
Memangnya siapa arik? Ada urusan apa kamu dengan kami? Apa kamu temanya dia?
Yah aku temanya, memangnya kenapa?
Oh...bagus kalau begitu, sekalian saja kita hajar mereka berdua.
Aku yang melihat mereka bergerombol hendak mengeroyok kami mencoba untuk membuat siasat. Aku mengehentikan mereka seraya berkata “kalau mereka berani lawan aku satu-satu jangan keroyokan” “ok kalau begitu kita lawan satu-satu” (jawab si otong). Si otong yang ku lihat menjadi bos diantara mereka memerintahkan satu orang untuk maju terlebih dahulu.
Aku melawan orang itu. Yah anak buah si otong mencoba memukul ku dengan gelagat nya yang sok hebat karena badan nya yang tinggi dan besar juga bermuka seram. Sepintas aku takut. Namun aku mencoba untuk fokus dan percaya diri supaya tidak menjadi bulan-bulanan mereka jika aku kalah. Laki-laki yang berbadan besar itu mengahampriku dan mencoba melayangkan pukulan ke arahku. Namun aku menangkisnya dengan baik. Tak henti-hentinya ia memukul dan mencoba menendangku. Namun untungnya aku dapat menghindar. Sesekali ia mencoba menangkapku dan melemparku. Namun usahanya gagal karena aku mencoba membalikanya dengan dorongan dan pukulan ke arah perutnya. Lama-lama...aku kesal. Entah kenapa seperti ada kekuatan yang terkumpul dalam diriku. Aku memukulnya dengan sekuat tenaga tepat di pipi sebelah kanan. Aku tak menyangka ia tumbang dengan sekali pukulan. Dan pipi nya memar berwarna biru lebam. Bahkan pingsan tak sadarkan diri. Melihat hal itu si otonglangsung memerintahkan anak buahnya untuk mengeroyok kami. Aku pun terpaksa bertarung bersama orang yang aku tolong tadi. Yah kami berkelahi melawan sekitar sepuluh orang. Bukan tidak mungkin jika kami terkena pukulan. Justru kami sering sekali terkena pukulan yang bertubi-tubi, tapi...untungnya kami berhasil mengalahkan mereka. Yah aku pun tak menyangkanya, namun ini lahkenyataanya. Aku lihat wajah mereka memar biru dan lebam. Aku heran kenapa bisa seperti itu. Aku tak ambil pusing dan mengajak orang yang aku tolong tadi untuk lari berasama dan meninggalkan tempat itu.
Hehbro, lu hebat banget bisa ngalahin mereka semua (terengah-engah karena kelelahan telah melarikan diri)
Ah...enggak..lu juga hebat bisa ngalahin mereka. Kan gwa juga di bantuin sama lu.
Ah...apaan enggak. Gwa cuman beresin sisanya..
Ya udahlah yang penting kita berhasil kabur
Iya...ya (tersenyum sambil terengah-engah)
__ADS_1
Oyah ngomong...ngomong kok lu bisa di keroyok sama mereka? Kenapa?
Yah...ceritanya panjang cuy...biasa lah mereka musuh sekolah gwa. Gwa tadi di telepon sama salah satu dari mereka. Katanya mau ngajak damai. Sekalian mau ngajak main. Nah gwa di minta buat datang ke tempat tadi sendirian. Yahgwagak curiga karena niat baiknya itu. Lah...tahunya malah jadi kayak gini...di keroyok. Hahaha.
Yah...lu sih jangan mau di goblokin sama orang...lain kali lu harus hati-hati...
Ok...ok..bro. oh yah ngomong-ngomong nama lu siapa?
Nama gwa arik. Nama lu siapa?
Zimy.
Ya salam kenal rik. Ngomong-ngomong lu tinggal dimana? Gwa baru lihat lu di sekitar sini.
Ya kebetulan gwa baru pindah hari ini.
Oh...jadi lu baru pindah ke sini pantesan.
Zim
__ADS_1
Ya?
Gwa balik dulu yah, udah sore nih.
Ya silahkan. Ngomong-ngomong makasihyah, lu udahnolongingwa tadi.
Ya....santai aja. Udahseharusnyagwanolong orang yang teraniyaya (sambil bergurau).
Ah lu kaya apaan ajateraniyaya (zimy tersenyum).
Yaudahgwa pergi dulu yah.
Oke. Sekali lagi makasihyah (teriak zimy)
Yah...!
Sesampainya di rumah kakek dan nenek. Ada amih (bibiku) yang sedang menunggu kepulanganku. Ia menatapku dengan lekat-lekat sambil bertanya “kamu dari mana saja? Kok jam segini baru pulang? Jogging kok lama bener....eh eh..muka kamu kenapa? Kok memar begitu? Kamu berantem yah?” aku membalas semua pertanyaan amih dengan satu senyuman kecil. “pantas saja kamu pulangnya lama. Baru pindah ke sini kok udah berantem de...gimana kalau bapak mu tahu kalau kamu berantem lagi? Bisa marah besar dia. Kamu ini. Kenapa bisa berantem kayak gitu? Ayo cepat sini kita ke kamar mu. Kita obati wajah mu itu. Nanti kalau kakek dan nenek lihat bisa berabe” aku hanya diam saja. Sesekali aku menjelaskan kepada amih yang sedang mengobati memar di wajah ku. Aku menjelaskan bahwa saat aku sedang jogging. Aku melihat segerombolan anak-anak seusia ku. Membulitemanya yang lain. Dan aku menolong orang yang di buly tersebut hingga aku harus berkelahi dengan mereka. Amih bilang...menolong seseorang boleh saja, tapi jangan sampai membahayakan dirimu sendiri. Lain kali hati-hati (pungkasnya).
Aku kembali terdiam dan merasakan sakit di wajah.
__ADS_1