Setitik Cahaya

Setitik Cahaya
.


__ADS_3

Wajar saja aku merasa kagum sampai geleng-geleng kepala, bagaimana tidak? Wanita itu adalah seseorang yang dulunya bukan seorang muslim dan sekarang memutuskan untuk memeluk agama islam dan menjadi seorang mualaf, tidak hanya itu saja demi mengenal allah ia masuk pesantren tinggal di kobong sambil kuliah, bagi kaum muda yang sedang asik-asiknya lalu-lalang di usia kami ini memutuskan untuk nyantri dan tinggal di kobong itu adalah sesuatu yang tidak cukup mudah, bisa di bilang sulit, karena di pesantren kita harus mengikuti banyak kegiatan dan aturan yang harus kita ikuti, seperti sholat harus ke masjid, setiap sehabis asar mengaji sampai magrib, setelah magrib lanjut lagi sampai menjelang isya. Setelah isya ada kajian yang harus di dengarkan (di ikuti) oleh para santri sebagai dasar pengetahuan dan pondasiiman,ahlak, dan takwa supaya para santri tidak salah arah dalam menentukan pilihan perjalanan hidup, entah itu tentang sebuah pergaulan,pekerjaan dan hal-hal terkait kehidupan sosial lainnya, setelah mengikuti kajian para santri biasanya di haruskan kembali ke kobongnya masing-masing untuk beristirahat namun biasanya para santri yang bersekolah ataupun yang menempuh jenjang sarjana perguruan tinggi seringkali tidur di jam tengah malam, dikarenakan harus menyelesaikan tugas kuliah, jika tidak di kerjakan maka akan semakin menumpuk, maka tak jarang jika para santri mau tak mau tidur di jam tengah malam dan juga harus kurang tidur karenanya, jam 11 atau 12 baru bisa tidur sebelum sholat subuh sudah harus bangun ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh dan di lanjut mengaji sampai jam 6 pagi atau sampai jam 7 pagi.


Kenapa kok aku begitu tahu akan hal ini? Karena dulu aku pernah tinggal di kobong saat SMP jadi paham sekali bagaimana kegiatan pesantren dalam keseharian, namun sayangnya sewaktu aku pesantren aku malah memutuskan untuk pindah sekolah karena gak betah tinggal di kobong bahkan di waktu libur sekolah sabtu minggu aku kabur dari pesantren dan sempat tertangkap oleh pak ustad sekaligus penjaga asrama (kobong) waktu itu aku kabur bersama temanku si kholid, waktu itu kami melewati pagar belakang asrama dengan merangkak ke bagian pagar bawah yang lantainya tidak rata, ada sedikit lekukan yang cukup dalam, jadi kami bisa merangkak dan melewati pagarnya.


Saat itu sepontan pak ustad yang sedang berdiri menoleh kearah kami dan sepontan berteriak hey kalian mau kemana ujarnya, mendengar pak ustad berteriak kami berdua sepontan lari dengan terbirit-birit dengan sekencang-kencangnya aku berlari meninggalkan si kholid yang lamban saat berlari karena badanya yang gendut alhasil si kholid tertangkap oleh pak ustad baju kerahnya di Tarik oleh pak ustad. “heh kamu mau kemana ujarnya? “enggak pak. Kamu mau kabur yah?. “enggak pak. Dengan wajah yang ketakutan. “enggak…enggak…jangan bohong kamu plak…ditampar oleh pak ustad dengan buku yang ia pegang, di tampar dengan lembut tidak keras, karena meskipun pak ustad hadi yang terkenal tegas dan di siplin ini.Beliau…. memiliki hati yang lembut dan sangat sayang terhadap santri-santrinya, sikapnya yang seperti itu karena ingin mendidik para santri supaya mereka menjadi manusia yang berahlak baik dan tidak bermalas-malasan dalam menimba ilmu.


Ketika aku melihat kholid yang di Tarik dan ditampar oleh pak ustad dari kejauhan aku memutuskan untuk menghampiri mereka meskipun saat itu aku juga takut dimarahi pak ustad, tapi aku tak tega jika meninggalkan kholid sendirian, saat aku menghampiri mereka ternyata aku tidak dimarahi oleh pak ustad, hanya di beri nasehat dan ujung-ujungnya kami diberikan ijzin untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Itu adalah sebuah kenangan yang sangat konyol yang bisa aku ingat sampai sekarang, bahkan masih banyak hal-hal yang terjadi pada saat aku pesantren dulu. Aku ingat dulu pada saat kami para santri mengantri untuk mengambil makanan dan aku menjadi salah satu dari mereka, saat itu salah satu teman sekobongku tak sengaja di senggol oleh teman ku yang lain sehingga jatah makannya tumpah semua, dia marah kepada teman yang tak sengaja menyegol makananya itu dan yang menyeggolnya tidak meminta maaf malah balik marah alhasil mereka berkelahi dan santri yang lain hanya melihatnya karena mereka hanya saling dorong dan berkata-kata saja, tapi lama kelamaan mereka kami pisahkan, aku merasa kasihan kepada temanku yang kehilangan jatah makanya, akupun memutuskan untuk membagi dua jatah makananku padanya dan kami makan berdua. Ada hal yang konyol disini pada saat aku makan ada salah satu daging yang liat dan gak bisa aku gigit sama sekali, lalu aku memutuskan untuk tidak memakanya dan menaruhnya di piring setelah aku selesai makan tiba-tiba ada kakak kelas ku yang bertanya “apa daging ini gak akan kamu makan? Sambil menunjuk ke arah piring. “enggak kak. “boleh aku makan? Saat itu aku bengong terdiam bingung mau menolaknya karena aku merasa gak enak untuk menolak dan pada akhirnya aku memberikanya dengan perasaan yang sedikit gak karuan. Dia pun memakanya, aku hanya terdiam saja. Kalau di ingat-ingat aku merasa berdosa kepada kakak kelas ku yang pakai kacamata itu, kalau bisa di ulang aku ingin menjelaskanya dan melarang dia untuk memakan daging yang sempat aku gigit karena liat dan keras itu. Tapi yasudah lah itu sudah lama sekali terjadi.


Seiring berjalannya waktu terkadang kita sebagai manusia memiliki sebuah cerita dan kenangan tersendiri namun di setiap kejadian kenangan dan sebuah peristiwa yang terjadi biasanya ada sebuah penyesalan yang muncul dalam hati, aku sungguh sangat menyesal tidak menyelesaikan sekolahku di pesantren memilih untuk keluar dan pindah ke SMP negri, padahal waktu itu pesantren yang aku tinggali adalah sebuah pesantren yang begitu baik lingkunganya terutama para kiyai dan ustadnya, jika aku tidak pernah singgah di kobong dan nyantri, mungkin sekarang ini aku tidak akan bisa mengaji membaca al-quran atau bahkan bisa hafal 1 juz yaitu juz 30 dan 70 ayat al-baqarah, andai saja waktu itu aku melanjutkan sampai lulus pesantren mungkin aku sudah hafal beberapa juz dan bisa melanjutkan SMA untuk pesantren lagi dan menjadi santri.


Dulu aku ingat sewaktu pak ustad wawan dan pak ustad rudi mengajariku ngaji dari mulai membaca kiroati semacam iqro namun isinya seperti al-quran yang bacaanya menyambung fungsinya untuk mengajarkan kami memahami panjang pendek suatu bacaan dalamal-quran dan juga supaya kami bisa membedakan mana yang di baca dengan bacaan idhar,idghom atau madtabi’I.


Saat itu sebelum aku memulai membaca kiroati, pak ustad rudi menyuruhku untuk membaca al-quran terlebih dahulu karena beliau ingin tahu sejauh mana aku bisa membaca al-quran dengan begitu beliau bisa tahu aku harus membaca kiroati terlebih dahulu atau memang langsung untuk terus membaca al-quran.

__ADS_1


Ketika aku tinggal di pesantren banyak sekali kegiatan yang di lakukan terutama menghafal al-quran dulu sewaktu aku pertama menghafal alquran, aku masih ingat, aku disuruh untuk menghafalkan surat anaba ayat satu sampai empat puluh, di bimbing terlebih dahulu dari cara membaca sampai panjang pendek surat tersebut, alhasil bacaan ku terbilang cukup baik dan aku merasa nyaman dan nyaman ketika menghafal dan mendengarkan bacaan ku sendiri, seiring berjalannya waktu aku lebih dekat dengan ustad yang ada di pesantren bahkan aku sendri dan santri yang lain sering di beri nasehat serta arahan dari ustad yang ada di pesantren mereka layaknya seperti orang tua kami sendiri.


Aku adalah orang yang lebih senang menyendiri dan jujur saja aku tidak terlalu sering bermain dengan santri-santri yang lain, aku lebih senang berdiam diri di kobong ataupun dihalaman pesantren terkadang aku lebih senang duduk dengan pak ustad wawan jadi tidak jarang pak ustad wawan atau pun pak ustad rudi memberikan nasehat kepada ku, mengingat kami sering duduk bersama jadi mau tidak mau dengan tidak sengaja mereka berbincang-bincang denganku.


Aku sangat ingat sekali dulu hal yang paling membuat hatiku bergetar dan sedih dikala waktu ashar tiba.


kenapa demikian? Sebab…setelah adjzan ashar berkumandang diantara kami ada beberapa santri yang selalu mengisi waktu untuk bersolawat di masjid, aku hanya mendengarkan di halaman masjid. Hal ini tidak wajib hanya beberapa santri yang ingin saja dan sebagian lagi ada yang tidur istirahat sampai menunggu waktu magrib, ada pula yang bermain bola dan mengisi waktu nya masing-masing, nah yang sering mengisi bersolawat di masjid ini adalah si bodos begitulah teman-temanku memanggil nya, padahal nama aslinya bukan bodos melainkan azkha Muhammad azkha, entah kenapa di panggil bodos akupun tak paham, setiap si bodos ini bersolawat dengan si husni yang memberikan si azkha julukan bodos. Di samping itu di halaman masjid aku mendengarkan solawat mereka yang begitu nyaring dan menyayat hati tidak hanya menyayat hati tapi seolah-olah menusuk sampai kedalam hati.

__ADS_1


Membuat aku teringat kepada suasana rumah dan pada orang tuaku tak jarang aku merasa ingin pulang ke rumah, aku rindu orang tuaku, aku merasa banyak sekali dosa yang telah aku lakukan disaat aku mendengarkan solwat nabi yang terdengar nyaring di telingaku.


Jika sekarang ini diantara sekian banyak orang yang merugi yaitu aku lah yang merugi karena telah menyianyiakan sesuatu yang berharga yaitu tidak istikomah dalam mempelajari ilmu agama allah. Aku baru sadar sekarang jika dulu aku memiliki konsef pemikiran yang sekarang baru terpikir olehku mungkin aku akan melanjutkan dan bertahan sampai lulus, karena jika saja aku bisa menghafal alquran sampai hafal 30 juz dan paham mengenai ilmu agama yang di bawa oleh nabi Muhammad yaitu agama islam, aku ingin melanjutkan untuk S 1 di kairo seperti kakak kelas ku yang sekarang ini beliau sedang ada di kairo, kakak kelas ku ini lulus mendapatkan beasiswa di sana, aku tidak tahu jelasnya, hanya saja aku mendengar dari teman-teman ku dan juga dari pak ustad yang ada di pesantren. Yah terkadang kami sesekali berkomunikasi.


__ADS_2