Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 39


__ADS_3

Aku memperhatikan sekilas pemandangan di ruang tamu ini. Ada banyak foto berjejer di sana.


Aku yakin wanita dalam foto yang bersanding dengan pak Heru adalah istrinya. Namun tak tampak sosok dia di sini.


Tak lama Pak Heru datang membawa nampan berisi suguhan untukku.


"Terima kasih Pak, harusnya bapak ngga usah repot-repot," ujarku.


"Ngga papa, karena bapak yakin obrolan kita akan panjang," jawabnya dengan senyum hangat.


"Siapa namamu tadi? Maaf bapak lupa," tanyanya lagi.


"Saya Ragil Pak," ulangku.


"Oh iya Mas Ragil ingin tau masalah bapaknya?" tanyanya langsung.


Aku mengangguk, memang itulah tujuanku datang ke sini mencari tahu masalah mereka.


Pak Heru menarik napas panjang sebelum membuka suara.


"Maafkan Bapak. Mungkin itu yang bisa Bapak katakan saat ini," ucapnya.


"Katanya dulu Bapak pernah melaporkan ayah lalu berakhir damai, saya ingin tahu Pak, kenapa sekarang bapak melanjutkan laporannya lagi?" tuntutku.


"Saya terpaksa Mas Ragil, karena dulu saya memiliki perjanjian dengan Pak Afdhal tentang permasalahan Bapak dan Ayahmu," jawabnya.


Aku belum paham ke mana arah pembicaraan ini. Makanya aku memilih diam dan mendengarkan.


"Pak Afdhal, membantu Ibnu agar bisa membayarkan ganti ruginya pada saya. Namun di belakangnya, beliau mendatangiku dan dia meminta kami membuat surat perjanjian, kalau suatu saat dia membutuhkan bantuanku maka aku bersedia melaporkan lagi kasus ini," jelasnya.


Aku terkejut karena ternyata sikap mertuaku yang seolah menolong menyimpan rencana yang licik untuk bisa dia gunakan di kemudian hari, seperti hari ini misalnya.


"Bukankah ini termasuk penipuan Pak?" sergahku kesal.


"Saya tak punya pilihan, saya benar-benar membutuhkan uang untuk mengobati istri saya, jadi saya minta maaf, semuanya sudah sesuai perjanjian dan tak bisa di ganggu gugat," jawabnya.


"Saya bisa melaporkan kalian atas tindakan pemerasan," kecamku.


Beliau terkesiap, "pemerasan bagaimana? Pak Afdhal yang memberikan uang ganti rugi pada saya, bukan ayah Anda, jadi dari mananya saya memeras ayah Anda?" jawab beliau frustrasi.


"Saya tetap akan mengusut kasus ini, karena di sini ayah saya di permainkan oleh kalian," ancamku.


"Silakan Mas, saya cuma mengatakan ini percuma, karena syarat damai dari kami berada di luar pihak kepolisian," ucap Pak Heru tenang.


Aku mendengus, mungkin benar apa yang beliau katakan, di sini ayahku dan Pak Heru sama-sama orang yang terjebak oleh situasi yang di ciptakan oleh ayah mertuaku sendiri.


Beliau memang mudah sekali memanipulasi keadaan seperti ini, benar kata ayah jika lawanku adalah orang-orang yang licik.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan Pak?" tanyaku, siapa tau beliau bersedia memberikan solusi padaku.


Harusnya beliau marah padaku, karena aku adalah anak dari orang yang telah menipunya. Namun beliau justru menyambutku dengan ramah dan malah memberitahu hal yang sebenarnya.

__ADS_1


Aku tak tau apa yang sedang di sembunyikan olehnya atau yang terjadi sebenarnya. Karena hanya mereka saja yang tahu masalah sesungguhnya.


"Cara satu-satunya adalah dengan membayar uang yang di berikan oleh Pak Afdhal pada saya," ujarnya.


"Berapa hutang ayah saya pada beliau Pak?" tanyaku karena memang hanya itu satu-satunya cara.


Jika aku memberikan uang ganti rugi yang harusnya ayah berikan dulu pada pak Heru, masalah ini pasti akan selesai.


"Satu miliar Mas," jawabnya membuat jantungku berdebar sangat kencang.


Angka yang begitu fantastis, angka yang hanya bisa aku bayangkan. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebesar itu saat ini.


"Saya ngga tau kalian sedang terlibat apa dengan beliau, tapi saya katakan, hati-hatilah, ternyata beliau sangat picik dan bisa memakai cara-cara licik demi memuluskan keinginan mereka," sambungnya.


Untuk satu itu aku sepakat dengan pak Heru, hanya saja aku tak habis pikir, usaha apa yang membuat ayah bisa menipu beliau sebesar itu.


"Maafkan saya Pak, saya mau tanya, memang kalian terlibat bisnis apa hingga harus menggunakan uang sebesar itu?" tanyaku.


"Entah bisnis apa yang ayahmu tawarkan pada kami, dia hanya bilang kalau kami bisa mendapatkan keuntungan besar jika mau berinvestasi," jawab beliau.


"Ini semacam MLM mas, di mana kami di haruskan membawa anggota baru, jadi seharusnya ini bukan hanya kesalahan beliau tapi atasan Pak Ibnu yang kabur entah ke mana."


"Saya yang menjadi bawahan pak Ibnu dimintai pertanggung jawaban para anggota yang menagih janji kami. Jadi terpaksa saya melaporkan kasus kami ke pihak kepolisian. Dan pak Ibnu yang menjadi tersangkanya, karena di anggap kaki tangan atasannya," sambung Pak Heru.


Ah, ini makin rumit, kalau begini harus bagaimana? Tapi mengapa aku bahkan tak tau kasus ini sama sekali?


Ayah benar-benar menutup rapat permasalahannya padaku.


“Apa Bapak tau siapa atasan Ayahku?” beliau menggeleng, dia sama sekali tidak pernah tau seperti apa orang yang katanya pemilik bisnis itu.


"Ya sudah Pak, saya pamit undur diri," ucapku lesu.


"Iya Mas Ragil, temui saja Pak Afdhal, siapa tau beliau mau mengalah, saya tergantung beliau, kalau beliau bilang berdamai, maka saya akan mencabut laporan ini lagi, sebab ini sudah yang ke dua kalinya dan tak mungkin suatu saat saya bisa mengajukan lagi, begitu kata petugas yang berwajib," jawabnya.


Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum, tentu saja itu yang mereka harapkan, aku datang dan meminta ayah di bebaskan, lalu mencoba menekanku agar tak bercerai.


Tubuhku sangat lelah, masalah ini sangat pelik hingga menguras habis tenagaku.


Dalam perjalanan pulang ke rumah ibu, aku singgah di sebuah restoran untuk makan.


Aku khawatir jika tak bisa makan kalau memaksakan pulang saat ini juga, sebab aku yakin ibu akan mencecarku tentang nasib Ayah.


Di sana aku tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang dulu pernah pulang bersama Hulya, tapi aku lupa siapa namanya.


Ingin menyapa tapi aku sungkan karena takut kalau dia juga sudah lupa padaku.


"Pak Ragil?" tiba-tiba ada suara yang memanggilku.


Aku lalu mendongak, ternyata wanita itu masih mengenaliku.


Aku pun bangkit berdiri demi menyambutnya. "Iya Bu ..." jawabku kaku karena malu.

__ADS_1


"Saya Farah, atasannya Sarah," jelasnya.


"Iya Bu Farah, maaf saya sedikit lupa," jawabku malu.


"Sendiri?" tanyanya dan melihat ke sekeliling.


"Iya, Bu," jawabku singkat.


"Boleh saya gabung di sini?" pintanya dan hanya kubalas dengan anggukan.


"Sedang apa di kota ini Pak?" tanyanya membuka perbincangan.


"Rumah orang tua saya di sini," jawabku jujur.


"Oh jenguk orang tua ya?" itu pernyataan, bukan pertanyaan.


"Iya Bu."


"Panggil saja saya Farah Pak Ragil," pintanya.


Aku merasa sungkan jika harus memanggil nama saja, sebab kami tak seakrab itu.


"Bagaimana kabar Bu Hulya?" tanyanya memecah keheningan di antara kami.


Ternyata dia banyak berbicara tak sekaku dan sedingin saat pertama kali kami bertemu.


"Baik," jawabku agak malas.


Dia lalu menghela napas, "maaf kalau ini terkesan lancang, apa rumah tangga kalian baik-baik saja?" tanyanya kemudian.


Aku terpaku sesaat, mendengar pertanyaan Farah membuatku bertanya-tanya apa dia tau sesuatu tentang kondisi rumah tangga kami?


"Saya ini sepupu jauhnya Sarah. Dulu sekali saya sempat tak menyetujui hubungan Sarah dengan Azam," ucapnya tiba-tiba.


Aku memilih diam mendengarkan, "aku merasa kalau Azam itu bukanlah lelaki baik-baik, tapi semuanya berubah, Azam sepertinya bekerja keras membuktikan diri pada orang tua Sarah, kalau dia pantas bersanding dengan anaknya," sambungnya.


"Hingga pada kenyataannya dia harus berurusan dengan istri Anda. Terlihat ada rasa tak biasa yang di ungkapkan oleh Bu Hulya pada Azam. Kami terus mendesaknya jujur, ada hubungan apa antara mereka, tapi Azam mengelak, bahkan berani bersumpah jika mereka tak pernah sekali pun memiliki hubungan."


"Aku sempat khawatir dan meminta Sarah untuk mengurungkan niatnya menikah dengan Azam, sayangnya dia menolak dan mereka tetap memutuskan menikah. Bahkan gilanya, Sarah yang banyak mengeluarkan uang," ucapnya sambil terkekeh menertawakan sikap sepupunya.


Aku hanya tersenyum menanggapi, tak tau harus menjawab apa.


"Rasanya kali ini rumah tangga mereka seperti sedang tertimpa masalah dan aku tak tau apa itu, sebab Sarah semakin tertutup dengan kehidupan pribadinya," sambungnya.


"Namanya rumah tangga jadi wajar ada sedikit masalah Bu," jawabku berusaha menengahi.


"Mungkin, tapi aku tak akan tinggal diam kalau Bu Hulya kembali merecoki mereka lagi. Karena entah kenapa, aku merasa ini ada kaitannya lagi dengan istri Pak Ragil," kecamnya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2