Setitik Cahaya

Setitik Cahaya
.


__ADS_3

Ia menghampiriku.


Arik ada apa sebenarnya ini?


Maksudnya apa teh?


Yah kenapa kamu memukuli chaidir? Memangnya chaidir salah apa sama kamu?


Memangnya siapa yang bilang kayak gitu teh?


Pokok nya ada lah kamu tidak perlu tahu!!


Teh dengerin dulu penjelasanku. Apa yang teteh dengar itu tidak lah benar...


Tidak benar bagaimana arik!! Jelas-jelas video nya sudah aku lihat dengan mata kepala ku sendiri. Bahkan teman-teman ku juga melihatnya. Video nya tersebar.


(Aku terkejut mendengar bahwa video nya sudah tersebar)


Benar teh...aku gak ada niatan untuk memukul chaidir, aku di jebak teh....


Sudah lah aku gak percaya dengan perkataan mu, aku gak habis pikir dengan sikap kamu yang seperti itu!! Apa mungkin karena chaidirmengaku sebagai pacarku dan dia suka sama aku? Sehingga kamu berbuat seperti itu?

__ADS_1


Aku hanya terdiam saja tak menjawab.


Sudah lah aku kecewa sama kamu arik. April pun pergi.


Yosef dan zatnika hanya diam saja melihat kami ber-dua. Mereka tidak berani ikut campur perdebatan aku dengan april. Karena mungkin mereka berpikir bahwa, percuma saja menjelaskan apa yang terjadi kepada april. April yang sedang di selimuti amarah. Tidak akan bisa berpikir jernih dan mau mendengarkan penjelasan dari zatnika dan yosef.


Sesampainya di rumah ada kakak ku yang sedang membaca buku di ruang tamu. Aku masuk dan mengucapkan salam. Kakaku menjawab salam dariku. Aku langsung masuk ke kamar. Namun kakakumenghentikan ku yang hendak masuk ke dalam kamar, ia menghentikan ku sambil seraya bertanya, wajah ku kenapa? Memar dan lebam seperti telah berkelahi. Aku di pandanginya lekat-lekat. Kakaku menghampiriku sambil menyentuh wajah ku. Ia pun bertanya ada apa sebenarnya? Tak biasanya aku seperti ini. Apa kamu berkelahi? (Tanya nya padaku).


Aku dengan penuh rasa segan akhirnya menceritakan semuanya. Karena aku sendiri bingung harus menceritakan ini semua kepada siapa? Karena jika aku menceritakan ini semua kepada ibu dan bapak. Rasanya aku tak tega.


Aku mengungkapkan semua kejadian yang aku alami dari awal aku di ancam oleh chaidir sampai aku mendapatkan masalah dan di panggil ke BK. Aku juga menceritakan bahwa bapak atau pun ibu harus datang ke sekolah besok, untuk membicarakan nasib kebradaanku di sekolah. Kakak yang mendengarkan semua ceritaku. Ia begitu kesal, marah dan sedih melihat apa yang di timpa dan di alami oleh ku. Sebagai kakak sudah sewajarnya jika merasa sedih bila adiknya terkena musibah.


Esok pun tiba. Pagi itu aku berangkat ke sekolah. Seperti biasa aku mengikuti pelajaran dengan normal. Namun ada sedikit yang tak biasa, dimana perasaan ku sedikit was-was dan khawatir, aku tak enak dengan kakak ku yang harus mengurusi urusan ku di sekolah, sementara...ia juga sibuk dengan tugas kuliahnya. Kakak ku yang pertama ini sangat baik. Yah mungkin ia merasa..ia harus bersikap dewasa karena ia anak pertama dan sekaligus pengganti bapak untuk mengurusi adik-adiknya. Beruntung aku memiliki kak syamsul yang sangat sayang terhadap adik-adiknya.


Saat di kelas teman-teman ku memandangi ku dengan tatapan yang tak begitu nyaman. Begitu juga dengan siswa lain yang ada di sekolah. Mereka berbisik-bisik. Aku bertanya-tanya ada apa sebenarnya ini? Apakah karena persoalan ku dengan chaidir?.


Apa yang aku pikirkan ternyata benar, teman-teman ku yang memandangi ku dengan tatapan yang kurang menyenangkan itu di sebabkan karena video ku yang terlihat seperti memukuli chaidir telah menyebar, entah siapa yang menyebarkanya. Aku tahu hal itu dari zatnika dan yosef. Mereka juga mengatakan bahwa aku tega memukuli orang sebaik dan se cerdas chaidir. Mereka tidak suka dengan perbuatan ku yang seperti itu. Mendengar hal itu aku semakin terpukul dan kecewa kepada mereka yang tak tahu kejadian yang sebenarnya. Aku juga kecewa kepada pihak sekolah yang tidak tegas seolah-olah berpihak ke satu sisi. Seharusnya video itu tidak boleh menyebar. Dan yang menyebarkanya di beri sangsi. Karena itu termasuk perbuatan keriminal dan tidak terpuji. Bukanya meredam masalah. Malah menyebarkanya. Aku tidak mengerti dengan pola pikir orang-orang yang sengaja ingin menyudutkan ku.


Pagi itu sekitar jam sembilan lewat tiga puluh lima menit. Kakaku datang ke kantor. Kakak ku berbicara dengan pihak sekolah. Yaitu bulina guru BK dengan kepala sekolah. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku juga tidak tahu. Kakak ku menemuiku dan hanya berbicara bahwa aku harus pindah sekolah. Yah katanya sudah tidak bisa sekolah di SMA 21 bandung lagi. Dan yang lebih parahnya seharusnya aku di keluarkan dari sana atas perbuatan ku. Namun kak syamsul beradu argumen dengan pihak sekolah agar aku tidak di berikan setatus di keluarkan dari sekolah dan memiliki catatan jelek. Dengan segala usaha yang akak ku lakukan. Akhirnya aku bisa pindah sekolah tanpa memiliki catatan jelek. Yah bagaimana tidak? Aku memang tidak bersalah! Yang seharusnya di keluarkan itu chaidir dan teman-temanya, karena mereka yang telah menjebak ku.


Saat itu aku tidak mau menylitkan kakak ku. Aku mengikuti semua apa yang di katakan oleh kakak ku. Aku pun di ajak pulang olehnya, hari itu juga peroses perpindahan sekolah ku di selesaikan oleh kak syamsul. Dan hari itu juga aku pergi dari sekolah. Aku hanya berpamitan dengan teman-teman sekelas ku, sekaligus mengucapkan rasa terimakasih kepada mereka semua. Terutama kepada zatnika dan juga yosefyang telah setia menjadi teman ku dan mau membantu kesulitan-kesulitan yang aku alami.

__ADS_1


Dengan beray hati, aku melangkahkan kaki, aku yang berjalan dengan penuh berat hati. Sambil melihat ke arah kelas dimanaapril belajar, kakak ku merangkul dan mengusap-usap pundaku sambil tersenyum kecil. “Sudah lah dek semua ini atas kehdendakallah, di dunia ini tidak ada suatu perkara yang terjadi kecuali atas ijzinnya”.


*****


Malam itu ibu, bapak dan ke dua kakak ku serta adik ku yang bungsu telah pulang ke rumah. Kak syamsul menyambut mereka dengan baik. Bapak dan ibu menanyakan ku pada kak syamsul. “Mana arik?”(Ujar ibu dan bapak). Kakak ku menjawab “dia lagi ada di kamar buudah tidur” “tumben jam segini sudah tidur” (jawab ibu) “yah...mungkin arik cape bu dengan kegiatan sekolahnya”. Aku yang dari kamar mendengarkan perkataan kak syamsul begitu terpukul. Aku merasa bersalah karena kak syamsul harus berbohong kepada ibu dan bapak soal keadaan ku yang sebenar nya di sekolah. Kak samsyul memutuskan untuk tidak memberi tahu ibu dan bapak, kak syamsul memutuskan untuk memberitahu mereka besok pagi. Karena...kak syamsul berpikir kalau ia memberi tahu-kan apa yang terjadi padaku sekarang dengan kondisi ibu dan bapak yang sudah lelah dengan perjalanan panjang dari luar kota. Rasanya bukan waktu yang tepat dan kak syamsul tak tega.


Pagi pun tiba, seperti biasa semua orang beraktifitas, sodara-sodaraku berangkat kak rosad berangkat kuliah ia saat itu tingkat satu, kakak ku yang satu lagi kelas dua SMK dan adik ku yang bungsu kelas 1 SMP. Semuanya berangkat kecuali aku dan kak syamsul. Ibu bertanya kenapa aku masih tidur saja di kamar dan tak berangkat ke sekolah. Lalu kak syamsul pun mulai menjelaskan apa yang terjadi kepadaku di sekolah. Ibu yang mendengarkan cerita dari kakak ku, menangis meneteskan air mata atas apa yang menimpaku. Ibu hanya diam saja dan pasrah. Ibu menyuruhku untuk sekolah saja di garut tinggal bersama nenek dan kakek ku di sana. Kata ibu di sana juga ada bibi ku yaitu bi rini yang sering ku panggil amih. Bapak marah kepada ku dan juga kepada pihak sekolah yang tidak adil dalam menyelesaikan suatu masalah dan terlihat beras sebelah. Bapak marah kepadaku karena persoalan yang aku alami adalah persoalan yang begitu sepele, yaitu karena seorang wanita. Yah sebenarnya bukan karena seorang wanita. Aku hanya membela diri saja ketika di jebak dan di keroyok. Aku tak mungkin diam saja. Jika diam saja tanpa perlawanan. Itu sama saja seperti aku yang tidak bisa menjaga diri yang di titipkan allah kepadaku.


Aku yang dimarahi oleh bapak hanya diam saja dan menundukan kepala. Aku meneteskan air mata karena tak tega melihat ibu yang menangis tersedu-sedu. Kami keluarga yang sederhana. Balak ku seorang pegawai desa. Kami hidup dengan berkecukupan. Jadi jika aku harus pindah sekolah, itu membutuhkan biyaya yang tidak sedikit.


Aku hanya berharap semoga allah memberikan rezeky yang berlimpah kepada keluarga ku.


Saat itu juga bapak menelpon ke kediaman nenek dan kakek ku di garut. Bapak memberitahukan keda nenek dan kakek bahwa aku akan sekolah di garut dan tinggal bersama mereka. Mereka yang mendengar hal itu. Bertanya kepada bapak ku. Seakan-akan semuanya mendadak sekali. Namun bapak mencoba menjelaskan bahwa aku ingin sekolah di garut dan ingin tinggal bersama dengan nenek dan kakek di sana. Kakek dan nenek ku tidak merasa keberatan. Justru mereka malah senang mendengar cucu nya ingin tinggal dan bersekolah di garut. Bapak berbicara kepada nenek dan akakekberusaha merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi. Kakek dan nenek pun menerima semua pembicaraan bapak di telepon dengan perasaan yang senang seolah-olah tak ada peristiwa yang buruk menimpa kepada cucunya.


Hari itu juga aku bersiap-siap dan membereskan semua pakaianku dan juga peralatan sekolah serta hal-hal yang aku butuhkanketika nanti tinggal di garut dan sekolah di sana. Ibu membantu membereskan pakaianku sambil menasehatiku, “arik kalau tinggal sama nenek dan kakek di sana nanti jangan sampai merepotkan mereka yah..kamu harus mandiri, jangan bikin ulah lagi kayak di sini. Sekolah yang bener, kamu gak usah khawatir...nanti di sana ada bibi mu yang bantu ngawasin kamu...kalau ada apa-apa minta bantuan nya saja” susana hatiku yang sedang tidak nyaman menanggapi nasehat ibu dengan mengangguk-ngangguk saja.


Hari itu, selepas dzuhurbapak mengantar ku ke garut. Yah bapak tidak ingin berlama-lama menunda pendidikan sekolah ku. Aku,bapak dan ibu berangkat bersama menaiki mobil tua yang kami miliki kijang kapsul tahun 2005 berwarna hitam.


Sesampainya di sana sekitar jam empat sore, karena perjalanan dari bandung ke garut hanya sekitar tiga jam lamanya itupun jika macet, kalau sedang kosong paling dua jam lebih.


Aku yang ditunggu-tunggu kedatanganya oleh kakek dan nenek. Masuk dan mecium tangan mereka. Kakek dan nenek kumemeluku. Mereka sangat senang atas kedatangan ku bersama dengan ibu dan bapak. Amih (bibiku) mengajak ku berbicara dan sesekali menanyaiku kenapa ingin pindah sekolah ke garut. Aku hanya tersenyum saja dan mengatakan kalau aku ingin belajar hidup mandiri tanpa bantuan ibu dan bapak. Bibi ku hanya tersenyum saja. Padaal ia sudah tahu apa yang menimpaku di sekolah lama tempatku belajar. Yahamih tahu dari bapak. Sebelum kami berangkat. Bapak menelepon amih dan menceritakan semuanya. Yah ini semua bapak lakukan supaya amih bisa menjaga ku dan juga memperhatikan ku ketika sekolah di garut. Mungkin semua ini bapak lakukan demi kebaikan ku. Yah untuk anaknya.

__ADS_1


__ADS_2