Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 50


__ADS_3

Ragil kini sedang berada di kediaman mewah milik Maya dan Tyo.


Maya memberitahukan keadaan Tyo yang saat ini sedang sakit sekembalinya mereka dari luar negeri.


"Selama ini mamah sama papah kamu tinggal di luar negeri. Kami berusaha melupakan masalah yang menyakitkan itu," ucapnya memberitahu.


"Setelah ini mamah akan membalas mereka semua yang telah mengacaukan kebahagiaan kita," janji Maya.


Ragil cukup terkejut dengan rencana sang ibu. Meski dia juga merasa marah dan kecewa, tapi tak pernah terbesit sedikit pun pikiran ingin membalas perbuatan mereka.


Baginya, lepas dari Hulya dan pergi dari kehidupan Rukayah sudah cukup memberikan ketenangan hatinya.


Namun siapa sangka, ibu kandungnya justru tak terima dengan keputusannya.


"Yang pertama mamah akan menjebloskan Hamidah ke penjara!" Ucap Maya menjelaskan rencananya.


"Lalu, mamah akan bantu kamu berpisah dengan istri laknatmu itu," sambungnya.


"Eh tunggu, kita proses dulu identitas kamu. Kamu adalah anak mamah, sudah pasti akta kamu haruslah nama mamah dan papah," ucap Maya semangat.


Ragil tersenyum melihat kebahagiaan ibu kandungannya itu. Dia tidak tau bagaimana kehidupan mereka selama ini setelah kehilangan dirinya.


Masalah yang ibunya katakan, Ragil akan memikirkan jalan keluarnya nanti, mungkin tidak sekarang karena masalah yang harus di hadapinya juga cukup banyak.


Keduanya berhenti di sebuah kamar yang di tempati oleh Maya dan Tyo.


"Ayo masuk, papah pasti terkejut saat melihat kamu," ucap Maya penuh harap.


Maya dan Ragil melangkahkan kaki menuju ranjang di mana ada Tyo di sana sedang beristirahat.


Kondisinya sedang tak baik karena selalu merasa bersalah pada istri dan orang tuanya.


Pria paruh baya itu selalu menyalahkan diri sendiri akibat semua masalah yang terjadi dengan keluarganya.


Dia belum tau semua ini adalah ulah adik iparnya yang cemburu dengan kebahagiaan yang mereka miliki.


"Pah," panggil Maya pelan karena tak mau mengagetkan suaminya.


Tyo membuka perlahan kelopak matanya, tatapannya langsung tertuju pada sang istri yang duduk di sisi ranjangnya.


"Mamah udah pulang?" tanya Tyo lemah.


Maya mengangguk dan memegang tangan suaminya. Ragil yang melihat keadaan ayah kandungnya merasa iba.


Dia berjanji akan merawat keduanya setelah semua ini selesai.


Maya lalu menoleh pada Ragil dan hal itu juga di ikuti oleh Tyo.

__ADS_1


Seketika mata Tyo berbinar, tanpa harus di jelaskan tentu dia tau siapa pemuda yang berdiri di hadapannya. Karena wajah itu sama dengan wajahnya saat masih muda dulu, meski ia akui putranya lebih tampan darinya.


"Mah," lirih Tyo sebab tak tau harus memanggil putranya dengan panggilan apa.


Sebab nama yang mereka sematkan pada Azam tak mungkin dia gunakan pada anaknya sendiri.


"Namanya Ragil Pah, dia putra kita yang hilang," jelas Maya yang tau akan maksud Tyo.


Tyo pun memanggil putranya, dengan senang hati Ragil mendekati ranjang sang ayah dan memeluknya meski dalam keadaan berbaring.


"Anakku, terima kasih Tuhan sudah mengembalikan putraku, kalau pun Engkau akan mengambil nyawaku sekarang aku ikhlas," ucapnya dengan nada bergetar.


"Papah, ngga boleh bicara seperti itu, apa papah tak ingin menghabiskan waktu denganku?" jawab Ragil sedih.


"Maaf, maafkan papah Nak, tentu kalau Tuhan masih mengizinkan papah lebih lama lagi, maka Papah akan menghabiskan sisa umur ini bersamamu," ujarnya haru.


"Papah harus sehat lagi," pinta Ragil.


Tyo pun mengangguk, kini dia bersedia di rawat di rumah sakit karena semangat hidupnya telah kembali.


Dia memang merasa takut meninggalkan istrinya seorang diri sebab dirinya yang sering jatuh sakit.


Kini dia bisa bernapas lega kala mengetahui jika putranya telah di temukan. Entah bagaimana ceritanya, nanti baru dia akan bertanya pada sang istri.


.


.


Sekembalinya Rizal dari mengantar Afdhal ke rumah sakit, dirinya segera mendatangi lagi kediaman Hulya untuk memberi peringatan pada mereka.


"Kenapa Hulya harus meninggalkan rumahnya Pak Rizal?" sanggah Zhafran tak terima.


Rizal berusaha tenang lalu memberikan secarik kertas perjanjian yang dulu pernah di tandatangani keduanya saat tinggal di sana.


"Di surat itu tertulis jelas jika ada yang melakukan perzinaan maka harus keluar dari rumahnya meski itu milik mereka. Terserah mau di jual apa di sewakan yang pasti kami menolak keberadaan Mbak Hulya di sini," jelas Rizal tegas.


Zhafran mendengus kesal, dirinya benar-benar merasa di permalukan di sana.


"Ngga perlu mengusir, kami juga akan membawa Hulya pergi!" sinisnya.


"Baguslah kalau begitu, silakan tinggalkan rumah ini segera, saya juga lelah ingin istirahat," jawab Rizal datar.


Zhafran lalu meminta keluarganya untuk pulang sekarang juga.


Amar dan Hamidah yang sejak tadi hanya diam mendengarkan lantas ikut bangkit berdiri.


"Azam, kamu bisa pulang ke rumah orang tuamu, maafkan tante yang secara ngga langsung juga menyakitimu," lirih Hamidah pada Azam.

__ADS_1


"Tante harus bertanggung jawab akan semua ini. Tante tau aku jadi seperti ini gara-gara perbuatan Tante! Camkan itu," maki Azam tak terima.


Dia berlalu begitu saja meninggalkan Hamidah dan juga Rukayah.


"Saya minta maaf Bu Rukayah, semoga masalah yang kamu hadapi bisa segera selesai," ucapnya penuh dengan penyesalan.


"Harusnya kamu diam saja, kalau saja kamu diam, semua pasti akan baik-baik saja!" ketus Rukayah.


"Astaga Bu Rukayah apa Anda sadar dengan apa yang Anda katakan? Apa Anda mau anak Anda menikah dengan adiknya sendiri?" sela Amar yang tak tahan istrinya selalu di pojokkan.


Dia tau kesalahan sang istri sangatlah fatal, tapi semua juga berawal dari perselingkuhan Rukayah dan Afdhal, Hamidah hanya perantara tujuan buruk keduanya.


Rukayah tetap tak menerima kesalahan itu di embannya sendiri, lagi pula dia memang sedang putus asa sekarang.


Itulah kenapa dulu Zhafran tak bisa menikah dengan Saeba karena mereka tau kalau keduanya bersaudara.


Hanya kepada Ragillah rencana mereka bisa di realisasikan karena mereka memang tidak bersaudara.


Afdhallah orang pertama yang tau atas perbuatan Rukayah menukar putranya. Bukannya melarang, justru Afdhal merasa senang karena putranya bisa hidup dengan keluarga kaya raya.


Itulah sebabnya saat pertama kali Hamidah menjelaskan kejadian dulu, dia dan Rukayahlah yang paling kalut mendengarnya.


Hanya Ibnu yang tak tahu dengan kebenaran menyakitkan ini karena dia sedang di penjara.


Satu hal yang pasti, mungkin rumah tangga mereka sedang berada di ujung tanduk.


Rukayah lalu mendekati Azam, meski terasa canggung dia tetap merindukan putranya yang telah lama hilang.


"Azam," panggilnya lembut kala mereka berjalan bersama meninggalkan kediaman Hulya.


Azam berhenti dan berbalik menatap ibunya. Bukannya senang, Azam justru merasa jika Rukayah hanya akan merepotkannya saja, dia bisa menebak jika kehidupan Rukayah pasti jauh dari kata mewah.


"Kamu mau ke mana? Sekarang tinggallah bersama kami nak," pinta Rukayah.


Dia tak menyangka kehidupan anaknya akan berakhir pahit karena keegoisannya.


Namun nasi sudah menjadi bubur, dia akan menerima putranya dengan tangan terbuka seburuk apa pun kelakuannya.


"Rumah?" Azam berdecih mendengar ajakkan Rukayah.


"Aku tak mau tinggal dengan seorang ibu yang tega menukar anaknya sendiri! Karena kau aku harus merasakan sakitnya terhina seperti ini!" pekiknya membuat Rukayah diam mematung.


Hatinya sakit karena penolakan putra kandungnya. Dia hanya bisa menatap punggung Azam yang semakin menjauh meninggalkannya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2