
Ragil mengabari Tania dan Maya bahwa saat ini sang istri tengah mengandung.
Tania mengucap syukur tiada henti selama perjalanan menuju rumah sakit, sedangkan Maya yang sedang berada di luar negeri hanya bisa mengucapkan selamat pada anak dan menantunya.
Dia bahkan menanyakan hendak di bawakan apa saja saat pulang nanti pada Farah, sebagai ucapan terima kasihnya yang tiada tara.
Namun di tolak oleh Farah. Baginya doa kedua orang tua mereka adalah hadiah terbaik baginya.
Maya dan Tyo terharu, dulu mereka pernah pasrah dan merasa iri saat melihat rekan mau pun keluarga yang anak dan cucunya berkumpul.
Kini mereka bisa merasakan sendiri dan tahu ternyata perasaan bahagia itu sangat sederhana, tidak melulu berhubungan dengan uang.
Tania mengecup kening sang putri meluapkan rasa bahagianya.
"Selamat ya sayang, jaga diri baik-baik. Kamu ini kelelahan apa gimana? Kok masih pakai baju kerja?" heran Tania.
Ragil akhirnya menceritakan kejadian yang mereka alami pagi tadi hingga membuat Farah berakhir di rumah sakit.
"Astaga! Keterlaluan itu anak, memang harus di beri pelajaran!" kecam Tania.
"Mamah yang tenang, jangan mikirin masalah Sarah, biar nanti Ragil yang urus," jawab Ragil.
"Kamu enggak akan bisa urus dia Gil, biar mamah aja yang beri Sarah pelajaran. Bagaimana pun ini urusan keluarga mamah, jadi mamah mohon kamu jaga aja Farah dan anak kalian baik-baik," pinta Tania.
.
.
Keesokan paginya, Tania sudah berada di perusahaan milik Farah. Sebelum Farah turun tangan menggantikannya, dialah yang memimpin perusahaan itu sepeninggal suaminya.
Setelah di rasa sang putri mampu, Tania lantas memilih bekerja di balik layar.
Tak di sangka ternyata ada tikus kecil yang berusaha menyakiti putri dan calon cucunya. Tentu saja Tania tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Sarah sudah di anggap sangat keterlaluan dan membahayakan putrinya. Sebagai seorang ibu, tentu Tania akan menunjukkan pada sang keponakan jika dia tak bisa main-main dengan keluarganya.
.
.
Sarah datang dengan riang seperti biasa. Dia yakin tak mungkin Farah akan bekerja hari ini.
Dia benar-benar tak merasa bersalah telah menyakiti Farah. Baginya itu adalah ke tidak sengajaan dan menganggap kalau Farah terlalu lemah saja.
__ADS_1
"Mbak Sarah di tunggu di ruangan Bu Farah," ucap salah satu pegawai Farah.
"Hah! Farah? Yang benar kamu! Apa dia berangkat kerja?" cecar Sarah.
Karyawati tersebut enggan memberitahu pada Sarah tentang siapa yang memanggilnya, sebab memang permintaan Tania.
"Sebaiknya mbak segera ke sana, soalnya udah di tunggu dari tadi," elak karyawati tersebut memberitahu.
Sarah lantas mendengus sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju ruangan Farah.
Dia merasa heran karena setahu dirinya, dokter kemarin meminta Farah untuk istirahat dulu demi melihat perkembangan janinya.
"Far, kamu udah baikkan? Maafkan aku kemarin ya, kamu tau kan aku enggak sengaja!" ucap Sarah santai.
Tania sengaja membelakangi pintu masuk ruangan putrinya untuk memberi kejutan pada keponakannya.
Sarah pun merasa heran karena Farah tak menyambutnya. Dia berusaha bersikap santai meski dia yakin Farah mungkin akan berkata ketus padanya.
Namun semua tak sesuai pikirannya, Farah bahkan tak juga berbalik ke arahnya.
Saat kursi kebesaran milik Farah berbalik, betapa terkejutnya Sarah ternyata sang bibi yang duduk di sana.
"Tante?" gagapnya.
Tania menatap tajam keponakan yang dulu dia rawat seperti anaknya sendiri. Tak pernah sekali pun dia membeda-bedakan antara Farah dan Sarah.
"Duduklah Bu Sarah," pinta Tania formal.
Sarah merasa sangat gugup, terlebih lagi panggilan yang di ucapkan sang bibi sangatlah formal.
"Ini surat pemecatan Anda," ucap Tania tanpa basa-basi.
"Loh tante, apa-apaan ini!" balas Sarah tak terima.
"Panggil saya Bu Tania. Di sini saya atasan Anda, jadi tolong bedakan mana hal pribadi mana pekerjaan," sindir Tania.
Sarah menelan salivanya kasar, dia tak menyangka sang bibi akan melakukan hal yang demikian kejam menurutnya.
"Memang apa kesalahan saya Bu Tania?" tanya Sarah memberanikan diri.
"Anda sudah melakukan kejahatan pada Bu Farah. Jadi pilihannya hanya dua, menerima surat pemecatan ini, atau berakhir di meja hijau," jelas Tania.
"Kok begini Bu Tania? Tadi Anda bilang harus membedakan urusan pribadi dengan pekerjaan, mengapa sekarang Anda menyalahi ucapan Anda sendiri?" sindir Sarah balik.
__ADS_1
"Ini kejahatan yang di lakukan di kantor. Ada rekaman CCTV yang bisa di buktikan pada pengadilan kalau Anda bersikeras mengelak."
"Tante aku mohon, ini cuma salah paham aja," jawab Sarah lemah. Dia tak mau kehilangan pekerjaan ini begitu saja.
Tak ada tempat yang senyaman perusahaan Farah. Sebab sepupunya itu tak memperlakukannya sama dengan para pegawainya.
"Saya bilang panggil saya Bu Tania!" elak Tania.
"Bu Anda salah paham, saya enggak bermaksud menyakiti Farah. Itu hanya tindakan refleks saya karena mendengar hinaan Farah," jawab Sarah membela diri.
"Apa pun jawaban Anda, keputusan saya sudah bulat, silakan kemasi barang Anda dan temui bagian personalia untuk menerima gaji terakhir dan pesangon Anda," putus Tania.
"Enggak bisa begitu Bu! Itu namanya Anda tidak profesional, hanya karena masalah sepele lantas saya di pecat begitu aja? Enggak akan, saya menolak!"
Sarah benar- benar merasa sakit hati dengan sikap sang bibi yang di rasanya sangat tak adil.
Kalau pun dia marah seharusnya sang bibi mau mendengarkan penjelasannya dulu.
Bahkan dirinya bersedia meminta maaf kalau perlu, tapi tanpa pemecatan sebelah pihak seperti ini.
Toh dia merasa kesalahannya adalah atas dasar ke tidak sengajaan, bukan sesuatu yang merugikan perusahaan.
"Baiklah, kalau kamu bersikeras, maka saya akan menuntutmu ke meja hijau, kamu pasti tau kalau kemenangan jelas berpihak pada Farah."
"Pikirkan lagi, setidaknya sebagai tantemu saya masih berbelas kasih memberikan kamu pesangon untuk biaya hidup sampai kamu mendapatkan pekerjaan lain."
Ucapan Tania benar-benar menjatuhkan harga dirinya. Sarah lantas bangkit berdiri dan justru menantang Tania.
"Silakan lakukan apa yang tante mau, kita lihat siapa yang akan menyesal. Aku akan tetap bekerja sampai putusan memenangkanku."
"Dan ingat, aku akan rebut perusahaan ini kalau aku terbukti tidak bersalah," jawabnya jemawa.
Sarah tetap merasa yakin kalau dia akan menang, toh benar kalau Farahlah yang memancing amarahnya hingga dia berbuat seperti itu.
Jadi jangan salahkan dia sepenuhnya, begitulah pikirannya.
Tania hanya bisa mengepalkan tangan melihat sikap cuek sang keponakan. Benar-benar ngelunjak dan tak tahu malu menurut Tania.
Jadi keputusan Tania sudah bulat, dia yang berusaha bersikap baik dengan menawarkan pesangon untuk bekal hidup Sarah agar menjauh dari putrinya di tolak mentah-mentah dan keponakannya itu lebih memilih bertarung di meja hijau, maka Tania akan mengabulkannya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc