
Namun...disaat kami akan menyantap bekal yang kami bawa..tidak lama kemudian salah satu senior kami berteriak dari luar ruangan. Tepatnya di tengah lapangan.
Senior ku seorang wanita yang sangat bawel dan terkenal galak ini berteriak menyuruh kami siswa baru untuk keluar dari ruangan.
Calon siswa baru....yang berada di luar ruangan kalian...keluar semuanya...(ujarnya sambil memegang alat pengeras suara berwarna putih) terus saja ia ulangi sampai semuanya keluar dan berkumpul di lapangan. Senior yang lain berbaris di samping wanita cerewet tadi sambil melipatkan tangan mereka di antara dada dan perut, dengan wajah yang serius.
Ada yang menggerutu seraya berkata “ada sandiwara apa lagi ini padahal ini sudah jam waktu istirahat. Sudah jam sebelas lewat tiga puluh menit. Padahal kami sudah mau makan. Sudah lapar...! (Ujarnya mengeluh dengan mata melotot)
Aku yang di sampingnya hanya terdiam dan sesekali menatapnya.
Hey....siapa yang tadi kabur sewaktu saya memergoki salah satu dari kalian tidak memasukan seragam kalian ke dalam celana? Baju kalian malah di keluarkan dan kelihatan tidak rapi?( Ujar wanita cerewet seniorku). Semua hanya terdiam..suasana hening...dan diantara kami memasang wajah yang penuh dengan keputusasaan dan lelah karena sudah tak sanggup ingin segera beristirahat.
“Baiklah....kalian tidak ada yang mau mengaku?(semua terdiam) “ayo...mengaku ujarnya kalau tidak saya akan turunkan kalian satui. (Itu adalah sebuah hukuman bagi siswa yang melanggar untuk melakukan pus up sebanyak satu seri yaitu lima kali turun.
Semuanya kebingungan dan berharap orang yang kepergok tadi mengaku. Namun kenyataanyadiantara kami tak ada yang mau mengaku. Lalu wanita cerwet tadi menyuruh kami untuk mengambil posisi pus up. Lalu dia mulai menghitung
Satu....(dengan nada yang tinggi sambil memegang pengeras suara, tangan kanannya di atas mengacungkan jari telunjuk nya. Dan tangan sebelah lagi memegang pengeras suara. Terus...saja sampai hitungan kelima. Di hitungan ke lima kami di posisikan berada di bawah bersentuhan dengan dataran bumi di tengah lapangan yang begitu dingin.
Tidak lama kemudian...wanita cerewet ini berbicara lagi. Dia sedikit melunak dengan mengatakan bahwa dia memaafkan kami semua. Bukan kami semua. Lebih tepatnya...orang yang pada saat itu bersalah. Orang yang mengeluarkan pakaian seragamnya dan tidak melipat bajunya kedalam celana juga tak memakai dasi. Aku kira....pemberian maaf itu berakhir begitu saja. Kenyataanya adalah semua baru di mulai. Kami dimintai untuk melakukan sebuah penjelajahan yang di kenal dengan pos keberanian dan jerit malam. Namun sebelum itu kami dipersilahkan dulu untuk makan.
__ADS_1
“silahkan makan” (ujar wanita cerwet itu)
Kami pun menjawab..”terimakasih kang...teh...
“Yah sama-sama” (dengan nada yang ketus)
Setelah menyelesaikan makan kami semua di bariskan sesuai kelompok masing-masing dan di pimpin oleh pamong masing-masing. Pamong adalah senior yang bertanggung jawab atas setiap kelompok yang di bentuk.
Kami satu persatu berangkat. Singkat cerita kami menelusuri setiap pos. Dan bukan main di setiap pos kami di berikan tantangan. Entah itu sebuah pertanyaan dan jika tidak bisa menjawab. Kami..disiram oleh air tepat di belakang pundak pertengahan punggung. Dan dinginya bukan main...mata kami yang mengantuk dan juga lelah dipaksa untuk melek. Bukan hanya itu rute yang kami lewati adalah sebuah persawahan yang becek dan licin. Terlebih sesekali kami di perintahkan untuk lari sungguh sangat melelahkan.
Dan di pos terakhir aku bertemu dia gadis yang membuat aku merasa perasaan aneh sekaligus gadis yang mengubah kehidupanku memberikan suatu cobaan hidup yang tidak bisa aku lupakan. Kala itu aku sangat polos. Aku berdiri tepat di hadapanyadimana ia berdiri saat itu. Di pos terakhir. Dia memandangiku dengan tatapan yang penuh ketajaman. Ia sesekali melontarkan kata-kata yang sedikit pedas. Itu ia lakukan untuk mendisiplinkan kami. Pos trakhir ini adalah pos yang memberikan masukan dan nasehat. Hanya saja bodoh nya aku saat itu. Aku tidak sengaja mengantuk dan memejamkan mata.
Hey....kamu...(ujarnya sambil mlipatkan tangan kirinya diantara dada dan perut dan yang satunya lagi memegang senter.
Aku tersadar dan sedikit menangkat kepala dan menatapnya dengan perasaan ngantuk. Aku berlindung dari penutup kepala yang aku kenakan yaitu jaket parasit. Jujur saja aku malu di tatap seperti itu olehnya. Tak lama kemudian ia bertanya “kamu mendengarkan tidak. Tadi yang aku sampaikan?
Aku terdiam tidak menjawab. Jujur saja pada saat itu aku berada pada posisi antara sadar dan tak sadar..sehingga...sesekali aku tidak bisa mendengarkan dengan jelas apa yang ia sampaikan.
Hey...kamu...jawab (ujarnya dengan tatapan yang serius, nada bicara yang tegas namun plet)
__ADS_1
Aku diam tak menjawab
Kenapa kamu diam saja?
Mmmmmh iya maaf teh....tadi saya tidak mendengarkan dengan jelas. Saya sedikit mengantuk teh.
Hah....mengantuk...? (Dengan wajah yang begitu sinis dan senyuman yang begitu dingin).
Kamu pikir.....yang lain tidak mengantuk? Hellow......sama dek....yang lain juga mengantuk...Hah..kamu ini. Coba ulangi apa yang tadi saya jelaskan.
Mmmmh....
Kenapa....? Kamu gak bisa mengulangi apa yang aku jelaskan tadi?
Maaf teh. (Jawab ku dengan perasaan tidak enak)
Turun kamu!!!
Iya teh.
__ADS_1
Mulai pus up satu seri. Yang lain menatap kami berdua dengan perasaan ini semua ingin segera berakhir. Setelah pus up yang aku lakukan kami tidak lama kemudian di bubarkan. Kami di beri nasehat untuk tidak mengulangi kesalahan. Dan khusus nya aku di berikan nasehat untuk mendengarkan jika ada orang yang sedang berbicara atau memberikan nasehat.