
Sarah yang mengamuk membuat petugas hotel hendak mengusirnya.
Namun tadi Farah sudah menelepon pihak hotel untuk membiarkan Sarah mendatangi kamarnya.
Ini sebagai langkah awal agar Sarah sadar jika dirinya sudah mulai tahu akan segala tindakannya yang selalu menguntitnya.
Semuanya sudah di pikirkan oleh Farah dan Ragil meski kedua orang tua mereka khawatir dengan keputusan keduanya.
Lebih baik seperti ini saja berpura-pura seperti mereka belum tahu kebusukan wanita itu.
Namun Ragil dan Farah berusaha menenangkan kedua orang tua mereka. Mereka yakin ini sebagai teguran untuk Sarah jika Farah sudah mulai jengah dengan sikap Sarah.
Sarah yang akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan segera meminta petugas mengantarnya ke sana.
Sarah sebenarnya berharap para petugas memberikannya kunci kamar Farah saja agar dirinya bisa mendatangi kamar itu sendiri.
Namun pihak hotel dengan tegas menolak sebab penghuni kamar itu sedang tidak berada di sana. Mereka tidak mau di salahkan oleh tamunya jika ada apa-apa di sana karena mengizinkan tamu asing mendatangi kamar tamu mereka.
"Kalian ini ngeyel sekali sih! Aku kan sudah bilang kalau aku ini keluarganya! Kenapa kalian enggak mau percaya!" keluh Sarah sepanjang perjalanan menuju kamar Farah.
"Kami kan sudah menjelaskan kalau Ka Farah dan Bu Tania sedang pergi meninggalkan hotel Ka," jawab petugas hotel dengan keyakinan mereka.
Sesampainya di sana petugas membuka kamar Sarah dengan kunci cadangan. Benar saja kamar itu masih terlihat rapi.
Hanya ada tas berisi pakaian Farah yang memang sengaja dia tinggalkan di sana. Serta beberapa alat rias gadis itu.
Sarah tercengang saat melihat keberadaan ponsel Farah yang tergeletak di atas kasur.
Pantas saja keberadaan sepupunya terlihat masih di sana, sebab gadis itu sengaja meninggalkan ponselnya agar tidak bisa dia lacak.
Sarah mengumpat kesal, dia merasa kalau Farah seakan tau kalau dia sudah menyadap ponsel miliknya.
"Sial! Apa Farah tau kalau aku nyadap ponsel dia ya?" Sayangnya dia tidak mengakses pesan atau panggilan di ponsel milik Farah, dia hanya bisa menyadap keberadaan Farah melalui ponsel miliknya.
"Apa aku telepon tante Tania aja ya? Tapi harus ngomong apa?" monolognya.
"Ka benar kan ucapan kami kalau Ka Farah tidak ada di sini, kami harap Kakak segera meninggalkan kamar ini sebab kami tidak mau menimbulkan masalah pada Ka Tania nantinya," jelas petugas hotel.
Sarah melirik dengan kesal petugas itu dan mengikuti mereka keluar dari kamar hotel.
__ADS_1
Dia semakin penasaran ke mana perginya Farah dan tantenya. Dia merasa bodoh sebab tidak pernah tau keluarga besar ayah dari Farah, hingga dia tidak bisa mencari tahu keberadaan sepupunya saat ini.
Sarah juga merasa aneh, sebab baru kali ini Farah menemui keluarga besar ayahnya, karena yang dia tahu keluarga besar almarhum ayah Farah berada di kota yang jauh dengan mereka.
Karena tak tahan dengan rasa penasarannya dia memilih menelepon Tania. Biarkan saja mereka keheranan dengan sikapnya, lagi pula dia merasa belum puas menghancurkan Farah.
"Kamu harus merasakan sakitnya jadi aku dan mamah Rah," monolognya sambil menatap ponsel milik Farah.
Tania terkejut saat menyadari ponselnya berbunyi dan tertera nama Sarah di sana.
Beruntung acara lamaran sudah selesai dan kini mereka tengah bersantai menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Tania lantas mendekati anak dan calon menantunya untuk memberitahu jika Sarah meneleponnya.
"Far, ini Sarah telepon, Mamah harus jawab apa?" tanya Tania panik.
Ragil dan Farah lantas mengajak Tania keluar dari gedung karena di sana cukup ramai takut membuat Sarah semakin curiga.
Panggilan pertama tak terjawab oleh Tania sebab mereka masih belum terlalu jauh dari lokasi lamaran.
Hingga akhirnya mereka memutuskan berhenti di sebuah lorong yang tak di lalui banyak orang.
Farah dan Ragil hanya menunggu di depan Tania sambil mendengarkan perbincangan keduanya.
"Tante ada di mana? Apa sama Farah?" tanya Sarah.
"Oh, iya lah, kami ada di kediaman keluarga besar papahnya Farah. Ada apa Sar?"
"Di mana emangnya tante? Aku mau ikut bergabung ya," pintanya, yang kentara sekali memaksa.
"Aduh maaf ya Sarah, ini kan acara keluarga besarnya almarhum papahnya Farah, tante ngga bisa ajak kamu," tolak Tania yang mulai kesal dengan permintaan keponakannya.
"Kenapa ponsel Farah di tinggal Tante?" tanya Sarah tak sabar.
Dia lupa kalau seharusnya dia tak mengatakan keberadaannya, sebab dia tak mau membuat Farah dan Tania semakin curiga.
Namun karena rasa penasarannya yang sudah memuncak membuat dia lupa akan hal itu.
"Loh kok kamu tau kalau ponsel Farah ketinggalan?" cecar Tania.
__ADS_1
Farah dan Ragil saling melempar pandangan menunggu jawaban Sarah.
"Makanya aku mau ke sana tante. Ngga biasanya loh Farah ninggalin ponselnya. Ini kan benda penting tante. Gimana kalau ada pekerjaan yang harus dia kerjakan?" elaknya beralasan.
"Kamu belum jawab pertanyaan tante loh Sar, kenapa kamu bisa tau ponsel Farah ketinggalan?" tanya Tania yang tidak mau di alihkan.
"Tante ini gimana sih, yang penting sekarang Farah harus menerima ponselnya. Ini penting tante. Kok malah tante tanya yang ngga penting!" Sarah masih berusaha mengelak.
"Farah engga merasa kehilangan kok Sar, soalnya dia tau kalau ponselnya pasti ketinggalan di hotel. Apa sekarang kamu ada di hotel kami?"
"Engga bisa tante, aku yakin Farah pasti memerlukan ponselnya. Dia enggak pernah jauh-jauh dari ponselnya. Tante jangan egois, gimana kalau ada pekerjaan penting?"
Farah lantas meminta ponsel milik ibunya agar Sarah segera mengakhiri permintaannya.
"Halo Sar, ini aku Farah, ada apa?" tanya Farah menahan geram.
Sarah ingin melakukan panggilan video dengan Farah tapi di tolak olehnya.
"Loh Far, aku mau tau kamu di mana sekarang? Kenapa kamu tolak panggilanku?" ucap Sarah kesal.
"Aku lagi sibuk kumpul bareng keluarga besar papahku Sar, udah ya enggak enak ninggalin acara lama-lama," tolak Farah agar mereka segera menghentikan obrolannya.
"Kamu kenapa aneh gini sih Far, ponsel tiba-tiba di tinggal, sebenarnya kamu kenapa? Apa ada yang kamu sembunyiin dari aku?" cecar Sarah tak terima.
"Loh, kok kamu tau ponselku ketinggalan?" balas Farah pura-pura tak tahu.
"Kamu belum jawab pertanyaanku Farah!" elak Sarah tegas.
"kamu yang aneh Sar, kenapa kamu selalu penasaran dengan kegiatanku? Aku sungguh baru menyadari ini," jawab Farah dingin.
Sarah terkekeh di sana, sekarang dia sadar jika Farah sepertinya sudah tau apa yang telah dia perbuat selama ini.
Namun yang membuatnya penasaran, siapa orang di belakang sepupunya yang telah membuka pikirannya.
"Kamu aneh Far, aku sepupu kamu sekaligus sahabat dekat kamu, kenapa sekarang kamu seolah curiga sama aku ya" ejeknya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc