
“Mmmh...maaf yah amira aku tidak bermaksud membuat kamu menceritakan perjalanan kamu menjadi mualaf dan memeluk agama islamsampai sejauh ini.
“Tidak apa-apa arik santai saja toh ini bisa menjadi pengingat untuku dan bisa menjadi pelajaran untukmu supaya kamu bersyukur karena sudah dilahirkan menjadi manusia yang beragama islam dan tidak mengalami apa yang aku alami saat itu.
“Mmmhya..ya benar.” aku tersenyum dengan perasaan yang tidak enak dan juga merasa malu karena telah memintaamira untuk menceritakan pengalamanya.
***
Tatkala hati membeku
Tatkala bibir membisu
Tatkala pikir tak berdamping dengan raga namun darah mengalir sesuai dengan tugasnya.
Tatkala itulah seseorang sulit untuk memendam rasa, sulit untuk mengendalikan diri.
Hati bisa saja membeku, namun kata dari membeku berdampingan dengan kata MENCAIR. Di saat hati yang membeku dapat mencair di saat itulah mata dan pikiran tidak akan pernah memandang suatu perbedaan hanya hati yang menjadikan suatu pandangan rasional.
Tatkala engkau memutuskan untuk singgah pada salah satu pelabuhan dari kejauhan mungkin terlihat indah nyatanya biasa saja atau sebaliknya yang terlihat biasa justru tak biasa.
Jikalau engkau tak dapat lurus pada satu titik pandangan imam yang ada didepanmu maka itu bukanlah rasa melainkan pilihan sepertihal nya ketika kamu berniat untuk membeli sebuah boneka disaat kamu memilih, kamu melihat ada yang bagus, lalu melihat lagi dan ada yang lebih bagus, maka kamu terus saja berpaling dari satu ke satu yang lainnya sehingga tanpa sadar kamu menghabiskan waktu yang panjang tanpa membawa satupun boneka yang kamu inginkan, sehingga waktu yang seharusnya dapat kamu habiskan untuk berbahagia, malah habis di sibukan dengan menentukan suatu pilihan tanpa mendapatkan hasil apa-apa.
Aku tau pertemuan ku dengan gadis itu menjadi sebuah pandangan yang berbeda dan juga penuh makna aku berpikir bahwa ternyata allah memberikan hidayah serta kasih sayang nya kepada setiap orang yang Dia (allah) kehendaki tanpa memandang status sosial, agama atau pun budaya. Buktinya amira dia bukan lah orang yang tertarik pada agama, bahkan tak ada sedikitpunrasa untuk memperdalam ilmu agama entah itu agama islam ataupun agama yang sempat ia pegang (anut), namun kenyataanyaallah mengetuk pintu hatinya ke dalam islam, aku lihat dari wajah dan sorotan matanya seperti ada cahaya yang memancar, begitu cerah dan bersih, maksud ku bukan benar-benar seperti cahaya lampu yang menyala dalam kegelapan namun ada sesuatu rasa dalam hati dan batinku yang tak bisa ku ungkapkan dan hanya bisa aku rasakan begitu banyak cahaya yang memancar dalam dirinya sehingga membuat diri ini merasa sejuk dan nyaman tatkala memandangnya, kau tau kawan kita sebagai manusia tidak boleh memandang rendah seseorang bisa jadi dia yang kita pandang rendah justru, berubah menjelema menjadi orang yang sukses dalam segala hal entah itu karir, harta, jabatan, ahlak, ilmu serta agama.
Kita tidak akan tahu setiap perjalanan hidup seseorang dan belum tentu kita yang terlahir sebagai muslim yang sudah islam lebih taat dari orang yang baru saja memeluk agama islam, justru yang baru saja memeluk islam bisa sangat lebih taat dari kita yang memeluk agama islam dari sejak kita lahir, dan bahkan lebih luas pengetahuan dan pemahamannya terhadap agama islam.
Kala itu pembicaraan kami terpotong oleh sebuah bola berwarna merah yang tak sengaja menghampiri kami, ternyata bola itu datang dari seorang pria kecil yang tampan kira-kira berusia lima tahun, maklum saat itu kami di tengah rerumputan alun-alun bandung, dan hari sudah semakin siang sehingga suasana mulai ramai, banyak anak kecil dan orang-orang dewasa yang sedang menikmati suasana juga sambil bermain di tengah rerumputan alun-alun bandung.
“Astagfirllah...(ujar amirakarena kaget tertimpuk bola)
Aku bergegas mengambil bola yang mengenai kepala amira “apa kamu tidak apa-apa amira?. “Oh enggak kohehe”
“Hi de apa ini bola punya mu? Ujar ku sambil tersenyum pada adik kecil yang tampan itu. “Iya om ini bola punya ku, maaf yah om gak sengaja(dengan sikap yang malu-malu dan juga takut di marahi). “Iya gak apa-apa de...sudah sana main lagi yah...! “Iya om terimakasih dadah om...!
__ADS_1
“Kamu kenapa senyum-senyum kayak gitu? Memangnya ada yang aneh?
“Enggak ada yang aneh ko.
“Terus kenapa kamu senyum-senyum, pasti ada sebabnya kan?
“Ya...gaktahu kenapa pengen senyum aja pas liat kamu bicara sama anak kecil itu, sepertinya kamu sudah terbiasa bergaul dengan anak kecil.
“Yah... Mungkin bisa di bilang begitu, aku lebih senang main dan berbicara sama anak kecil dibandingkan sama orang yang seusia denganku atau dengan orang dewasa lainnya.
“Kenapa kok kaya gitu?
“Yah...gaktahu kenapa kalau main sama mereka aku ngerasaseneng, apa lagi kalau lihat mereka ketawa, senyum, mereka itu polos, dan kalau bicara apa adanya, apa yang mereka tahu dan apa yang dirasain sama mereka, mereka ungkapin, mereka bilang gituaja, kalau mau nangis ya nangis, kalau mau marah mereka marah, dan kalau pengen jajan ya jajan (dengan nada yang bercanda).
“Kamu ini kok ujung-ujung nya jajan (sambil tertawa).
“Ya iya bener kan? Kalau anak kecil pengen jajan ya dia bilang sama ibu nya, gak ada anak kecil yang pengen jajan dia diemgak bilang sama ibu nya...
“Iya...iya gimana kamu aja.
“ya…mungkin emang muka kamu kayak om….om..hahaha.
“enak saja (dengan nada yang ketus).
Kami pun terdiam sejenak.
“Eh habis ini kamu mau kemana? Ujarku bertanya padanya.
“Mmmmh kalau aku sih...kayak nya mau pulang deh, soalnya waktu jam bebas aku sudah hampir habis, sesudah dzuhur aku harus ada di kobong.
“Oooh kamu tinggal di pesantren?
“Iyah...aku tinggal di pesantren hehe maaf aku belum cerita.
__ADS_1
“Gak apa-apa...santai saja, memangnya kamu pesantren dimana?
“itu di darul tauhid.
“Oooh yang di gerlong itu?
“Iya....
“Terus waktu itu kita bisa ketemu di toko buku gimana ceritanya? Kan setahu aku kalau pesantren itu gak bisa seenaknya keluar masuk.
“Ya...memang, cuman kan aku sambil kuliah di upi, yah jadi gak terlalu mengikat, asalkan aku bisa ngaturjadwal nyantri aku sama jadwal kuliah, dan kembali ke kobong tidak melewati jam yang sudah diberlakukan bagi para santri dan santriwati yang ada di darul tauhid.
“Ooohgitu....iya iya.
“Yaudah kita pulang yuk, apa kamu masih mau disini?
“Enggak, aku juga mau pulang kayak nya.
“Yaudah yuk kita pulang saja, kamu pulang kemana?
“Aku pulang ke buah batu. (Sambil berjalan)
“Oooh jauh juga yah
“Yah lumayan...gak juga sih dekethehe.
“Mmmmhyah, kalau begitu kita berpisah di sini yah.
“Yah....silahkan hati-hati di jalan yah.
“iyah...asalamuallaikum
“Waalaikumsallam (sambil melambaikan tangan).
__ADS_1
Waah....aku dapetpointples lagi nih, ternyata dia kuliah di upi, dan juga dia tinggal di pesantren darul tauhid, gaknyangka aku. Ternyata wanita ini penuh dengan kejutan, masyaallah....(geleng-geleng kepala).