
dua hari berlalu acha mulai membiaskan diri dengan adanya karin.
saat ini dia akan pulang setelah seharian ini dia bekerja.
"ternyata lelah juga pulang kerja menyetir sendiri yah" ucap acha
saat sedang acha menyetir tiba tiba mobil berhenti sendiri.
"lah kok mati ikh gimana ini, mana udah gelap juga" ucap acha
dia pun keluar dari mobil dan memeriksa keadaan mobil.
"akh mogok kayanya udah deh" ucap acha diapun diam disitu.
"aku masa diem aja aku, mening sambil jalan aja" ucap acha dia masuk kedalam mobil lalu ia mengambil kunci mobil dan dia pun mulai berjalan.
"aku nyari taksi gak ada yang lewat, naek angkot gak mungkin deh kayanya" ucap acha megerutu
dia terus berjalan hingga ada sebuah motor menghampirinya. acha merasa curiga akan hal itu dia sedikit mundur.
"nona apakah kau butuh bantuan" ucapnya lalu membuka helm nya
acha yang memperhatikan hal itu dia sedikit terkejut orang itu ternyata naren
"naren" ucap acha pelan
"kau kenal aku (naren lalu dia melihat acha)
loh acha"ucap naren
" Iyah ini aku" ucap acha
"sedang apa kau berjalan disini" ucap naren
"tadi mobil ku mogok dari pada aku diam saja lebih baik aku berjalan dan mencari tumpangan" ucap acha
"ouh begitu, ayo naek saja dengan ku akan ku antar" ucap naren
"apa boleh" ucap acha
"tentu kan aku mengajakmu" ucap naren
acha pun akan mulai naik ke motor tapi terhenti karena ucapan naren
"ekhh sebentar" ucap naren
"kenapa" ucap acha
"aku ingin minta nomormu" ucap naren
"bukankah waktu itu kau pernah meminta nomorku, lalu kenapa sekarang kau meminta kembali" ucap acha
"yah itu masalahnya saat aku ingin menyimpan nomormu kertasnya hilang" ucap naren
"kenapa kau tidak minta kepada kak arga nomorku" ucap acha
" itu lah masalahnya aku takut dia berbicara dan memarahi ku lagi" ucap naren
"hahah mana kemarikan hp mu biar aku yang tulisnya" ucap acha menyodorkan tangannya
"ini" ucap naren menyodorkan hpnya
acha menerimanya dan ia langsung mengambil hpnya saat dia membuka hpnya ternyata di sandi.
"ini dikunci gimana bukanya" ucap acha
"itu sandinya 270698"ucap arga
deng
" tanggal lahirku" ucap acha dalma hati
__ADS_1
lalu diapun menyimpan nomornya pada HP naren.
"ini sudah" ucap acha
"tolong bawakan dulu dan sekarang ayo kau naik" ucap naren
"baiklah" ucap acha lalu dia menaiki motor
"apakah sudah"ucap naren
" Iyah sudah" ucap acha
lalu motor pun melaju. dengan rasa penasaran nya achapun mulai menanyakan hal itu
"naren apa kah boleh aku bertanya" ucap acha
"mau bertanya apa" ucap naren
"ini sandi di hpmu apakah tanggal lahir mu" ucap acha
arga terdiam
"maaf aku lancang" ucap acha
"tidak apa, bukan itu bukan tanggal lahirku" ucap naren
"lalu tanggal lahir siap"ucap acha
" seseorang yang lumayan spesial" ucap naren
"siapa seseorang itu" ucap acha
"dia hampir mirip dirimu, tapi maaf aku belum mau menceritakannya dulu padamu" ucap naren
"ouh begitu" ucap acha
"yah yaudah ini alamat rumahmu dimana" ucap naren
"itu di depan, rumah yang pagarnya hitam dan putih" ucap acha
"ntahlah bunda dan ayah, katanya sejarahnya ayah suka warna hitam dan bunda suka putih alhasil agar adil jadilah seperti itu" ucap acha
"haha lucu sekali yah" ucap naren
"memang" ucap acha
"apakah kita juga akan membuat kisah seperti ayah dan bundamu" ucap naren
"hah maksudmu apa" ucap acha
"akh tidak, nah sekarang sudah sampai" ucap naren
achapun turun
"terimakasih naren sudah mengantarkan ku"ucap acha
" sama sama" ucap naren
"kau hati hatilah" ucap acha
"tentu aku duluan yah" ucap naren lalu melajukan motornya.
achapun masuk kedalam rumah.
"assalamu'alaikum bunda" ucap acha memasuki ruangan keluarga
"waalaikumsalam, nak kamu dari mana saja kenapa tmbaru sampai dan mana mobilmu" ucap bu shena
"Iyah bun, soalnya mobilnya tadi mogok" ucap acha
"kenapa bisa mogok na" ucap pak Ryan
__ADS_1
"aku gak tau yah bun" ucap acha
"lalu kau kesini dengan siap" ucap bu shena
"awalnya aku jalan kaki sendiri tapi dijalan aku bertemu dengan naren lalu akupun diajak untuk ikut bersama naren" ucap acha
"naren" ucap pak Ryan
"kau bertemu dengan naren lalu apa yang terjadi"
ucap bu shena
"tidak terjadi apapun kok bun" ucap acha
"mana mungkin tidak terjadi apapun" ucap bu shena
"Iyah bun memang harus seperti apa terjadinya" ucap acha
"yah misalnya dia menyatakan cintanya padamu" ucap bu shena
"apa sih bun kok pikirannya gitu terus ama acha" ucap acha
"hehe kan kata arga juga begitu" ucap bu shena
"bunda masih mengingat hal itu saja" ucap acha
"ekh nak mobil mu disimpan dimana biar ayah yang menyuruh orang bengkel untuk memperbaikinya" ucap pak Ryan
"di jalan xxxxx" ucap acha
"nak bagaimana kalo setelah ini kau memakai sopir saja" ucap pak Ryan
"jangan ayah" ucap acah
"kenapa" ucap pak Ryan
"acha ingin mencoba saja naik mobil sendiri setidaknya untuk dua bulan ke depan setelah itu acha akan mengunakan jasa sopir" ucap acha
"baiklah kalau itu keputusan mu" ucap pak Ryan
"iyah ayah" ucap acha
"nak kau kelihatan begitu cape bagaiamana kalau kau istirahat saja" ucap bu shena
"baiklah bun aku akan istirahat" ucap acha
"Iyah sana" ucap bu shena
achapun pergi menuju kamarnya, setelah sampai dia segera menganti pakaiannya dan membersihkan wajahnya memakai skincare malamnya.
setelah semua itu selesai diapun merebahkan tubuhnya, dan dia merenungkan tentang tadi yang terjadi.
kenapa bisa dia memakai tanggal lahirku bukan kah dia membenciku dan sering menghinaku, dan sekarang apa katanya dia bilang orang spesial apa itu maksudnya aku tidak mengerti. ataukah mungkin orang itu bukan aku dan hanya kebetulan tanggal lahirnyalahirnya sama denganku entahlah, tapi tadi ala dia bilang bahwa apakah kisah kita akan sama dengan ayah dan bunda, mungkinkah dia berencana untuk hidup bersamaku, ataukah hanya bercanda.
saat dalam keheningan itu tiba tiba Hanponnya berbunyi ada notifikasi pesan.
^^^assalamu'alaikum acha ini aku naren^^^
^^^ tolong simpan nomorku yah^^^
waalaikumsalam Iyah naren
^^^kamu sedang apa^^^
aku sedang istirahat
^^^ouh yasudah lanjutkan istirahat mu^^^
Iyah terimakasih
percakapan berakhir
__ADS_1
saat ini naren.
akhirnya aku dipertemukan kembali dengan acha, aku tak pernah menyangka aku bertemu dengannya dan akhirnya aku bisa meminta kembali nomor telponnya, aku harap aku bisa dekat lebih jauh dengannya, entahlah saat pertama kali bertemu dengannya perasaan ini muncul dalam hatiku. aku akan menghubungi nomornya saja.