Setitik Cahaya

Setitik Cahaya
.


__ADS_3

Di tengah-tengah keasyikan kami menyantap makanan. April bertanya kepadaku “oh yahde tadi ada yang mau kamu tanyakan pada ku, apa yah?” “mmmmh...gini teh, apa teteh udah punya pacar?” April terheran-heran aku bertanya seperti itu. Aku langsung bertindak “bukan begitu teh maksud aku..begini teh. Kemarin ada orang yang mengaku sebagai pacar teteh” “oh...siapa de?” “mmmh kalau tidak salah chaidir”


Ooh...chaidir dia bukan pacar ku. Dia hanya mengaku-ngaku saja sebagai pacar ku. Memang kami sempat dekat dan akrab namun..kami tidak memiliki hubungan sampai sejauh itu. Memang banyak orang di sekolah yang mengira kami berpacaran. Namun kenyataan sebenarnya aku tidak memiliki hubungan yang special dengan chaidir.


Ooh...gituyah.


Udahlah apa yang dikatakan nya jangan kamu hirau kan yah.


Iyah teh.


Aku tidak memberi tahu april tentang ancaman chaidirtempo hari. Yah aku rasa april tidak perlu tahu soal ini. Biarlah aku yang membereskanya. Entah apa nanti jadinya jika april tahu kalau chaidir mengancam ku. Mungkin...april akan mendatangi chaidir dan memarahinya. Ini akan lebih rumit dan akan merepotkan.


Setelah kami selesai makan. Kami pun pergi dan berpamitan. Aku mengantar april pulang ke rumahnya. Setelah itu aku juga pulang. Dan tak lupa april atau pun aku saling mengucapkan terimakasih untuk hari ini. Karena april telah menteraktirku di kedai milik keluarganya. Jujur saja aku malu di traktir seperti itu. Namun aku tak bisa menolak karena tak enak oleh keluarganya yang begitu ramah menyuguhi makanan yang sangat enak. April berterimakasih karena aku telah mau di ajak jalan olehnya tanpa tahu mau kemana dan aku meng-ia-kan nya.


*****


Pagi ini terlihat sangat indah aku bersiap-siap berangkat sekolah, mandi, sarapan, tak lupa memakai seragam putih abu-abu lengkap dengan dasi serta jaket kulit berwarna hitam, aku merapihkan rambutku yang di potong morisai. Setelah aku siap dan menghabiskan sarapan ku. Aku berpamitan kepada ibu dan bapak. Seperti biasa aku mengendarai vepa biru ku lengkap dengan helm pogo dan kaca mata besar yang menempel pada helm.


Setelah sampai di parkiran motor aku lihat teman-teman ku sedang bergerombol di parkiran tak jauh dimana aku memarkirkan motor ku. Aku menghampiri mereka.


Eh eh ini nih coba lihat (ujar teman kudiana)


Apaan coba aku lihat (jawab temanku zatnika)


Mmmh...dari pada kita bergerombol di sini mening kita bagikan saja


Aku hanya melihat mereka. “Ada apaan sih?” tanya teman ku yang lain.


Ini...biasa ada acara minggu depan pertandingan basket antar kelas.


Oooh....kirain apa.


Kelas kita mau mendaftar gak?


Mmmmmhgaktaudeh coba tanya yang lain.


Boleh....(jawab zatnika)


Kalau yang lain gimana? (Diana bertanya)


Boleh-boleh....serentak menjawab. Aku hanya diam saja.


Yasudah nanti di catat yah siapa saja yang mau ikut. (Ujar diana)


Yah....(jawab semua)


Kami bubar ke dalam kelas.


Tak lama kemudian chaidir datang ke kelas bersama teman-teman panitia basket menyampaikan pengumuman serta persyaratan untuk mengikuti lomba pertandingan basket antar kelas. Di saat memberikan sebuah pengumuman chaidir sesekali menatapku dengan tatapan sinis dan tajam. Aku menanggapinya biasa saja. Karena aku sudah paham kalau memang dia cemburu atas kedekatan ku dengan april.

__ADS_1


Tak terasa jam istirahat berbunyi aku pergi ke kantin bersama zatnika, bule, dan gosan untuk membeli camilan dan nongkrong di sana. Tak lama kemudian datang orang yang bersama chaidirtadi. Dia adalah salah satu anggota tim basket nyachaidir.


Eh jangmanehnungarana arik? (Eh brolo yang namanya arik)


Nyanaonkitu? (Yah kenapa gitu)


Henteu...urang aya perlu kamaneh (enggak..gwa ada perlu sama lu)


Aya perlu naon kang? (Ada perlu apa kang?)


Kieu....manehdaekteu jadi perwakilan kelas jadi panitia. Engkemaneh ngilu rapat balik sakola.


(Gini...lu mau gakjadi perwakilan kelas jadi panitia. Nanti lu ikut rapat sehabis pulang sekolah).


Mmmmmhkumahanya kang, naha bet urang? Kan loba nu lain?


(Mmmmmhgimanayah kang, kenapa harus saya? Kan banyak yang lain?


Nya....teapal urang ge, urang ngandi titah nunjukmanehkuchaidir ketua eshcool


(Yah...gak tahu gwa juga, gwa cuman di suruh nunjuklo sama chaidir ketua eschool)


Nyaenggeusatuh kang jam sabarahaengkerapatna?


(Yaudahkalau gitu kang, jam berapa nanti rapatnya?)


Geus isya jam tujuh peuting


Naha kang meunipeuting rapat teh?


(Kenapa kang kok malem rapatnya?)


Nyateuingatuhteuapal, pokona jam tujuh peutingnyageus isya. Cigana mah si chaidir rek nyiapkeunheula bahan keur rapat na.


(Yahgak tahu, pokok nyajak tujuh malemyah sesudah isya, kayaknya si chaidir mau nyiapindulu bahan buat rapat nya.)


Oooohyaudah.


Siiiipkitu weh nya


(Siiiipgituajayah)


Oke.


Aku sedikit curiga dengan ajaka rapat soal pertandingan basket itu, bagai mana tidak, aneh sekali rapat kok jam tujuh malam sehabis isya, bukanya biasanya rapat paling lambat di adakan jam tujuh malam. Ini agak aneh. Tapi mungkin lagi ke pepet yah, ada keperluan yang gak bisa di tunda sehingga rapat harus di undur jam tujuh malam. Yadudahlahikutinaja.


\*\*\*\*\*


Malam itu setelah shalat isya aku berangkat ke sekolah memenuhi undangan rapat dari chaidir ketua basket untuk membahas pertandingan antar kelas yang akan di adakan minggu depan. Seperti biasa aku menaiki vespa warna biru dengan helm berwarna hitam pogo di lengkapi kacamata besar yang menempel pada helm. Sesampai di sekolah aku memarkirkan motor dan melempaskan helm yang ku pakai. Aku berjalan ke dalam lalu aku mencari ruangan yang biasanya di pakai untuk mengadakan rapat. Namun ku lihat di sekolah sepertinya sangat sepi sekali. Mungkin memang sudah tidak ada kegiatan. Meskipun sepi tapi lampu sekolah menyala.

__ADS_1


Hey kamu arik?


Iyah kang saya arik.


Oh....ayo ikut sama saya.


Iyah kang...


Aku mulai berjalan mengikutinya.


Kang kok kita ke sini? Bukanya mau rapat?


Udah ikut aja.


Dengan perasaan yang was...was dan lenuh kecurigaan aku di bawa nya ke lapangan.


Kang kok saya di bawa ke sini? Bukanya mau rapat?


Geusmanehjempe ulah loba nanya!!! Dagoandidieu.


(Udahlojangam banyak nanya!!! Tunggu aja di sini)


Mata ku melotot seraya kesal mendengar ucapan nya yang kasar dengan nada yang tinggi. Saat itu aku diam dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya ini.


Tidak lama kemudian chaidir dan teman-temanya keluar sekitar delapan orang termasuk chaidir.


Chaidir melontar kan senyum sinis sambil bertanya”apa kabar arik?” udahgwa bilang kan sama lu. Jangan berani-berani deketinapril. April tuh punya gwa.


Apaan ini kang, bukanya gwa ke sini di suruh rapat? Dan apa urusanya sama april?


**** banget sih lu!!! Mau ajagwabohongin. Urusan sama april? Yah. Ada!!! Ujarnya sambil membentak. Heh lu dengerinyah. Jangan pernah lu ganggu atau deketinapril, april itu punya gwa.


Heh kang gwajelasinyah. Gwagak pernah sekalipun ngedeketinapril, april sendiri yang ngedeketingwa. Dan gwaudahnanya sama april kalau dia gak ada hubungan apa pun sama lu. Apa lagi pacaran. Dan gwajelasin sama lu kalau gwagak pacaran sama april.


Alah bacot lu. Udahlahjangam banyak alesan. Kalau lu berani-berani ngedeketinapril. Gwagak akan segan-segan buat ngabisin lu.


Yah terserah aprildong mau deket sama siapa aja. Emang lu siapa nyaapril? Bapak nya (nada yang meledek dilengkapi senyum sinis).


Anjing lu....!!!


Perkelahian pun di mulai. Arik di keroyok oleh delapan orang siswa, kepalan tangan dari delapan orang menghampiri arik satu persatu. Arik mencoba melawan dan menghindari pukulan tersebut. Namun apa daya arik tetap saja terkena pukulanya di bagian wajah dan perut.


Arik membalas setiap pukulan yang di lontarkan oleh teman...teman chaidir dan juga chaidir. Bug...bug...satu demi satu terlempar oleh pukulan arik. Arik yang sudah muak dan begitu marah. Ia tak mau kalah. Dengan wajah yang memar dan mulut yang berdarah di bagian bibir. Dia berhasil mengalahkan semua teman-teman chaidir. Tinggal tersisa chaidir.


Iaaaaaaaaa(chaidir berteriak dan menghampiri ku hendak memukul)


Aku menghindar dan menangkis kepalan tanganya sambil menendang kakinya. Ia terjatuh.


Lalu aku menghampiri. Menduduki tubuhnya dan menginjak kedua tanganya supaya ia tidak bisa berkutik.Dengan perasaan yang geram penuh amarah yang bergejolak di dalam dada. Aku memukul nyadengan sekuat tenaga pipi kiri dan kanan aku pukul hingga chaidir berteriak-teriak meminta ku untuk berhenti. Aku pun berhenti karena melihat chaidir sudah tak berdaya. Wajah nya memar, halis mata nya robek, bibir nya berdarah begitu juga dengan hidungnya. Aku pun berdiri dan memandangi mereka semua yang bergeletak di lapangan. Lalu aku pun pergi dari sekolah.

__ADS_1


Aku tak langsung pulang. Aku mencari tempat untuku berdiam diri dan mengobati luka akibat perkelahian tadi. Tidak lama kemudian aku berhenti di taman alun-alun bandung dan mengobati luka dengan obat yang telah aku beli tadi di apotek.


Sesekali aku terdiam dan melamun sambil merasakan luka yang aku dapat saat berkelahi.


__ADS_2