
Pagi ini Sarah tiba di kantor dengan senyum cerahnya. Farah yang melihat itu hanya mendengus, benar pikirannya kalau dia tak perlu lagi harus mengkhawatirkan sepupunya itu, toh dia pasti akan seperti ini setelah bertengkar dengan suaminya.
"Kamu kenapa Far?" tanya Sarah saat melihat Farah menatapnya sekilas lalu tersenyum tipis.
Ingat, Sarah adalah pengintai terbaik, oleh sebab itu sekecil apa pun ekspresi Farah pasti akan terlihat olehnya.
Hanya Farah saja, tidak berlaku untuk orang lain. Karena Sarah hanya lebih sering memperhatikan Farah.
"Ada apa emang?" tanya Farah datar.
"Kamu senyum ngejek aku apa emang ada sesuatu yang buat kamu seneng?" tebaknya.
"Lagi mikirin proyek ini kalau berhasil, hasilnya lumayan. Abis ini aku mau liburan ma mamah," jawab Farah tak sepenuhnya berbohong.
Tak mengherankan bagi Sarah. Baginya, sepupunya yang memang gila kerja itu memang akan menikmati hasilnya setelah pekerjaannya selesai.
Lagi-lagi hanya dengan ibunya saja Farah pergi.
"Aku apa bulan madu aja ya? Selama menikah aku belum bulan madu," monolog Sarah yang tak di tanggapi oleh Farah.
Keduanya kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing di ruangan mereka sendiri-sendiri.
Farah yang memang atasan di perusahaan itu memiliki ruangan yang cukup terbuka. Hanya sekat kaca yang menjadi pembatas antara dirinya dan karyawannya.
Oleh sebab itu apa pun aktivitas mereka satu sama lain bisa saling mengetahui.
Tiba-tiba Sarah melihat ke arah Farah yang sedang tertawa sambil menelepon. Wajah gadis itu bersemu merah. Sarah sangat penasaran dengan apa yang di lakukan Farah hingga tanpa sadar dia bangkit dan mendekati ruangan atasannya.
Farah yang melihat kedatangan Sarah segera mematikan panggilannya.
"Ada apa Sar?" tanya Farah bingung.
Sarah menggigit bibirnya. Sudah lama dia tak seperti ini, merasa ingin tau apa yang sedang di lakukan sepupunya. Dia yakin ada yang di sembunyikan oleh Farah dan dia harus tau itu.
"Aku liat kamu tertawa-tawa tadi sama siapa?" tanyanya jujur.
Farah benar-benar kesal karena menurutnya penyakit ingin tahu Sarah kembali lagi.
"Ya ampun Sar, kamu ke sini cuma mau tanya itu? Sama siapa aku ngobrol kayaknya bukan urusan kamu deh Sar. Aku punya kehidupan pribadi Sar, jadi please, ngga semua yang aku lakuin kamu harus tau!"
Keluh Farah hingga dia memilih mengalihkan pandangannya ke layar tipis di depannya.
Sarah yang tak terima lantas memilih masuk dan duduk di hadapan sepupu sekaligus atasannya.
"Kok kamu gitu sih Far! Aku ini selain sepupu kamu aku juga kan sahabat kamu. Kita saling berbagi dan melindungi, aku takut kamu salah jalan," jelas Sarah.
Farah mencebik mendengar ucapan Sarah. Dia menggerutu dalam hati menyanggah kalau dirinya bukan anak kecil.
__ADS_1
Justru Sarahlah yang terlalu posesif tidak jelas menurutnya.
"Sahabat saling mendukung Sar, bukan mengekang kebebasan sahabatnya!" sindirnya.
"Kamu berubah Far, aku ngga yakin, tapi kupastikan siapa pun yang merubahmu seperti ini dia sangat buruk," kecam Sarah.
Setelah mengatakan hal itu dia lalu pergi meninggalkan ruangan Farah dan kembali ke mejanya sendiri.
Entah kenapa Sarah merasa jika semuanya karena Ragil, sebab hanya lelaki itu yang belakangan ini dekat dengan Farah, meski itu menyangkut pekerjaan.
Oleh sebab itu Sarah memutuskan untuk menemui Ragil di kantornya saat ini juga.
"Far, izin ya aku ada perlu," ucapnya tanpa mau menunggu jawaban Farah.
Farah hanya bisa mendesah melihat kelakuan sepupunya. Meski aneh dia memilih mengabaikannya.
.
.
"Permisi Pak, ada Bu Sarah dari kantor CTX ingin bertemu Bapak," ucap Meilia.
"Ada apa ya?" monolognya.
"Ya udah suruh beliau masuk," putus Ragil.
"Mei buatkan suguhan untuk Bu Sarah ya," pinta Ragil begitu keduanya duduk.
"Ada apa ya Bu Sarah?" Ragil mengawali pembicaraan.
"Santai aja Mas Ragil, saya ke sini bukan mau bahas kerjaan kok. Tapi ini tentang Farah," ujarnya memberi tahu.
"Baiklah, ada apa emangnya Mbak Sarah?"
"Kalian sedang dekat ya?" ucap Sarah tajam.
"Maksudnya?" tanya Ragil pura-pura bingung.
"Ada sesuatu yang harus kamu tau tentang Farah," ucap Sarah serius.
Ragil masih berusaha mendengarkan apa yang coba ingin di sampaikan oleh Sarah.
"Dulu dia itu punya tunangan, udah mau menikah malah lalu di tinggal kabur," lirihnya.
Ragil masih bergeming, tapi dari situ dia bisa menebak sifat Sarah yang di rasa terlalu ikut campur. Entah apa maksud wanita itu, tapi Ragil tak akan begitu saja mendengarkan apa kata Sarah tentang Farah.
Farah, harusnya kamu hati-hati dengan saudarimu sendiri, aku mencium keegoisan pada diri Sarah. Dia ternyata licik ...
__ADS_1
"Mas udah tau?" tebak Sarah karena melihat Ragil yang sedari tadi bersikap biasa saja.
Ragil mengedikkan bahu, "kami hanya membicarakan masalah pekerjaan aja Mbak Sarah, di sini saya hanya sedang mendengarkan Anda saja. Meski saya ngga tau apa tujuan Anda bercerita seperti ini," sindir Ragil.
Sarah merasa gugup, mendadak dia bingung apa harus melanjutkan ceritanya. Sebab yang dia tangkap, sepertinya Ragil justru menganggapnya buruk. Berbeda dengan para lelaki yang dulu mendekati Farah yang bisa dia kacaukan pikirannya.
"Bukan begitu. Aku senang kalau akhirnya Farah bisa bertemu dengan pendamping hidupnya. Hanya aku ingin memastikan kalau lelaki itu haruslah lelaki baik-baik," elak Sarah.
"Semenjak kejadian itu dia jadi gila kerja. Aku tau semua dia lakukan untuk mengobati sakit hatinya," sambung Sarah.
"Saya rasa Farah adalah wanita dewasa yang sangat memperhitungkan segalanya, dia bukan remaja labil yang akan mengambil keputusan tanpa pikir panjang," lagi-lagi ucapan Ragil di rasa telah menyindirnya.
"Maksud Mas Ragil? Kamu lagi nyindir saya?" jawab Sarah tak terima.
Ragil hanya bisa tersenyum dan menggeleng, orang pasti akan merasa langsung tersinggung jika merasa.
"Kita lagi ngga ngomongin Mbak Farah kan? Jujur saya juga ngga tau maksud Mbak mengatakan tentang kehidupan Farah. Saya rasa itu melanggar privasi beliau," balas Ragil telak.
Sarah berusaha tenang, dia tau Ragil agak berbeda dengan laki-laki lain yang dekat dengan Farah.
Namun dia pastikan kalau Ragil pun tidak akan bisa mendapatkan Farah.
"Aku hanya ingin kalian tahu tentang masa lalu masing-masing, aku ngga mau nyakitin Farah dengan memberitahu alasan mantan tunangannya itu pergi," ucapnya.
"Tapi, kamu harus tau seperti apa Farah sebenarnya," lanjutnya.
.
.
Sepeninggal Sarah, Ragil berdiam diri di mejanya sambil menopang kedua tangan di depan wajahnya.
Apa yang di jelaskan oleh Sarah membuatnya tak habis pikir, mengapa Sarah harus memberitahunya hal seperti itu.
Ragil jadi berpikir mungkinkah hal ini yang menjadi alasan Farah tak ingin agar Sarah mengetahui hubungan mereka?
Lalu apa yang harus dia perbuat? Segala pikiran berkecamuk di kepala Ragil.
Dia bukan orang yang akan terpancing karena ucapan seseorang, tak peduli masa lalunya, selagi mereka baik itu tak jadi persoalan.
Namun apa hanya bisa sesederhana itu?
.
.
.
__ADS_1
Tbc