
Keadaan mulai sedikit kondusif, Hulya atau pun keluarganya tak ada lagi yang menerorku. Tiba juga waktunya persidangan kami.
Aku dan Hendi pernah beberapa kali menemui seorang pengacara biasa yang berada di kota kami.
Setelah tau berapa besarnya tarif mereka, aku mengurungkan niatku. Bukan karena tak memiliki simpanan uang untuk membayar mereka.
Hanya saja aku harus bersiap jika akhirnya keluarga Hulya menuntut hutang ayah untuk segera di kembalikan.
Aku sudah berada di depan ruang sidang di pengadilan agama.
Belum ada sosok Hulya di sana. Mungkin dia mangkir dari panggilan sidang, baguslah, dari yang kupelajari, jika tergugat enggan hadir akan mempercepat putusan sidang.
Sayangnya, harapanku sirna kala Hulya datang bersama Mas Zhafran dan juga lelaki berjas, yang aku pikir dia seorang pengacara.
"Kamu tak akan bisa menang melawan kami Gil," ejek Mas Zhafran.
Perangai lelaki baik itu seketika berubah ketika aku tau ternyata dia mempunyai sikap yang buruk.
Aku diam saja mendengar ejekannya, tak mau terpancing tepatnya.
Aku dan Hulya duduk di depan hakim ketua, setelah nama kami di panggil untuk melakukan sidang.
Di dalam sini, aku hanya mengenalkan diri dan menjelaskan tentang permasalahan yang menjadi tuntutanku.
Sidang pertama agendanya adalah mediasi, jadilah aku dan Hulya di giring ke ruang mediasi.
Hanya kami bertiga yang masuk, sedangkan Mas Zhafran di minta untuk menunggu di depan.
"Mas Ragil, apa tidak bisa menimbang kembali keputusannya untuk berpisah?" tanya mediator.
"Tidak pak, saya yakin dengan keputusan saya," ucapku tegas.
"Bagaimana Mbak Hulya, apa mau menerima keputusan dari Mas Ragil?" tanya mediator pada Hulya.
"Saya menolak Pak, saya masih mau mempertahankan rumah tangga kami," ucapnya datar.
"Baiklah, kita baca tuntutan dari Mas Ragil ya. Di sini di katakan jika Mbak Hulya tengah mengandung anak orang lain, benarkah?" tanya mediator.
Hulya gugup lalu memandang pengacaranya, sepertinya dia meminta bantuan pengacara lewat tatapan matanya.
"Itu hanya asumsi tergugat saja Pak, memangnya beliau ada bukti atas tuduhannya itu?" sanggah pengacara Hulya.
Sial, sudah pasti aku akan di hadapkan oleh bukti dan saksi seperti yang pihak pengadilan pernah bilang padaku.
"Kami sudah pisah ranjang selama tiga bulan Pak dan saat ini istri saya telah hamil enam minggu, jelas itu bukan anak saya," jawabku berusaha tenang.
"Kalau memang mereka menuntut bukti kenapa kita tidak melakukan tes DNA saja?" tantangku.
Kulihat pengacara Hulya menarik napas panjang, mungkin sedang mengolah kata agar tak salah langkah.
"Bapak tau jika melakukan tes DNA pada janin memiliki risiko tinggi?" ucap pengacara pada mediator.
"Hanya itu bukti yang saya punya, kalau mereka mengelak, saya bisa apa?" jawabku tenang.
__ADS_1
"Benar kata Mas Ragil Bu Hulya dan Pak Fernandes, Bu Hulya harus membuktikan jika anak yang di kandungnya adalah anak Mas Ragil agar tuduhan mas Ragil bisa di patahkan," putus mediator.
Setelah mediasi yang alot dan gagal, kami kembali ke ruang sidang dan hakim memutuskan untuk kembali mengadakan sidang minggu mendatang dengan agenda membacakan saksi dan bukti dari kami.
"Tunggu Mas!" panggil Hulya mencegah langkahku.
Dia masih sama seperti terakhir kali kami bertemu, wajahnya semakin tirus tak bercahaya, bahkan lingkar matanya terlihat menggelap.
"Aku berikan kamu satu kesempatan lagi Mas, cabut berkas perceraian ini, atau kamu akan tau akibatnya!" ancamnya lagi.
"Apa kamu tak lelah terus mengancamku Hulya? Kamu kehabisan idekah hingga terus mengancamku dengan masalah hutang Budi?" cibirku.
"Baiklah kalau kamu menantangku Mas," ucapnya setelah itu dia berlalu meninggalkanku lagi.
.
.
Tak kuungkiri hatiku merasa puas akan sidang hari ini, setidaknya aku bisa melawannya tanpa pengacara.
Aku kembali ke toko untuk bekerja seperti biasa, Hendi sudah menungguku di depan sana.
"Gimana?" sambarnya tak sabar.
"Lancar alhamdulillah," jawabku dengan senyum terkembang.
"Jadi cari kontrakan?"
"Ada, ngga jauh dari sini, cuma lumayan juga harganya, tempatnya ok kok sesuailah sama harganya," jelasnya.
Sedang asyik bercerita dengan Hendi, lagi-lagi ibu meneleponku. Kali ini pasti Hulya melaporkan kejadian hari ini. Sengaja kuabaikan panggilan ibu, sebab aku malas bertengkar dengannya.
Berulang kali beliau meneleponku, karena tak mendapatkan jawaban dariku.
"Angkatlah, siapa tau penting!" ucap Hendi.
"Malaslah, pasti mau ribut karena sidang hari ini," desisku.
Kini giliran ayah yang meneleponku, aku terpaksa mengalah lagi dan mengangkat panggilannya.
"Halo Yah?" ucapku malas.
"Ragil! Bapakmu di tangkap polis!" ternyata ibu yang meneleponku menggunakan ponsel ayah.
Aku bangkit berdiri saking terkejutnya, ada apa hingga ayah di tangkap polisi? Jika masalah hutang, aku rasa polisi tak akan segampang itu menangkap ayah.
"Kenapa ayah di tangkap Bu? Apa ini karena laporan Abinya Hulya? Masalah hutang itu?" sambarku.
"Bukan Ragil, tolong kamu cepat datang, ibu ngga tau lagi harus bagaimana," ibu hanya menangis di seberang sana, membuatku semakin khawatir saja.
Baru saja aku duduk di mobil, ponselku kembali berdering, tertera nama Hulya di sana. Ini pasti ulahnya tak salah lagi.
"Ada apa Ya?" ucapku tajam.
__ADS_1
Dia terkekeh di seberang sana, "gimana kabar ayah Mas?" ucapnya santai.
"Apa ini ulah kamu Ya!" bentakku tak habis pikir.
"Tentu saja, aku kan udah bilang kartu As kamu ada pada keluarga kami Mas, turuti kami maka hidupmu akan kembali lancar," tukasnya.
Aku mengepalkan tangan kesal, tak menyangka jika dia akan sepicik ini. Masalah apa yang di lakukan oleh ayah hingga dia bisa terseret ke penjara.
"Itu belum seberapa Mas, aku bisa berbuat yang lebih gila lagi setelah ini," ancamnya lalu mematikan panggilan kami.
Sial! Dia makin menunjukkan taringnya. Wanita itu sangat picik!
Tak ingin terlalu lama membuat ayah menunggu aku segera meluncur ke rumah ibu.
Tiba di sana, aku di sambut dengan suara tangisan Ibu dan juga Saeba.
"BU! SAEBA?" panggilku saat keduanya tengah saling berpelukan di lantai.
"Kurang ajar kamu Ragil! Ini semua gara-gara kamu!" maki ibu padaku.
"Kembalikan ayah dan Mas Faisal Bang! Kembalikan mereka pada kami!" kini giliran Saeba yang memakiku.
Ayah dan Faisal? Ada apa ini sebenarnya?
"Apa maksudmu Sa?" tanyaku tak mengerti.
Dia lalu bangkit berdiri dan memukul dadaku hingga aku terhuyung ke belakang.
"Ayah di penjara! Mas Faisal pergi ninggalin Saeba, semua gara-gara Abang yang menggugat cerai Mbak Hulya! Kenapa Abang tega sekali terhadap kami Bang! Kenapa!" bentaknya di sertai tangisan.
Beginikah yang Hulya dan keluarganya lakukan? Jika mengenai Faisal yang meninggalkan Saeba aku tak merasa heran, sebab aku pernah mendengar sendiri jika adik iparku itu memang ingin meninggalkan Saeba.
Tiba-tiba Saeba luruh ke lantai lalu memeluk kakiku. Dia meminta aku mengembalikan Faisal padanya.
"Kalian tenang dulu, tolong ceritakan sama Abang ada masalah apa sebenarnya?" pintaku memohon.
Ibu menatapku tajam, sorot matanya menyiratkan kebencian yang begitu mendalam.
"Harusnya kamu diam saja, harusnya kamu menerima tawaran mereka. Kalau sudah begini, bagaimana kita bisa berdiri tegak menghadapi orang-orang Ragil? Kamu memang anak tak tau di untung!" maki ibu padaku.
"Ayah di laporkan atas kasus apa Bu? Hutang piutang?" potongku, karena lelah mendengar cacian ibu yang selalu menyalahkanku.
Dia melengos membuang muka, kenapa tak ada yang mau menjawab? Terpaksa aku memutuskan untuk menemui bapak di kepolisian demi mencari jawaban.
"Baiklah, Ragil akan ke kantor polisi. Untuk masalah kamu Saeba, Abang akan bicara dengan Faisal nanti," sambarku.
.
.
.
Tbc
__ADS_1