
Sore di hari libur Ragil, dirinya tengah berbincang hangat dengan kedua orang tuanya.
"Jadi ... Pak Afdhal itu mantan mertuamu?" tanya Tyo di sela-sela obrolan mereka.
"Iya Pah," jawab Ragil.
Maya merasa, ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah niatnya.
"Gil?" panggil Maya lembut sambil menggenggam tangan putranya.
Ragil pun menoleh dan menjawab panggilan sang ibu.
"Ada yang mau mamah omongin," lanjut Maya.
Ragil diam mendengarkan sambil menebak-nebak dalam hati apa yang hendak ibunya itu katakan.
"Mamah mau ngenalin kamu sama anak temen mamah, mau ya?" pinta Maya penuh harap.
Ragil mendesah, jika boleh berkata jujur, tentu saja dia ingin menolak permintaan sang ibu.
Sungguh perjodohan sedikit membuatnya trauma, dia ingin menemukan jodohnya sendiri tanpa harus di jodoh-jodohkan.
"Kamu kelihatan ngga seneng?" tebak Maya saat melihat raut wajah putranya sedikit muram.
Ragil lantas menggenggam kedua tangan sang ibu sebelum menjawab.
"Maafkan Ragil Mah. Bukan mau menolak, tapi ... Ragil sedikit agak trauma dengan yang namanya perjodohan," jujur Ragil.
"Apa kamu menikah dengan anaknya Pak Afdhal karena perjodohan?" tebak Tyo.
"Iya Pah, awalnya semua baik-baik aja, Ragil kira juga Hulya menerima perjodohan itu, sayangnya semua hanya keterpaksaan, dia sudah mencintai orang lain sebelum itu. Makanya Ragil takut kejadian itu terulang kembali," jawabnya.
Maya mengerti dengan keengganan sang putra untuk mengenal anak sahabatnya, mungkin karena masa lalunya.
"Begini aja. Kalau menurut mamah anaknya temen mamah itu baik, baik banget malah. Teman mamah itu juga khawatir karena anaknya ngga pernah sekali pun memperkenalkan laki-laki sama dia karena ketraumaan yang sama dengan kamu," jelas Maya.
"Maksud mamah dia juga seorang janda?" tanya Ragil penasaran.
"Bukan. Nasibnya lebih mengenaskan dari pada kamu. Tunangannya kabur saat mereka hendak menikah," jelas Maya semangat.
"Bukannya itu berarti kemungkinan dia masih memendam rasa untuk mantan tunangannya?"
Ragil tentu tak ingin terjebak lagi dengan masalah yang sama, yaitu masa lalu yang belum kelar.
"Mamah ngga maksa kamu harus langsung menikah Gil. Mamah hanya berharap coba kenalan dulu sama dia, kalau cocok ya alhamdulillah, kalau enggak ya emang ngga cocok, mamah juga ngga akan maksa, sayang," tawar Maya.
Karena enggan menolak keinginan sang ibu akhirnya Ragil menyetujui tawarannya.
Meski dalam hati dia tak terlalu berharap banyak, setidaknya sang ibu tak boleh memaksanya kalau memang dia tak cocok dengan anak teman sang ibu.
__ADS_1
.
.
Sesuai kesepakatan, kini Maya dan Ragil sudah berada di sebuah restoran tempat mereka bertemu.
Hanya ada mereka berdua, sebab Tyo merasa kurang enak badan dan memilih istirahat di rumah.
Lagi pula itu cuma acara perkenalan saja, jadi Tyo merasa dirinya tak perlu hadir.
Tak lama seorang wanita paruh baya dan seorang gadis datang bersamaan. Maya segera menyambut keduanya.
Ragil yang sejak tadi sibuk berkirim pesan dengan Meilia tak begitu memperhatikan tamunya.
Hingga saat sang ibu memintanya bangun, Ragil sedikit terkejut karena wanita yang hendak di kenalkan dengannya sudah dia kenal sejak lama.
"Gil, kenalin ini tante Tania sama anaknya Farah," ucap Maya mengenalkan keduanya.
Ragil menyalami Tania sambil mengenalkan dirinya, sedangkan ke Farah lelaki itu hanya tersenyum saja.
"Kami udah saling mengenal Mah! Kan perusahaan kita kerja sama," jelas Ragil.
"Oh begitu ya, baguslah. Mamah kira kamu belum ketemu Farah, biasanya yang berurusan sama pengiklanan kan Pak Dinar," jawab Maya.
"Iya kemarin aku memang ingin tahu semuanya Mah, makanya minta pak Dinar untuk mengenalkan aku sama pemimpin perusahaan CTX."
Keempatnya terlibat perbincangan santai. Ragil yang sudah lama mengenal Farah merasa menyambung dengan gadis itu.
Kini dia tau kalau Farah tak sekaku dulu. Gadis itu terlihat santai dan sangat berbeda menurutnya.
"Kalau begitu, kalian jalanlah berdua," pinta Maya tiba-tiba.
Tania juga setuju dengan usulan sahabatnya, dia sendiri memang tak mempermasalahkan status Ragil yang seorang duda.
Baginya, asal ada seseorang yang kelak menjaga putrinya dia sudah bahagia dan janji pada mendiang suaminya bisa dia tepati.
"Mah, apaan sih!" elak Farah malu sekaligus kesal dengan ibunya.
"Loh kenapa? Kalau kita barengan terus, yang ada mamah sama Tante Maya aja ngobrol," elak Tania.
Sebenarnya ini kali pertama Maya bertemu dengan Farah, sebab dirinya dan Tania memang sering bertemu tapi tidak membawa anaknya, sebab Tania tahunya saat itu Maya tak memiliki putra.
Jadilah awal mula pertemuan Maya dan Farah di kediaman Ragil dulu tak begitu di ketahui oleh keduanya jika mereka saling mengenal orang yang sama.
"Terus mamah pulangnya gimana?" tanya Ragil.
"Ishh, kamu tenang aja, tante kan bawa mobil Gil. Tante minta kamu antar Farah sampai rumah nanti ya," pintanya.
Ragil hanya bisa mengusap tengkuknya karena tak mungkin menolak kedua wanita paruh baya yang jelas-jelas ingin mereka bersama.
__ADS_1
"Ayo Far!" putus Ragil akhirnya.
Keduanya bangkit dan berpamitan lalu pergi bersama.
"Hati-hati ya, jangan macam-macam loh!" ejek Maya sambil tertawa cekikikan.
"Maafin mamah aku ya Far," ucap Ragil saat mendengar ucapan ibunya.
"Ah enggak papa Gil. Emang kita mau ke mana ini?" tanya Farah saat keduanya sampai di parkiran.
Ragil membukakan pintu untuk Farah, membuat gadis itu sedikit tersipu, karena jujur sudah lama dia tak merasakan perhatian dari lawan jenis.
"Terserah kamu, maunya ke mana?" balas Ragil santai.
"Kamu tau tujuan pertemuan ini Gil?" tanya Farah langsung, dia tak ingin berharap. Menurutnya perjodohan yang di lakukan orang tua mereka di rasa terlalu berlebihan.
"Ya, kata mamahku untuk saling mengenal dulu," jawabnya sambil terkekeh.
"Sayangnya kita udah saling kenal Kan?" sambungnya.
Farah mengangguk setuju. "Hanya sebatas kenal, kamu pasti ngga terlalu tau bagaimana aku, begitu juga aku ke kamu," sambar Farah.
"Lalu? Apa kita harus saling mengenal lebih intens? Kamu paham betul bagaimana masa laluku. Jujur saja aku agak khawatir dengan statusku."
Bagi Ragil Farah memang gadis yang baik meski sedikit kaku, tapi tak masalah, menurutnya mungkin itu cara dia melindungi dirinya.
"Aku ngga masalah sama status seseorang. Hanya saja yang harus kamu tau, aku sedikit trauma dengan laki-laki," jujurnya.
Farah tidak ingin menyembunyikan apa pun pada Ragil. Jika boleh jujur, dia sudah menyimpan rasa pada lelaki itu sejak lama, hanya saja dia selalu membentengi diri bahwa posisi Ragil saat itu masih suami seseorang, meski saat itu mereka dalam proses cerai.
"Boleh aku tau?" pinta Ragil tak memaksa jika memang Farah tak nyaman.
Terlihat Farah menarik napas sebelum menceritakan masa lalunya yang menyakitkan.
"Kamu tau bahkan sampai saat ini aku penasaran kenapa dia meninggalkan aku," jelas Farah apa adanya.
"Maksudnya?"
"Dia meninggalkan aku tanpa penjelasan Gil. Aku tak tau apa kesalahanku hingga dia memperlakukanku seperti itu."
Air mata Farah seketika jatuh jika dia mengingat masa lalu yang menyakitkan itu.
.
.
.
Tbc
__ADS_1