Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 44


__ADS_3

Aku dan Pak Rt Rizal menunggu di ruang tamu. Pak Rizal meminta maaf pada kami, jika nanti dia tak mengizinkan Hulya tinggal di kawasan perumahan ini.


Sungguh kelakuan Hulya sudah melanggar peraturan yang ada di perumahan kami ini.


Aku tak mempermasalahkannya. Mungkin nanti Hulya akan menjual rumah ini kelak pun tak apa, memang rumah ini sudah kuhibahkan untuknya.


Mereka sudah kembali menggunakan pakaian. Kulihat Hulya kembali mengenakan pakaian tertutupnya.


Sedangkan Azam berjalan dengan raut wajah masam, mungkin dia kesal.


"Beginikah kelakuanmu Pa Azam? Kalian seorang guru tapi menodai profesi yang begitu suci itu!" cibirku.


Dia tersenyum sinis, "Istri Anda yang mengejar-ngejar saya kalau Anda lupa!" sanggahnya.


"Memilih berzina saat istri sendiri sedang di rawat di rumah sakit? Di mana otak Anda!" ucapku menghardiknya.


Dia terkesiap, sepertinya kabar tentang sakitnya Sarah belum di ketahui olehnya.


Hulya menatap tajam pasangan selingkuhnya, mungkin dia cemburu.


"Apa Mas ini punya istri Mas Ragil?" tanya pak Rizal padaku.


"Iya," jawabku singkat.


Pak Rizal menggeleng-gelengkan kepala.


"Saya minta tanda pengenal kalian berdua!" pinta ketua Rt.


Hulya dan Azam menatap tak percaya pada Pak Rizal.


"Untuk apa Pak?" tanya Hulya gugup.


"Nanti saya jelaskan," elak Pak Rizal enggan menjelaskan terlebih dahulu.


Mau tak mau Hulya dan Azam menyerahkan tanda pengenal mereka.


Pak Rizal lantas mengantonginya, baru setelah itu dia menjelaskan maksudnya.


"Berhubung hari sudah menjelang malam, maka saya harap besok kalian membawa orang tua masing-masing ke sini," pinta pak Rizal.


Hulya menggeleng, lalu menangis sambil menutup wajahnya, sedangkan Azam sudah berubah pucat.


"Anda juga harus membawa istri Anda ke sini, jika kalian mangkir, maka jangan salahkan saya kalau saya akan melaporkan kalian!" ancamnya.


"Tidak bisakah ini di selesaikan baik-baik Pak, kami sudah berpisah dengan pasangan kami masing-masing," elak Azam.


"Benarkah Mas Ragil?" tanya pak Rizal padaku.


"Benar pak, secara agama saya memang sudah bercerai dari Hulya, kami sedang mengesahkannya secara negara," jelasku.


"Baiklah, mereka belum resmi berpisah dan saya juga tidak tau status bapak. Jadi jangan mengelak, bawa orang tua serta pasangan Anda besok, sebab akan kita putuskan secara kekeluargaan," ujar Pak Rizal tegas.


Kulihat Hulya dan Azam saling melempar pandangan, mungkin mereka bingung akan nasib mereka.

__ADS_1


"Silakan saudara Azam angkat kaki dari rumah ini, sekali lagi saya ingatkan jangan mangkir, kalau tidak Anda akan tau akibatnya," kecam Pak Rizal.


Azam keluar tanpa protes, bahkan berpamitan dengan kami pun tidak.


"Ya sudah Mas, saya pulang dulu, mas Ragil akan di sini atau ke mana?" tanya beliau sebelum pamit.


"Sebaiknya saya di sini dulu Pak, berjaga-jaga siapa tau ada yang hendak melarikan diri," sindirku.


Hulya menatapku kesal, tapi aku tak peduli. Pak Rizal juga berjanji akan meminta asisten rumah tangganya untuk menemani kami di sini.


Bukan apa, menurut beliau karena kami sudah bercerai, maka tidak di benarkan untuk tinggal bersama lagi.


Aku pun mengangguk setuju dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Setelah rumah kami lengang, Hulya mendekatiku. Kukepalkan kedua tangan yang kusembunyikan di saku celana.


Aku menahan godaan untuk menghajarnya. Sekilas ingatan tadi membuatku muak dan jijik padanya.


Dia menatapku dengan sorot mata sendu, tak tau lagi drama apa yang akan dia mainkan.


"Mas, kamu salah paham, yang sebenarnya terjadi bukan seperti yang kamu pikirkan," ucapnya.


"Aku tidak ingin bicara denganmu Hulya. Sungguh saat ini aku sedang sekuat tenaga menahan emosi agar tak menghabisimu," ancamku, lalu meninggalkannya.


"Tunggu Mas!" sergahnya.


Dia mengejarku saat aku akan menuju ke kamar. Hulya memegang lenganku erat sambil menangis.


"Hentikan dramamu Ya!" sentakku.


Kulepaskan cekalan tangannya dan tersenyum sinis.


"Aku bukan lelaki bodoh yang bisa kamu perdaya Ya! Harusnya kamu senang karena keinginanmu tercapai, bisa bersama dengan lelaki impianmu itu," cibirku.


Kutinggalkan dia yang mematung di depan kamarku.


Isakannya masih terdengar, tapi aku tak mengabaikannya. Nanti jika lelah juga dia pasti pergi, pikirku. Lebih baik kusiapkan fisik dan mental untuk pertemuan esok.


Ibu juga kuhubungi untuk datang ke sini, agar dia tau sebusuk apa menantu dan keluarga besannya.


Ibu sempat menolak sebab tak ada yang menjaga Saeba. Lalu aku berinisiatif meminta tolong pada saudara ibu untuk menjaga Saeba esok, tentu bukan dengan cuma-cuma.


Aku membayar mereka, oleh sebab itu saudara sepupuku mau menjaga Saeba.


.


.


Pagi menjelang, Pak Rizal sudah datang dengan salah satu staf desa karena jelas masalah ini menyangkut ketenangan warga.


Keluarga mertuaku juga hadir. Entah bagaimana Hulya meminta mereka untuk datang, aku pun tak peduli.


Sejak semalam, setelah menyambut dua orang yang ikut menginap di sini, aku memutuskan untuk segera tidur.

__ADS_1


Dua orang asisten rumah tangga Pak Rizal menolak tidur di kamar dan memilih di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Kami masih menunggu kedatangan Azam dan keluarganya.


"Tunggu, ini sebenarnya ada apa Pak?" tanya Abi pada Pak Rizal dan Perangkat Desa yang bernama Pak Abu.


"Perkenalkan Pak saya Rizal ketua Rt di sini dan ini Pak Abu sekretaris desa yang di utus oleh kepala desa untuk hadir di sini Pak," jelas Pak Rizal.


Mereka saling menjabat tangan mengenalkan diri. Mas Zhafran lalu menatapku dengan sinis.


Sikapnya sangat berubah, tak sebaik dulu, meski dia tau kesalahan ada pada adiknya tapi entah kenapa sepertinya dia selalu menyalahkanku.


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Abi lagi.


Beliau lantas memandangku seolah menuntut jawaban.


"Bisa kamu jelaskan Gil? Lama tidak pulang, kini kamu melibatkan orang lain dalam rumah tanggamu?" cibir Abi padaku.


"Kita masih menunggu seseorang lagi Abi, jadi bersabarlah," jawabku datar.


Abi mengeratkan rahangnya kesal karena mendengar jawabanku yang tak sesuai harapannya.


"Yang sopan kamu sama Abi, Gil!" sentak Mas Zhafran.


"Apa ada kalimatku yang salah?" cibirku dengan tersenyum sinis.


Kulihat Mas Zhafran mengepalkan kedua tinjunya. Abi lalu menyentuh bahu putra sulungnya, mungkin agar putranya itu tenang menghadapiku.


Tak lama Ibu datang menggunakan mobil Online yang sengaja kupesankan untuknya.


"Ada apa ini Ragil? Kenapa ramai sekali?" tanyanya bingung.


"Duduklah Bu, nanti juga ibu tau," ibu terlihat tidak nyaman. Bahkan dia terlihat canggung saat menyapa besannya.


"Ngga habis-habis kamu membuat masalah Gil? Kini apa lagi yang kamu lakukan?" ejek Mas Zhafran.


Aku tau dia sedang memancing amarahku dengan memojokkanku. Aku tak akan terpancing sebab tau kalau saja aku menghajarnya bisa bertambah panjang urusan kami nanti.


Aku paham mereka sudah terpojok saat ini, oleh sebab itu dia berusaha untuk mengalihkan masalah ini.


Sepertinya dia sudah tau apa yang akan terjadi nanti, sebab hanya dia yang terlihat gugup sejak awal kedatangannya.


Suara salam dari pintu membuat kami menoleh semua ke arahnya.


Suara laki-laki yang sudah kami tunggu, di ikuti dengan suara perempuan dan suara lainnya.


Ibu terlihat membelalak sampai memegang dadanya.


Ada apa dengan beliau?


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2