin mengikuti ide Hamidah. Namun sebagai seorang ibu baru dia tak ingin melepaskan putra yang sejak lama dia inginkan hadir dalam rahimnya.
Selama dua tahun berumah tangga barulah Rukayah bisa hamil, oleh sebab itu dia masih tidak tega melepas putranya, meski dia tau Hamidah menjanjikan masa depan cerah untuk putranya.
"Saya akan menjaga anak kamu. Anak kamu akan menjadi pewaris keluarga kaya itu suatu saat, barulah setelah itu kamu bisa menunjukkan diri sebagai orang tua kandungnya, gimana?" janji Hamidah.
Perkataan manis Hamidah membuat Rukayah meneguhkan niatnya untuk menukar putra mereka.
Salah satu syarat yang harus di penuhi Rukayah adalah jangan menghilang dan selalu harus terhubung dengannya.
Dia juga meminta putra sang kakak ipar di beri nama Ragil, sebab yang dia tau anak itu memang putra bungsu dan terakhir Maya, sebab setelah ini Maya tidak di izinkan kembali hamil karena kondisi rahimnya yang sudah bermasalah.
Rukayah pun setuju saja dengan ide Hamidah. Keduanya lantas kembali ke ruang perawatan Rukayah.
Jaman itu belum ada kamera pengawas, hingga mempermudah aksi Hamidah menukar bayi Rukayah dengan bayi Maya.
Wajah kedua bayi yang masih tampak sama itu tak akan mudah di bedakan.
Hamidah menatap sendu keponakannya, dua sisi hatinya berteriak, salah satunya memintanya mengurungkan niatnya, sedangkan sisi jahatnya menuntut agar segera membalaskan sakit hatinya.
Dia kalah pada pikiran jahatnya hingga dengan tega menukar kedua bayi itu.
Hamidah mencium pipi gembul Azam sebelum akhirnya menukar gelang identitas di tangan kedua bayi itu.
"Dah ada apa?" tanya seorang perawat yang tiba-tiba masuk ke dalam sana.
Hamidah tersenyum kaku, wanita yang sudah lama bekerja dengan Hamidah paham dengan perasaan wanita itu.
Bukan sekali dua kali dia melihat Hamidah menatap sendu bayi-bayi itu, sebab dia ingin sekali bisa hamil dan memiliki bayi.
"Yang sabar ya," ucap rekan Hamidah menenangkan.
Hamidah hanya bisa mengangguk kaku, pasalnya dia gugup karena takut ketahuan, nyatanya rekannya sama sekali tidak curiga.
Hari itu, Rukayah pergi membawa bayi Ragil dan esoknya Maya pulang membawa bayi Azam.
.
.
__ADS_1
.
Tbc