Setitik Cahaya

Setitik Cahaya
.


__ADS_3

Setelah beberapa hari. Akhirnya aku mulai masuk sekolah tepat di hari senin. Aku berangkat pagi-pagi sekali dan mengikuti upacara. Setelah selesai upacara, aku masuk ke ruangan guru. Untuk di antar ke ruangan kelas yang akan aku tempati. Saat itu aku masuk di kelas x. 2 saat aku masuk, selerti biasa pada umumnya, guru yang mengantarku memperkenalkan aku kepada teman-teman di kelas. Lalu aku dimintai memperkenalkan diri ku sendiri. Yah seputar nama, asal sekolah yang dulu aku singgahi dan dari mana aku berasal. Setelah itu aku duduk. Aku lihat dari tempat ku berdiri ada si zimy yang tersenyum lebar kepadaku. Aku tak menyangka akan sekelas dengan anak itu. Dia melambaikan tangan kepadaku. Sambil berbisik. Rik...rik..sini lu duduk disini saja sama gwa. Aku pun berjalan kearahnya dan duduk di kursi bangku ke tiga dari lima bangku yang berjejer.


Hari-hari ku normal saat sekolah di SMA 2 Garut. Bahkan lebih baik dari SMA ku yang dulu. Di sana aku mulai berkembang, nilai akademik ku semakin baik dan meningkat, bahkan aku mengikuti kegiatan eskul dan terpilih menjadi ketua eskulpaskibra setelah rutin mengikuti kegiatan eskul selama delapan bulan lamanya. Yah tidak hanya itu saja. Diawal aku masuk. Si zimy yang menjadi teman sebangku ku menceritakan kepada teman-teman geng nya. Bahwa ia di bantu oleh ku saat di keroyok oleh sekolah lain yang menjadi musuh sekolah kami. Zimy bercerita kepada rey yaitu ketua geng atau anak yang memegang sekolah. Saat zimy menceritakan semuanya kepada rey tentang apa yang terjadi kepadanya. Ia penasaran ingin bertemu dengan ku. Yah kami bertemu dan saling berkenalan. Aku di ajaknya untuk masuk kedalam geng. Namun aku menolaknya. Aku lebib senang berteman dari pada bergabung dalam sebuah geng. Yah. Kala itu rey tidak berani memaksa ku untuk memenuhi keinginanya. Karena ia tahu bahwa orang yang dapat mengalahkan cecunguk-cecunguk itu bukan lah orang biasa, apa lagi.....sampai di keroyok oleh banyak orang. Terlebih ketua cecunguk itu adalah orang yang jago sekali dalam berkelahi. Tentu aku di anggapnya bukan orang biasa.


Singkat cerita kami pun berteman. Aku jadi sering nongkrong dan mengobrol bersama di kantin. Lama-lama aku pun mulai mengikuti kegiatan mereka yang sering ribut dengan sekolah lain si cecunguk-cecunguk itu. Yah kami terkadang melakukan tauran tengah malam di palalangon. Saat itu entah apa yang membuatku ingin ikut. Yah aku hanya tak suka saja melihat mereka para cecunguk yang seenaknya membuli teman-temanku. Aku lihat mereka sering sekali memalak siswa dan siswi di sekolahku. Sempat mereka menyerang ke sekolahku. Dari situ lah aku merasa geram dengan perlakuan mereka. Dan akhirnya kami memutuskan untuk tauran dan menyerang balik mereka di tempat biasa mereka nongkrong.

__ADS_1


Saat itu kami sangat puas karena bisa menghajar mereka semua. Terlebih aku menghabisi ketua mereka. Saat semua cecunguk itu tumbang. Aku yang menarik ketuanya dan menjambak rambutnya. Menatap dalam..dalam wajahnya. Aku berkata jika lu beran...berani lagi macem-macem sama temen-temengwalu bakalan gwa kejar dan gwaabisin kayak sekarang ini. Si ketua cecunguk itu hanya diam saja dengan wajah nya yang bonyok dan berdarah.


Tak tahu kenapa aku jadi sekejam itu. Mungkin karena aku tidak suka melihat teman-teman ku yang di aniyaya.


Rey begitu sangat puas melihat kemenangan yang di raih. Ia tersenyum kepadaku seolah-olah ia bangga dengan keberadaan ku.

__ADS_1


Aku lebih di sibukan dengan aktifitaseskul dan tauran. Aku jadi lebih sering tauran. Namun untungnya keluarga dan pihak sekolah tidak ada yang tahu. Aku jadi lebih sedikit nakal. Sering nongkrong pada malam hari. Namun anehnya aku tidak tertarik dengan sebotol minuman beralkohol ataupun sebatang rokok yang sering teman-teman ku sumbat.


Tiga tahun lamanya aku tinggal di garut. Tak terasa aku telah duduk di kelas dua belas IPS dua. Aku mendengar sebuah kabar dari zatnika. Yah sesekali kami berkomunikasi hanya untuk menanyakan kabar masing-masing. Tak sengaja zatnika memberi kabar mengenai chaidir. Tak ku sangka chaidir tahun lalu telah di keluarkan dari sekolah karena kasus pemalsuan nilai setiap mata pelajaran. Nilai-nilai bagus yang chaidir dapatkan ternyata itu adalah sebuah permainan dari pihak sekolah yang di suap oleh ayahnya chaidir. Chaidir,ayahnya beserta pihak sekolah yang terlibat di keluarkan. Dan april merasa bersalah dengan sikap yang ia tunjukan kepadaku pungkas zatnika.


April berkata bahwa ia ingin meminta maaf atas kecurigaan dan tuduhan nya terhadapku. Katanya ia terlalu polos dan bodoh percaya begitu saja dengan perkataan chaidir dan teman-temanya. Padahal yang sebenarnya di jebak dan teraniyaya itu adalah arik. April merasa sangat bersalah terhadapku. Ia ingin bertemu dan meminta maaf kepadaku.

__ADS_1


Mendengar hal itu dari zatnika. Aku hanya diam saja dan tidak berkomentar apapun. Ya aku sudah tidak ingin mengingat hal itu lagi.


Saat kelas dua belas. Aku lebih sering bepergian diwaktu libur sekolah. Aku tergugah untuk memperdalam ilmu agama islam. Ya bukan tanpa alasan. Di suatu malam saat aku tertidur aku pernah bermimpi melihat seorang wanita sedang di siksa di alam kubur. Wanita itu teriak-teriak ketika ada seseorang memukulinya dengan cambuk yang tebal dan runcing itu. Ia di pukuli oleh seseorang yang menggunakan jubah. Dan wajah nya tak terlihat. Di saat aku bertanya kepada wanita itu yang sedang menggerang kesakitan. Orang yang memakai jubah itu berhenti mencambuk


__ADS_2