Setitik Cahaya

Setitik Cahaya
.


__ADS_3

Aku tidak menyangka bahwa pertemuan kami pada saat itu menjadi sebuah kedekatan antara aku dan senior ku itu. Aku akui dia sangatlah cantik. Kulitnya kuning seperti gadis taiwan tidak putih tidak hitam pula. Lebih ke arah putih layaknya gadis asia kulitnya begitu bersih. Gigi nyarapih dan putih pada saat tersenyum. Hidungnya mancung seperti gadis korea. Matanya sipit seperti dongyi yang ada di film korea. Sangat persis sepertinya.


Setelah malam itu pagi hari kami di kumpulkan di lapangan untuk melakukan senam pagi dan sarapan. Semua orang begitu menikmati acara senam yang kami lakukan. Di penghujung acara senior-senior ku mengucapkan permintaan maaf dan ucapan terimakasih atas ketersediaan kami mengikuti program kegiatan ini. Tak lupa penutupan apel dari senior dan juga kepala sekolah dan para guru yang hadir pada acara itu.


Setelah di bubarkan..aku berjalan...keluar lapangan untuk pulang. Namun tak lama kemudian ada yang memanggil. Ternyata yang memanggilku aprildia senior ku yang tadi malam menatap wajah kudan sekaligus mengomeli ku.


De....de....tunggu sebentar...!


Aku menoleh membalikan badan. Iya ada apa yah?


Mmmh...ginide. Aku....mau minta maaf soal yang semalam yah (dengan perasaan yang tak karuan).


Oooh...kirain ada apa teh. Iya gak apa-apa aku juga ngerti kok teh. Itu kan cuman drama.


Hahderama? Enak aja. Itu bukan derama. Itu tuhbekal pendidikan dari kami untuk kalian. Yah mungkin sekarang gak akan kerasa manfaatnya. Tapi....nanti....pasti akan terasa. (Menjelaskan Dengan wajah yang begitu anggun, imut. Pipi nya sedikit memerah dan alis serta dahinya sedikit mengkerut.)


Kapan teh terasanya? (Sambil sedikit bercanda)


Ya...nanti lah kamu juga bakalan tahu. Orang yang di didik secara mental dan fisik akan lebih kuat dibandingkan orang yang hanya di didik kecerdasanya saja.


Ooh...gitu (dengan nada santai). Itu aja teh? Gak ada yang lain?


Iyah itu aja.


Mmmmh.....nama teteh siapa?


April...lengkap nyaaprilapriliyanti.


Oooh...nama aku arik teh. Muhammad arik hasan, panggil saja arik.


Oh...arik yah. (Kami keasikan mengobrol dan memutuskan untuk duduk sejenak di kolidor sekolah).


Teh kenapq teteh meminta maaf segala sama aku?


Yah....aku ngerasagak enak ajade.


Ah teteh ini. Ke yang lain gimana? Apa sama ngerasagak enak?


Yah...sama memangnya kenapa?


Enggak...kenapa-kenapa...cuman kenapa kok minta maafnya cuman sama aku aja teh?


Yah....gak tahu. Mungkin....takdir aja. Udahlah pokok nya aku pengenminga maaf ajade.

__ADS_1


Mmmh...iya...ya. teteh kelas berapa?


Kelas dua belas ipa4 de.


Dari arah lain tempat kami duduk ada yang memanggil.


April...april...(melambaikan tangan) kami yang sedang mengobrol menoleh ke arah dimana suara itu berasal.


Oh...kenpa kang? Ujar april


Ayo...cepat ke sini kita semua mau mengadakan rapat dan penutupan panitia..(ujarnya dari depan pintu kelas dimana mereka semua para senior berkumpul.


Oh...iya...ya sebentar nanti aku ke sana...


Iya...buruan yah...


Ya.....


Arik aku pergi dulu yah. Sekali lagi aku minta maaf yah atas kejadian semalam (sambil tersenyum simpu dengan seragam olahraganya yang berwarna merah dan ada garis hitam pada lengan panjangnya.di lengkapi kerudung berwarna hitam.


Oh...iya teh gak apa-apa santai saja.


Yaudahasalamuallaikum


Di sini lah awal cerita kami dimulai. Setelah semua acara masa orientasi siswa kami semua belajar seperti biasa. Kami melihat mading (papan pengumuman) yang ada di sekolah. Aku melihat nama ku di papan itu. Ternyata aku masuk di kelas x 10.


Aku masuk kelas dan belajar seperti biasa. Saat waktu istirahat. Aku tak sengaja melihat nyaapril, ternyata kelas ipaempat tepat berada di sebrang kelas ku. Tepat di sebrang samping sebelah kiri. Dia tersenyum kepadaku dari tempat dimana ia duduk. Aku membalas senyumanya. Kami hanya saling membalas senyum dari kolidor kelas masing-masing. Dari hari ke hari aku menjalani rutinitas sekolah. Seiring berjalanya waktu aku dan april semakin akrab. Sesekali...kami mengobrol, yah...hanya pembicaraan-pembicaraan ringan seputar hoby atau mengenai pelajaran.


Terkadang aku juga meminfabantuanya jika ada pelajaran yang tidak aku mengerti, hari dan waktu begitu cepat berlalu, mungkin...karena kami begitu asyik menjalani pertemanan. Entah apa yang membuat kami begitu akrab padahal aku adalah tipe orang yang tidak mudah untuk bersosialisasi dengan lawan jenis. Tapi...april ini begitu mudah masuk dan bergaul denganku.


Terkadang jika waktu istirahat tiba, dan aku belum keluar dari kelas. April selalu menoleh memandang ke arah pintu kelas x 10. Aku tahu itu karena teman-teman ku juga memperhatikanya tak jarang mereka bertanya kepada ku soal april.


Rik...rik...kadieugeura..(rik...rik...kesini)


Nya...ayanaoneuy?(iyah ada apa?)


Ari itu sahaawewenu di kelas ipaopat. Anu jangkung-jangkung geulis mancung..!!(mmmh itu siapa cewe yang di kelas ipa empat. Yang tinggi-tinggi cantik mancung..!!


Oh...eta teh april....emangkunaonkitu?(oh..kakapril...emang kenapa gitu?)


Henteu.....Tenanaon eta melonganwaekadie siah...cigana mah ningalimanehnya? Sok gera manehkaluarti kelas tahka lawang panto cobaan geura. (Enggak...enggak apa-apa, itu ngeliatin terus ke sini...kayak nyaliatin kamu yah? Coba kamu keluar kelas noh jalan ke deket pintucobain.


Mmmmhnya...nya...(mmmh ya...ya...)

__ADS_1


Tuh kan melongjek urang gebener..ciganabogohenkamanehrik. (Tuh kan ngeliat kata aku juga bener..kayaknya suka sama kamu rik)


Ah naon sih manehgeus ah(ah apaan sih loh udah ah)


Eeeehmaneh mah...bogohenkamaneh sikat buru ulah loba lila(eeeh lu mah...dia suka sama lu sikat buruan jangan banyak mikir)


Gandeng ah( berisik ah)


Ah kumahamaneh weh lier ah (ah gimana lu ajalah pusing).


Hehehe.


*****


Hari-hari ku di sekolah saat itu baik-baik saja terlebih aku merasa sangat nyaman dengan lingkungan serta mata pelajaran yang ada di sekolah. Namun itu tidak berlangsung lama setelah hadir nya seorang laki-laki yang mengaku sebagai kekasih april dia adalahchaidir kakak kelas ku. Dia adalah ketua basket di sekolah sekaligus anak kepala sekolah. Dia cukup populer di sekolahnya banyak wanita yang memyukainya, namun ia hanya tertarik pada april.


Setelah chaidir tahu mengenai kedekatan ku dengan april, chaidir mulai mengganggu ku bersama dengan teman-temanya. Waktu itu aku sedang duduk di kursi didalam kelas. Dia masuk ke ruangan kelas ku dan bertanya kepada orang-orang yang ada di kelas. “mana yang namanya arik?” ujarnya dengan tatapan mata yang sinis. Aku menjawab dari tempatku duduk. “Saya kang, ada apa yah?


Oh jadi maneh anu ngarana arik...!! Boga hubungan naonmaneh jeng si april?


(Oh jadi kamu yang namanya arik...!! Punya hubungan apa kamu sama april?


Henteu kang te boga hubungan nanaonnganbabaturanhungkul (enggak kang gak punya hubungan apa-apa).


Chaidir menghampiri kumenarik kerah seragam ku. Mata kami saling bertatapan. Chaidir menatap mataku dengan tajam seakan-akan dia ingin menghabisiku. Dia mengancamku untuk tidak mendekati april karena april adalah kekasihnya, dan jika aku mendekati april maka aku akan di habisi oleh chaidir dan teman-temanya. Setelah chaidir mengancamku dia langsung pergi keluar ruangan bersama teman-temanya. Ancaman itu tidak membuat aku takut sedikitpun hanya saja...ada pertanyaan dalam benaku, apa benar..april pacarnya chaidir? April tidak pernah cerita soal itu padaku!!


Yasudahlah tidak usah di pikirkan.


Saat aku pulang tepat di depan mataku sekitar jarak 3 meter april melambaikan tangan di lengkapi dengan senyuman simpu yang membuatku merasakan perasaan aneh.


Aku yang sedang berjalan tepat di depan matanya sejenak menghentikan langkah dan membalas senyumanya. Teman-teman ku yang berjalan bersamaku hanya melihat april dan mulai bertanya-tanya siapa wanita itu? Apakah dia pacar ku. Ya mereka seperti bertanya-tanya dalam benak nya. Kami pun semakin dekat dengan aprildimana ia berdiri. Saat kami sudah berada tepat di depan april. April melontarkan pertanyaan “pulang dari sekolah kamu sibuk gak?” “enggak teh emangnya kenapa?” aku mau ngajak kamu pergi” “kemana teh?” “mmmmh ada lah...pokoknya ikut aja”. Tanpa berpikir panjang aku mengiakan ajakanya. Aku dan april berpamitan pada yang lainnya. Teman-temanku hanya terheran-heran melihat aku pergi dengan april. Tak biadanya aku begitu.


Ternyata saat aku membonceng april dari arah jam 2 ada chaidir yang melihat kami. Saat itu aku tak tahu. Saat perjalanan kami dengan motor vespa berwarna biru tua yang menyala, di lengkapi helempogo hitam dengan kacamata besar di yang menempel pada helem. Dan aptil menggunakan helempogo berwarna coklat yang pas dengan bentuk wajahnya sehingga terlihat begitu manis..saat itu terlihat lucu sekali dengan seragam putih abu-abu yang kami gunakan. Kami menikmati perjalananya sesekali aku bertanya kepada april “kita mau ke mana?” “sudah...jangan banyak tanya pokoknya ikutinaja jalan yang aku tunjukin” “oh...yaudah. oh yah teh ada yang mau aku tanyain” “apa?”


Mmmmh...tar ajadeh kalau udahsampe di tempat tujuan


Oke


Sesekali kami terdiam menikmati udara dan pemandangan yang begitu indah dan menyejukan. Kami pergi ke arah lembang....jadi tidak heran kalau udaranya begitu dingin dan sejuk.


Setelah lamanya perjalanan akhirnya kami sampai di tujuan. Kami berhenti tepat di depan sebuah kedai. Ternyata april mengajaku untuk bertemu dengan keluarganya. Aku hanya berjalan mengikuti april masuk ke dalam kedai yang sederhana itu namun terlihat unik karena di dalamnya banyak arsitrktur dari kayu jati dan ada ukiran-ukiran yang terbentuk. Lalu tempat duduknya seperti kedai yang ada di jepang, selain itu ada kolam ikan yang di lengkapi air mancur dari kayu yang mengalir gemericik di lengkapi ikan mas berwarna warni. Aku hanya terdiam kala itu. Melihat april yang begitu akrab dengan keluarganya membuat aku begitu nyaman.


Aku di suguhi makanan oleh salah satu pegawai kedai itu. Makananya begitu hangat dengan mangkuk yang terbuat dari kayu isinya adalah opor ayam di lengkapi semangkuk nasi kecil yang terpisah dan satu set sumpit juga sendok yang terbuat dari kayu. April mempersilahkan aku makan. Aku bengong terheran-heran kenapa april mengajaku ke sini. Ia mengulaingiperkataanya “ayo di makan” aku pun membalas dengan senyuman sambil mengangguk.

__ADS_1


Setelah aku coba ternyata rasa opor ayamnya begitu enak sekali. Terlebih di lengkapi dengan udara yang begitu dingin seolah-olah benar-benar pas ketika memilih menu ini untuk di santap.


__ADS_2