Setitik Cahaya

Setitik Cahaya
PERBEDAAN


__ADS_3

PERBEDAAN


Setiap orang memiliki karakteristik,sifat,keinginan,kelebihan,kekurangan serta hal yang disukai dan tidak iya sukai.


mungkin itu adalah sebuah perbedaan.Namun itu bukanlah seuatu perbedaan.


melainkan itu sebuah warna dalam kehidupan.


didunia ini tidak ada sebuah tolak ukur tingkatan antara manusia satu dengan manusia lainya.


Semua sama.


Hanya saja tuhan memberikan kepada kita sebuah ciri khas dari diri kita masing2 supaya kita dapat saling mengenal, menyayangi, menghargai dan memahami satu sama lain.


Perbedaan bukanlah suatu permasalahan yang dapat di rendahkan, siapapun itu bagaimanapun dia, dan seperti apapun dia, serta apapun hal yang ia senangi dan tidak ia senangi, ia (kita) adalah manusia biasa yang sedehana namun istimewa.


Pagi itu aku terbangun dari tidur ku. Aku teringat kejadian kemarin di sekolah. Perkelahian ku dengan chaidir. Lantas bagaimana sekarang?. Aku tidak ingin bolos namun jika aku pergi sekolah bagaimana dengan memar di wajah ku? Pasti teman-teman ku banyak yang bertanya. Lalu bagaimana dengan chaidir dan teman-temanya yang semalam mngeroyokku?

__ADS_1


Jika aku tidak sekolah...aku takut nanti ada apa-apa. Ya sudah lah lebih baik aku berangkat saja.


Untungnya dirumah tidak ada siapa-siapa, semua keluarga ku sedang keluar kota jadi aku dirumah sendirian dan kak samsyul sedang ada tugas kelompok bersama teman-temanya sehingga ia harus menginap di rumah temanya. Waktu itu kak syamsul masih kuliah saat aku baru masuk SMA.


Seaampainya di sekolah aku seperti biasa masuk dan duduk di bangku. Belajar seperti biasa. Meskipun sesekali banyak teman-teman yang bertanya kenapa wajahku bisa memar seperti itu. Apa kah karena berkelahi?. Aku membalas pertanyaan mereka dengan senyuman. Namun teman sebangku kuzatnika mendesak kuketika kami duduk bersama. Ia mendesaku sampai aku mau mengatakan yang sebenarnya. Dan yah aku mengalah saja. Aku menjelaskan apa yang terjadi kemarin dari mulai aku berangkat dari rumah dan sampai aku berkelahi lalu berdiam diri di alun-alun bandungsendiran.


Saat zatnika mendengarkan apa yang aku ceritakan. Ia begitu marah dan geram terhadap chaidir, bisa-bisa nyachaidir melakukan hal seperti itu hanya karena cemburu. Ini hanyalah soal perempuan. Ujarnya(zatnika) chaidir kan seorang ketua basket. Kenapa ia seperti itu?


Aku meredakan amarah zatnika. Karena kami sedang ada dalam kegiatan belajar-mengajar. Sesekali yang lain menatap karena zatnika sedikit berisik. Aku tidak enak dengan yang lain.


Tidak lama kemudian ada siswa yang memanggilku keluar. Katanya aku di minta untuk ke ruangan BK (bimbingan konseling). Aku sudah tidak heran lagi atau terkejut dengan panggilan itu. Karena aku sudah menduganya sejak kejadian kemarin aku pasti akan di panggil.


Sesampainya di ruangan BK aku di persilahkan untuk duduk. Di ruangan itu aku lihat ada kepala sekolah dan guru BK. Mimil wajah mereka begitu masam terlihat kesal menatapku seakan-akan ingin menghabisi ku dengan seribu kata yang bergejolak dalam dada.


Arik, kamu tahu. Kenapa...kamu di panggil ke ruangan ini?


Mmmmh... Maaf ada apa yahbu? (Aku mencoba berhati-hati dan mencoba memperjelas apa yang di maksud bulina).

__ADS_1


Bu lina dan kepala sekolah tersenyum sambil saling bertatapan.


Kamu yakin tidak tahu?


Aku hanya terdiam


Ya sudah kalau begitu...ibu perjelas. Kemarin kamu mengajak chaidir untuk bertemu di sekolah pada jam tujuh malam. Dan katanya kamu mengajak chaidir untuk berkelahi. Tapi chaidir menolak. Dan kamu tetap memaksanya hingga memukuli chaidir sampai babak belur. Apa itu betul?.


Aku kaget dengan perkataan bulina yang seperti itu. Kapan aku mengajaknya berkelahi? Dan untuk apa aku mengajaknya berkelahi aneh sekali.


Maaf bu. Apa yang ibu katakan itu tidak lah benar. Memang semalam aku berkelahi dengan chaidir... Tapi, aku tidak mengajaknya untuk berkelahi. Justru aku yang di ajaknya untuk bertemu di sekolah dengan maksud pengikuti kegiatan rapat untuk acara pertandingan basket minggu depan. Tapi kenyataanyachaidir malah mengeroyok ku bersama teman-temannya.


Bu lina hanya mengangguk-ngangguk saat aku menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Mmmh...arik ibu memiliki bukti rekaman video kamu sedang memukuli chaidir, apa kamu mau melihatnya?


Sekali lagi aku terkejut bagaimana bisa, ada video aku yang sedang memukuli chaidir. Dan ternyata memang benar terlihat sangat jelas ketika bulina memperlihatkan video itu kepada ku. Aku terlihat seperti sedang memukuli chaidir, dan chaidir terlihat tak berdaya seolah-olah ia tidak ingin melawan ku.

__ADS_1


Maaf bu. Apa yang ibu lihat dan apa yang ibu kira bukan seperti itu kejadianya. Aku tidak pernah sengaja memukul chaidir. Dan kenapa bisa ada video ku yang sedang memukuli chaidir?


Ini seperti sudah di rencanakan. (Jawabku dengan perasaan yang kesal karena telah di pitnah).


__ADS_2