
Apakah kamu merasa kesakitan ketika di cambuk? (Tanya ku pada wanita tersebut)
Yah..sakit (sambil menangis)
Lalu aku pun terbangun dari tidur ku. Aku terdiam. Apa yang aku lihat tadi? Apa itu siksa kubur? Apa yang tadi itu malaikat? Saat itu aku bertanya-tanya. Sejak mimpi itu aku lebih sering terdiam merenungi peristiwa mimpi yang aku alami.
Tidak hanya sekali aku bermimpi. Aku pernah pula bermimpi shalat. Aku berdiri di atas sajadah berwarna coklat. Memakai pakaian muslim lengkap bersama kopeah dan sarung. Lalu di samping kiri ku ada seseorang memakai pakaian jubah putih sambil memegangi cambuk rincing dan tebal. Wajah nya hitam seperti gelapnya langit malam. Ia tidak memiliki wajah atau sebuah lekukan bentuk wajah. Kelam hitam seperti gelapnya langit malam. Ia memerintahkan ku untuk mulai bertakbir memulai sholat. Belum selesai aku melakukan takbir. Ia sudah mencambuku dan menyuruhku mengulanginya kembali. Aku pun mengulanginya. Di saat aku membaca surat al-fatihah ia kembali mencambuku dan menyuruhku mengulanginya lagi. Tak sampai satu rokaat. Ia terus saja memintaku mengulangi shalat dan mencambuk ku. Dan akhirnya aku terbangun dari tidurku. Ada apa sebenarnya ini. Aku merenungi...dan terus merenungi...aku pun mengerti ternyata allah ingin aku memperbaiki kehidupan ku dan terutama ibadah ku. Aku mengerti bukan hanya masalah bacaan sholatnya. Tapi aku harus benar-benar...khusu saat shalat dari mulai takbir sampai salam. Aku hanya memikirkan allah dan menghadap padanya saat shalat, dan tidak boleh memikirkan hal-hal yang lain. Mungkin itu maksud dari orang yang menyuruhku untuk mengulangi sholat terus menerus.
Singkat cerita aku muai mencari sebuah jati diri seperti yang aku katakan sebelumnya, yaitu, untuk apa aku hidup dan tujuan hidupku ini arahnya kemana?
Untuk menemukan semua jawaban itu. Aku sering bepergian ke pesantren-pesantren yang ada di daerah garut. Pernah di saat libur panjang semester satu selama dua minggu aku pergi ke tasik malaya dan singgah di salah satu pesantren cinta warna. Di sana aku bertemu dengan para santri. Ustad dan kiyayi hanya untuk menemukan jawaban yang aku inginkan. Yah entah apa yang aku inginkan. Aku pun tak begitu paham. Aku hanya mengikuti naluri ku saja. Aku juga terkadang singgah di pesantren yang pernah aku tinggali sewaktu SMP. Yah aku mendapatkan nasehat dan arahan dari mereka yang aku temui dan aku menceritakan semua yang aku alami. Tak jarang liburku dipakai untuk berkelana. Apa lagi setelah selesai ujian tingkat akhir kelas dua belas yang libur panjang. Jika yang lain menghabiskan waktu liburan dengan melakukan rekreasi bersama keluarga. Aku malah pergi berkelana dan kemping di tempat-tempat terpencil hanya untuk berzikir dan puasa. Pernah sekali, aku berjalan disebuahpeaswahan di dalam gelapnya malam dan terangnya bulan. Saat itu aku merasa kelelahan..aku lihat ada gubuk tua di tengah pesawahan yang kering karena telah panen dan musim kemarau panjang.
Aku memutuskan untuk mengetuk gupuk tua itu. Dan tidak lama kemudian ada kakek tua yang membuka pintu. Aku dipersilahkannya masuk. Kami pun berbincang-bincang.
__ADS_1
Jang bade kamanaweungi-weungikieu sorangan lempang di tengah sawah?
(De mau kemana malam-malam begini sendirian jalan di tengah sawah?)
Ieuki abdi teh bade kasinga parnanujunagalalanahoyongngaos.
(Begini ki...saya mau ke singa parna. Sedang berpetualang ingin mengaji)
(Ooohgitu. Kenapa ade malah pengenngaji segala. Kenapa harus jauh-jauh ke singa parma. Mwmangnya ujang dari mana?)
Nya...hoyong weh ki. Abdi hoyong lebih mengenal allah, sareng mendak jati diri abdi nyalira. Abdi ti garut ki.
Yah...pengenajaki. Saya ingin lebih mengenal allah, dan menemukan jati diri saya sendiri. Saya dari garut ki.
__ADS_1
Oooh...kitujang. Mudah-mudahan..naon anu janten pamaksadan ujang dikabul kuallah, ngan ujang kudu inget tiap lengkah anu ujang tempuh. Eta di arahken ku allah. Petunjuk tiallah. Naonnuku ujang di alaman ayena. Eta kanyaahallahka ujang. Allah te kudu di teanganjang. Unggal poeaya jeng ujang. Merhatiken ujang. Sok ayena mah istirahat weh gera kulem tos wungi.
(Oooh...gitude. Mudah-mudahan...apa yang jadi tujuan ade..diwujudkan oleh allah, hanya saja ade harus ingat tiap langkah yang ade tempuh. Itu di arahkan sama allah. Petunjuk dari allah. Apa yang ade alami sekarang. Itu adalah kasih sayang allah kepada ade. Allah tidak harus di cari de. Setiap hari juga ada bersama ade. Memperhatikan ade. Silahkan sekarang ade istirahat saja. Segera tidur sudah malam).
Muhunki...haturnuhun.
(Iya ki...terimakasih).
Aku pun tertidur lelap di gubuk itu di atas tikar yang terbuat dari bambu dan jerami.
Pagi pun tiba. Matahari sudah membentang menyambutku dengan sorotan cahaya yang begitu terang menyilaukan. Aku terbangun oleh cahaya matahari dan suara gemuruh...ku lihat banyak orang yang menggeromboliku. Mereka berbisik-bisik yang melihat ku terbaring di atas jerami.
Aku kaget. Karena aku terbaring di atas jerami yang kering. Bukan kah semalam aku tidur di gubuk tua milik seorang kakek tua. Aneh sekali. Padahal aku yakin sekali semalam aku bahkan berbincang-bincang denganya. Namun....kenapa aku jadi terbaring di sini tanpa atap, dan banyak orang yang mengerumuniku.
__ADS_1