Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 93


__ADS_3

Di kediaman Tania, ibunda Farah itu tengah merasa heran dengan kedatangan keluarga kakaknya tak terkecuali juga dengan Sarah.


Keponakannya itu sempat drop saat suaminya meninggal waktu itu, tapi kini Tania merasa kalau keadaan Sarah terlihat cukup baik, meski tak bisa di katakan sehat, sebab penyakit seperti itu akan terus di bawa Sarah hingga ajal menjemput.


"Mas, mbak silakan duduk," tawar Tania yang berusaha bersikap ramah pada kakak serta iparnya.


Jika ingat kelakuan mereka kemarin waktu dirinya menjenguk Sarah, ingin sekali Tania menolak keberadaan keluarga kakaknya.


Pancaran rasa iri masih terlihat jelas dari tatapan mata Eriska padanya. Dia merutuki diri karena memilih pulang kemarin.


Andaikan dia mengikuti saran sang putri tentu dia tak akan bertemu dengan keluarga Tegar.


Namun Tania mencoba menepis prasangkanya, mungkin mereka hanya sekedar pamitan saja. Begitulah perempuan paruh baya yang masih cantik di usianya, mencoba menenangkan diri.


"Silakan di minum Mas, mbak," tawarnya lagi saat asisten rumah tangganya membawa suguhan untuk mereka.


"Kamu apa kabar Sar? Apa sekarang lebih baik?" tanya Tania pada keponakannya yang sejak tadi memilih diam.


Meski menggunakan riasan, wajah pucat Sarah tetap saja terlihat. Perubahan fisik wanita itu tak bisa dengan mudah di sembunyikan begitu saja.


Eriska dan Tegar saling melempar pandangan. Mereka memang memiliki tujuan saat datang menemui Tania.


Tegar berdehem untuk memancing pembicaraan. Benar saja, saat Tania tengah sibuk berbicara dengan sang putri, adiknya itu lantas menatap sang kakak.


"Ada apa Mas?" tanya Tania yang seakan paham jika sang kakak hendak mengatakan sesuatu.


"Begini Tan, kedatangan kami ke sini ingin berbicara sesuatu sama kamu," ujar Tegar gugup.


Tania memilih bungkam, sedikit cemas karena akhirnya mereka mengungkapkan maksud kedatangannya.


Melihat adiknya yang tak merespons, Tegar sadar jika permintaannya kelak mungkin akan mematik perdebatan.


Namun dia bisa apa? Selain menuruti permintaan sang istri juga demi kesehatan putrinya.


Melihat sang suami yang terlihat bingung mengutarakan maksudnya Eriska merasa kesal, tapi sebisa mungkin dia tahan.


Padahal sudah beberapa waktu lalu mereka sepakat membahas hal ini. Namun saat melihat sang suami yang terlihat enggan, membuat Eriska berpikir jika perbincangan mereka akan berakhir percuma.


Tidak, Eriska tak akan membiarkan itu terjadi. Apa pun yang telah mereka rencanakan kemarin harus terealisasikan.


Pikiran licik wanita itu tetap menyalahkan Tania yang sedikit banyak ikut andil akan penyakit yang di derita putrinya.


Gila memang, tapi seperti itulah Eriska, makanya Tania enggan berurusan dengan kakak iparnya itu sejak dulu.


"Kami akan kembali ke tempat tinggal kami ..." sela Eriska sambil menjeda kalimatnya dan menatap sang suami.

__ADS_1


"Tapi kami enggak mungkin bisa membawa serta Sarah ikut tinggal di sana," sambungnya lagi.


Luruh sudah ketegangan yang sejak tadi di rasakan Tania. Hal yang paling di takutkannya terjadi juga.


Keluarga kakaknya pasti akan menitipkan Sarah padanya kembali. Dia sudah menduga hal itu sejak kedatangan mereka tadi. Namun sedikit dia menepis pikiran itu supaya tidak membebani pikirannya.


Nyatanya ketakutannya justru terjadi. Dia merasa kesal bukan main pada sikap pasangan suami istri itu yang lagi-lagi tega membuang anak mereka.


"Maaf mbak saya enggak bisa!" tolak Tania tegas.


Sarah tak percaya mendengar penolakan sang tante. Walau dia sempat merasa khawatir dengan pemikirannya saat lalu, kini semua seakan terjawab, jika sang tante masih juga enggan kembali berurusan dengannya.


"Kamu kenapa egois seperti itu Tania!" bentak Eriska tak terima.


Tania tersenyum kecut, ternyata sikap arogan kakak iparnya tak pernah berubah, masih saja suka menyalahkan orang lain.


"Sabar mah, duduk dulu," titah Tegar pada istrinya.


"Maafkan ucapan kakak iparmu ini Tan. Maaf kalau permintaan kita mungkin terdengar mengesalkan bagi kamu. Karena kita enggak punya pilihan—"


Tegar mengusap lembut punggung tangan Sarah yang sejak tadi memilih diam sambil menahan isakannya.


Penolakan sang tante jelas melukai perasaannya. Padahal dia sangat tahu sang tante telah berubah banyak. Wanita yang sejak dulu merawatnya seperti enggan berurusan lagi dengannya dan keluarganya.


Namun dia bisa apa? Kondisinya memang tak memungkinkan tinggal seorang diri.


Tania menghela napas, dia sudah menduga alasan yang akan di ucapkan sang kakak padanya.


Mereka hanya berfokus pada diri mereka sendiri tanpa memikirkan dirinya. Egois sekali mereka memang.


"Lalu kalian mau meninggalkan Sarah yang kalian tau bagaimana kondisinya sama aku? Aku bukan orang tuanya. Kenapa kalian enggak tanya pendapatku dulu sebelum memutuskan. Memang kalian pikir hanya kalian yang memiliki kesibukan?" cecar Tania.


Biarlah dia di katakan kejam, dia tak mau di bebani merawat Sarah yang pastinya membutuhkan pengawasan ekstra.


Jika orang tuanya saja tak mau berkorban, untuk apa dia yang notabenenya orang lain harus capai-capai menjaganya.


"Maafkan tante Sar, bukan tante enggak mau merawat kamu. Kamu tau sendiri saat ini tante sibuk menggantikan Farah di kantor. Percuma juga kamu tinggal di sini jika pada akhirnya tante juga enggak bisa selalu memperhatikanmu—"


"Kamu tinggal bayar perawat untuk menjaga Sarah, yang penting dia tak tinggal sendirian," potong Eriska kesal.


Tania tersenyum tipis, dia sudah menebak maksud ucapan kakak iparnya.


Jadi mereka selain meminta tumpangan, mereka juga berharap dirinya yang akan menanggung biaya pengobatan Sarah, licik sekali pikiran keluarga kakaknya itu.


"Itu mbak punya pikiran untuk menyewa perawat," jawab Tania membalikkan ucapan Eriska.

__ADS_1


Eriska melengos kesal, ucapannya yang tiba-tiba justru mudah sekali di tebak oleh adik iparnya itu.


Tegar merasa kalah, sebaiknya dia jujur saja pada sang adik, dari pada pembicaraan ini berputar-putar tidak jelas, pikirnya.


Tania adiknya yang sejak dulu selalu tak tega dengannya, kini berubah. Mungkin sikap anak dan istrinya sudah membuat dia di ambang batas kesabarannya.


"Tan, selain tempat tinggal kami yang jauh dari akses rumah sakit, di sana juga masyarakatnya terlalu kolot. Bisa-bisa kami di usir oleh warga kalau membawa Sarah yang memiliki penyakit HIV. Meski enggak menular, kamu tahu bagaimana tanggapan orang tentang penyakit seperti itu."


"Lalu mas mau menyerahkan tanggung jawab merawat anak mas sama aku?" sindir Tania.


"Aku juga punya kehidupan mas, ada anak dan calon cucuku yang juga akan butuh perhatianku, jadi maaf, jawabanku tetap sama, aku enggak bisa membantu kalian. Lebih baik kalian melakukan seperti ucapan Mbak Eriska tadi yang memilih menyewa perawat untuk mengurus Sarah—"


"Kenapa enggak kamu aja tinggal di sini mbak, atau pindah di kota yang dekat dengan tempat tinggal kalian. Toh masalah seperti itu bisa di selesaikan dengan pemikiran seperti ini kan?" saran Tania.


"Aku paham betul kota besar di tempat kalian tinggal banyak fasilitas kesehatannya. Hanya menempuh jarak dua jam aja ke tempat kerja mas Tegar. Beres," sambungnya lagi.


"Tapi Tan, enggak semudah itu, bagaimana dengan biaya?" jawab Eriska gugup, dia mati langkah dengan saran Tania.


Bodohnya mereka tak sadar jika adik mereka adalah wanita pintar yang taj akan mudah tunduk dengan permintaan mereka. Jadi mereka sebaiknya jujur.


"Kenapa enggak bilang terus terang dari tadi kalau biayalah yang menjadi masalah kalian?" cibir Tania.


"Jadi ... Kamu mau membantu kami Tan?" tanya Tegar penuh harap.


"Kalian masih punya banyak harta benda, cobalah sekali-kali menggunakan apa yang kalian punya sebelum meminta tolong terus pada orang lain," elak Tania yang sudah mulai jengah dengah obrolan mereka.


Eriska merasa kesal karena Tania seperti menolak segalanya. Dia tak mau membantu merawat putrinya, juga tak mau membantu masalah biaya pengobatan.


"Kami uang dari mana Tania?"


"Masih ada rumah dan beberapa tanah yang kalian miliki," jawab Tania santai.


Tentu saja dia tau harta benda apa saja yang di miliki keluarga kakaknya serta harta benda Sarah.


Mereka memang sangat perhitungan sekali. Lebih baik mengamankan aset mereka dan memilih menyusahkannya.


Padahal Tania tak mungkin tinggal diam kalau memang mereka kesulitan ekonomi.


Sikap tamak mereka inilah yang membuat Tania malas bersikap baik pada keluarga kakaknya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2