
“mmmh...jadi begitu lalu bagaimana tanggapan kedua orangtuamu saat tahu kalau kamu memeluk agama islam?”
“nah...itulah yang menjadi tantangan yang sangat berat bagiku kala itu, jujur saja saat itu aku berpikir sangat keras bagaimana caraku mengatakan hal ini kepada papah dan mamah pasti mereka akan syok mendengar hal ini. saat itu aku berpikir aku harus mengatakanya apapun yang terjadi.”
“lalu kapan kamu memutuskan untuk mengatakanya?”
“kalau tidak salah... saat malam hari ketika papah dan mamah sedang duduk berdua menonton acara favorit mereka, saat itu aku keluar dari kamar mengumpulkan tenaga, menyiapkan mental serta keberanian yang sebanyak-banyaknya. Saat itu aku berkata pah... mah...ada yang ingin aku bicara kan.”
”iya ada apa?” jawab mamah.
“iya ada apa nak katakan saja.” jawab papah menyela pembicaraan.
“mmmh...begini pah mah..tapi papah dan mamah jangan marah yah?”
mereka saling berpandangan sedikit terheran-heran karena tidak biasanya aku seserius ini pada papah dan mamah.
“kenapa mamah dan papah harus marah memangnya ada apa nak?” jawab mamah.
“mmmh...mamah dan papah janji dulu gak akan marah yah!”
__ADS_1
“iyah..mamah dan papah janji gak akan marah, iya kan pah? sambil tersenyum.
“ iya...nak papah gak akan marah.
“aku sekarang ini sudah memutuskan memeluk agama islam dengan kata lain aku sudah menjadi seorang muslim.”
“apa kamu serius nak? jawab mamah
“ya... aku serius mah..!
Saat itu wajah ibuku memerah ada pancaran yang mengatakan seolah-olah perasaanya mengatakan bahwa ia merasa kesal, sedih, kecewa, kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulutku begitu juga dengan papahku sama hal nya seperti perasaan ibu (mamahku).
papah bertanya apa keputusan ku itu sudah benar-benar bulat, papah juga menanyakan kenapa aku bisa memutuskan untuk memeluk agama islam dan apa yang menjadi alasan untuk aku meninggalkan agama yang ku peluk sebelumnya.
Suasana di rumah sudah tak terkendali, aku tidak tahan dengan nada dan suara dari ayahku yang sangat keras, melihat wajahnya pun aku tak berani.
Sementara mamah hanya menangis terisak-isak, aku mencoba untuk menjelaskan dengan perasaan hati yang remuk juga berlinang air mata, jujur saja baru kali pertama ini aku membuat mamah dan papah sampai marah dan menangis, sebelumnya aku tidak pernah membuat mereka begini, membantah mereka saja aku tidak berani apa lagi sampai membuat mereka menangis itu membuatku sedih dan hancur, namun ini adalah suatu kebenaran, aku yakin dengan apa yang aku pilih bahwa allah itu ada dan agama yang di bawa oleh nabi muhammad itu benar, dan apa yang di katakan oleh papah itu tidak lah benar, agama islam itu bukan agama terorisme dan bukan agama yang mengekang orang-orang yang menganutnya.
wanita di haruskan berjilbab menutupi auratnya itu karena allah sayang kepada kita sebagai kaum wanita, wanita itu layaknya seperti mahkota yang di jaga keindahanya, tidak sembarang orang dapat menyentuh dan memilikinya bahkan melihatnya pun tidaklah sembarang orang. allah itu menjaga kehormatan wanita. apa jadinya jika wanita di perlakukan seperti jam tangan yang di obral secara cuma-Cuma, di coba lalu di lepas, dipakai dan di lepas ketika baterainya habis, di buang ketika telah rusak dan bosan. Wanita itu bukanlah barang. apa kamu mau kehormatan mu, mahkota mu, rambutmu itu dilirik oleh laki-laki yang tak ada ikatan apapun denganmu? Laki-laki yang bukan suamimu, coba bayangkan di saat kehormatanmu terenggut laki-laki yang kamu sebut sebagai pasanganmu yang tak ada ikatan halal sama sekali. meninggalkan mu di saat ia bosan dan telah merenggut semua mahkota yang ada dalam dirimu, jadi janganlah kamu berpikir jika agama yang dibawa oleh allah adalah agama ******* yang juga senang mengekang penganutnya.
__ADS_1
“Hehehe aku kan bukan wanita jadi gak pake jilbab. sambil bercanda.
“Ih kamu! Ya.. kan aku lagi cerita gimana sih.”
“iya...iya silahkan lanjut ukhti.”
“Oke. Saat itu aku menjelaskan dengan penuh kehati-hatian kepada papah.
“Papah...apa yang papah bilang itu tidak lah benar, islam itu bukan agama *******, islam itu agama yang penuh dengan kasih sayang, cinta, kelembutan serta kejujuran, islam juga mengajarkan kita (aku anakmu) berbakti kepada orang tua yaitu papah dan mamah, aku juga di ajarkan untuk mendengar setiap perkataan nasehat yang di ajarkan oleh papah dan mamah, jadi mana mungkin aku akan meninggalkan papah dan mamah, aku memeluk agama islam...bukan berarti aku meninggalkan papah dan mamah, semua seperti biasa normal dalam keseharian, hanya saja aku memiliki keyakinan dan pilihanku sendiri mah pah..!.
Saat itu ibuku memotong pembicaraanku dengan melontarkan perkataan “kalau begitu kembali lagi ke agama kita”.
“Gak bisa mah...!.
“Bukanya tadi kamu bilang kalau agama islam itu mengajarkan seorang anak untuk berbakti dan mendengar nasehat orang tua.” Dengan nada bicara yang tinggi dan berlinang air mata.
“iya mah memang benar. tapi selama hal-hal itu baik dan sesuai dengan ajaran islam, dan tidak bersipat serta mengarah ke perbuatan yang tidak baik kita sebagai anak harus menuruti apa yang di katakan dan di nasehati oleh orang tua kita, namun jika hal itu bertentangan dan sesuatu hal yang tidak baik maka kita sebagai anak berhak untuk menolaknya secara halus dengan penuh rasa penghormatan.
Meminta aku untuk keluar dari agama islam dan tidak menyembah allah, itu sama saja dengan perbuatan yang tidak baik. karena allah itu satu benar adanya, tuhan itu satu tidak beranak dan tidak pula di peranakan.”
__ADS_1
Saat itu percakapan kami berakhir dengan ucapan permintaan maaf dariku. setelahitu aku masuk kekamar dan mengunci pintu. karena aku tau pembicaraan ini tidak akan ada ujungnya dan hanya membuat orang tuaku semakin tersakiti, kecewa, sedih dan marah.
Aku sebagai pendengar merasa tidak enak karena telah membuat amira menceritakan sesuatu yang memang seharusnya ia simpan, betapa panjang dan rumitnya perjalanan ia untuk memeluk agama allah.