
Setitik cahaya
Tatkala aku melangkahkan kaki dibawah teriknya sinar matahari sejenak tubuhku merasakan panas dan gerah, hampir disekujur tubuhku berkeringat. Tanpa sadar aku menoleh kesebelah kanan.
Ku dapati setitik cahaya yang begitu terang, cahayanya mampu menghilangkan hawa panas di sekujur tubuh seolah-olah ada udara sejuk yang menghampiri tubuh ini, membasuh keringnya tenggorokan yang tak kuasa menahan panasnya terik matahari. Aku sadar cahaya itu begitu indah untuk dipandang tak kuasa mataku untuk berpaling darinya.
Wajahnya, senyumnya seolah-olah membuat diri ini tenggelam dalam lautan ombak. Ku perhatikan dia memiliki pipi yang kembu ketika tersenyum ada sedikit lekukan dipipinya, matanya sipit, alisnya panjang dan sedikit tebal, bibirnya tipis, hidungnya tidak pesek dan juga tidak mancung bisa dibilang kecil sedikit meruncing keatas. Wajahnya terlihat polos seolah-olah tak ada sedikitpun beban dalam hati dan pikirannya. Seperti terbang layaknya merpati putih serta mengalir tenang layaknya air. Tatkala itu aku tak kuasa menahan rasa penasaran yang amat mendalam terhadapnya, akupun memutuskan untuk menghampirinya, langkah demi langkah aku mulai meski....setiap langkah kaki tarasa berat.
Setelah semakin dekat aku pun menyapanya lalu dia membalas sapaan ku, setelah kami saling menyapa satu sama lain sejenak ia membisu dan sedikit tercengang, wajahnya menunjukan bahwa ia bertanya-tanya akan sapaan dariku yang mungkin ia anggap orang asing kala itu.
Boleh aku bertanya kepadamu? “ujarku sambil tersenyum.
“iya silahkan ada apa?”
__ADS_1
“sedang apa kamu disini?”
“seperti yang kamu lihat aku sedang bermain.”
“apakah jagoan ini anak mu?”
“oh bukan, dia bukan anaku, aku hanya bermain denganya tanpa sengaja.”
“oh...syukur deh kalau begitu.”
“enggak..! hehehe.”
Wanita itu tersenyum atas rasa syukur yang aku ucapkan padanya dia pun mengatakan “tenang saja aku belum menikah.”
__ADS_1
Jujur saja pada saat itu aku merasa senang mendengar bahwa ia belum menikah, ketika aku hendak mengajaknya untuk berbincang dengan maksud ingin mengenalnya lebih jauh, ternyata waktu shalat ashar telah tiba adzan pun berkumandang, aku bergegas untuk memenuhi panggilan.
tak lupa aku mengajaknya untuk melaksanakan shalat ashar, di saat aku mengambil air wudhu sejenak hati ini merasa tenang dan bahagia seolah-olah air wudhu yang membasahi wajah menyapu habis semua rasa lelah, gundah serta gelisah dalam diri.
Rokaat demi rokaat telah aku selesaikan serta mengakhiri shalat (ibadah) ku dengan dzikir dan doa. Tanpa sadar aku teringat pada gadis yang ku lihat tanpa sengaja tadi, aku pun bergegas keluar pintu masjid dan aku menunggu dan terus menunggu sekitar sepuluh menit lamanya ia tak juga terlihat.
Akupun memutuskan untuk bergegas ketempat lain karena pada saat itu aku memiliki beberapa urusan yang harus ku selesaikan sejenak aku bergumam dalam perjalanan.
terkadang hidup ini bisa di ibaratkan layaknya sebuah alat musik drum dimana.. alat musik drum di bagi menjadi beberapa bagian, yaitu.. ada Tom Floor Tom. Simbal, crres simbal, haihet, sner dan juga bazz. Dari bagian-bagian alat musik tersebut memiliki pungsinya masing-masing dan juga nada-nada yang berbeda-beda ketika yang di pukul (dimainkan secara bersamaan) akan menjadi nada-nada yang indah, yang enak untuk di dengar, sama hal nya seperti kehidupan manusia, dimana manusia memiliki pungsi, tangga nada dan irama dalam kehidupan yang berbeda-beda.
Ada nada kesedihan, marah, gelisah, kecewa, putus asa, dan yang paling penting adalah nada kebahagiaan. Jika pungsi dari nada-nada tersebut hanya dimainkan satu saja, tidak akan menjadi sebuah irama kehidupan, namun jika kita memainkan nada-nada kehidupan itu secara bersamaan maka akan berubah menjadi nada-nada yang penuh dengan warna warni kehidupan.
bayangkan saja jika di dunia ini dalam kehidupan manusia hanya ada nada kegelisahan atau tak ada nada kehidupan sama sekali. Mungkin hidup ini tidak akanlah bermakna, kita tidak akan merasakan yang namanya perasaan bahagia, kita tidak akan mengenal yang namanya emosianal dalam diri bahkan mungkin tidak akan ada kasih sayang dan konflik dalam hidup ini, sehingga tidak ada warna warni dan memori dalam hidup ini yang dapat dikenang serta diambil hikmahnya untuk dijadikan cerminan dikehidupan mendatang.
__ADS_1
Ya sudah lah aku bersyukur kepada tuhan (Allah) yang telah menciptakan dunia ini. urusan demi urusan telah ku selesaikan aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat untuk melanjutkan aktifitas di ke esokan harinya, karena mengingat hari sudah gelap dan jam sudah menunjukan tepat pukul sembilan malam.