Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 81


__ADS_3

Sarah di ambang kebimbangan. Hidupnya seakan terumbang ambing tanpa harapan.


Satu persatu masalah menghinggapinya. Dari permasalahan dengan Farah yang harus berhadapan dengan proses hukum, di tambah kini kenyataan bahwa sang suami tengah bermain gila di luaran sana.


"Arrrghhh!!" makinya kesal.


Sumpah serapah dia keluarkan untuk merutuki kehidupannya.


Dia tak menyangka jika suami yang selama ini dia hidupi membalasnya dengan tak tahu diri.


"Kurang ajar kau Azam!"


Sarah benar-benar merasakan sakit hati. Sudah tidak ada lagi tempat ia mengadu, sebab dia malah melukai hati sepupu sekaligus sahabat terdekatnya.


"Kenapa harus begini! Kenapa kau tidak adil padaku Tuhan!" air matanya meluruh. Kamar yang sudah rapi kini kembali menjadi sasaran kemarahannya.


Dia tak mengerti mengapa sang suami tega mengkhianatinya.


Segalanya sudah dia berikan, perhatian dia curahkan, bahkan kewajiban berupa nafkah pun tak yang tak pernah dia tuntut. Dia mengerti keadaan sang suami yang susah mendapat pekerjaan.


Namun kini ... dia justru di tipu habis-habisan oleh sang suami.


Mengapa Azam berselingkuh darinya lagi? Apa benar ucapan Hulya jika itu adalah penyakit.


Keluarga mereka memang keluarga berantakan. Mungkin itu juga menurun pada anak-anaknya.


Sudah beberapa kali Farah mencegahnya. Namun dirinya selalu mengelak dan justru mengatakan jika Farah menyesal karena telah menolak Azam.


Lalu sekarang, seakan ucapan yang dulu selalu dia bantahkan terjadi pada dirinya sendiri.


Dia di ambang kehancuran. Pikirannya mendadak kosong. Tak ada orang di sisinya yang bisa menguatkannya.


Orang tuanya berada jauh di kota lain. Mereka bahkan tak pernah memedulikannya berbeda dengn sang tante— Tania.


Ibunya hanya menghubunginya jika hanya memerlukan uang darinya saja.


Sarah kembali kacau, kadang dia menangis dan tertawa. Dia menjerit sambil menjambak rambutnya sendiri.


.


.

__ADS_1


Di kediaman Afdhal, Hulya berdiri dengan sinis menatap ayah dan kakaknya.


"Anak perempuan abi kan bukan hanya Hulya! Jadikan Saeba berguna, jangan hanya mau nafkah saja dari Abi!" maki Hulya murka.


Saeba yang ikut di panggil ke kediaman sang ayah kandung memang merasa bingung.


Namun setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh saudara tirinya, dia merasa panik.


"Ada apa ini?" tanya Saeba takut-takut.


"Jangan selalu korbankan aku! Sejak dulu aku selalu berkorban! Tunjukan sama aku kalau Abi enggak pilih kasih sama aku!" bentak Hulya yang sudah tak peduli lagi dengan sopan santun.


"HULYA!" pekik Zhafran tak terima.


"Apa? Abang mau ngomong apa? Urus aja masalah abang. Ingat, bentar lagi Ka Zahra akan menggugat abang karena kelakuan abang sendiri. Syukurlah dia sudah membuka matanya. Karena lelaki penyuka selang****** kaya abang memang lebih baik di tinggalkan!" makinya.


Tak tahan di hina oleh sang adik, Zhafran refleks menampar Hulya hingga sang adik jatuh tersungkur.


"HULYA!" pekik Huma terkejut.


Sedangkan Afdhal hanya bisa beristigfar. Saeba sendiri hanya bisa menutup mulutnya terkejut.


"Keterlaluan kamu menghina abang Ya! Kurang apa selama ini kami memperlakukanmu Ha! Kamu dan anak cacatmu memang pembawa sial!" maki Zhafran balik.


"Cukup!" ucap Huma lemah.


Wanita paruh baya itu merasa lelah. Kehidupan keluarganya berantakan tidak karuan. Hancur segalanya.


Dia tak kuasa menahan sakit yang mengimpit dada. Bukan dia tak tahu kesalahan suami dan anak-anaknya.


Namun sebagai seorang istri dia bisa apa? Dia hanya bisa tutup mata karena sang suami merasa apa yang mereka lakukan selalu dianggap benar dan wajar.


Meski batin tersiksa, tapi sebagai baktinya dia memilih diam dan menutupi segala keburukan suami dan anaknya.


Mungkin ini balasan dari Tuhan untuk kesalahan mereka dan dirinya.


Huma merasa ikut andil karena kejahatan yang di lakukan anak dan suaminya.


"Lihatlah, Umi selalu membelanya, apa salahnya menikahi Pak Fathir Umi? Dia tidak akan sengsara. Kita tahu sekaya apa beliau! Di pikirkan masa depannya tapi dia selalu membantah!" sergah Zhafran murka.


"Apa kamu memiliki hak untuk menyakiti fisik adikmu?" cecar Huma balik.

__ADS_1


Zhafran mengusap wajahnya kasar. Dia yakin sang umi pasti sangat marah padanya.


Yang dia takutkan adalah Hulya akan semakin menolak karena mendapat dukungan dari umi.


"Hulya sudah berani menghina Zhafran Mi!" belanya.


"Bukankah itu semua benar? Zahra memang akan menggugat cerai kamu karena di sudah tak mendapatkan haknya lagi. Kamu mengabaikan anak dan istrimu yang berjuang dari nol demi istri keduamu yang justru menghancurkanmu. Sebutkan di mana salah Hulya?" cibir Huma.


Dia muak akan perangai putranya yang berubah setelah memiliki istri kedua.


Tak hanya lalai akan kewajiban pada anak istrinya. Zhafran juga telah tega menyakiti hatinya dan juga adiknya.


Huma sudah tidak punya muka lagi menghadap orang tua Zahra saat menantu pertamanya itu meminta di pulangkan secara baik-baik.


Dia malu dan tak punya nyali. Saat meminta Zhafran mengembalikan Zahra kepada kedua orang tuanya, putranya itu justru menolak dan malah menyalahkan Zahra sebagai istri yang nusus karena berani meminta cerai padanya.


Huma hanya bisa pasrah saat Zahra mengatakan bahwa wanita itu sudah tak tahan dengan sikap putranya dan akan menggugat cerai Zhafran.


"Sebaiknya kita masuk Hulya. Kamu ada Umi, enggak akan Umi biarkan siapa pun menyakitimu atau memaksamu, kalau mereka berani, maka kita akan berlindung di rumah Amma," sindir Huma pada suami dan putranya.


Hulya merasa tenang, saat dunia seakan tak adil padanya, tapi ada sang ibu masih mau melindunginya.


Kedua ibu dan anak itu lantas bangkit berdiri hendak meninggalkan ruang keluarga yang sudah tak lagi ada kehangatan di sana.


"Tunggu Umi! Kami belum selesai. Apa umi enggak memikirkan nasib yayasan?" sergah Afdhal menghentikan langkah sang istri.


"Berikan kuasa yayasan pada keluargaku maka aku akan tetap bertahan di sampingmu. Tapi kalau Abi nekat, maka detik itu juga aku melepaskan Abi," ancam Huma pada suaminya.


Afdhal terduduk lagi. Dia tidak ingin kehilangan sang istri dan juga yayasan miliknya.


Hanya Hulya harapannya untuk mempertahankan yayasan miliknya itu. Namun karena sang istri dia anggap keras kepala maka Afdhal harus bersiap kehilangan satu atau bahkan keduanya.


Dia lantas melirik Saeba yang sejak tadi hanya diam membisu.


Putrinya dari Rukayah memang tak secantik Hulya.


Dia berpikir sejenak, apa mau Fathur mengganti Hulya dengan Saeba, meski mereka berdua putrinya?


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2