Setitik Cahaya

Setitik Cahaya
.


__ADS_3

Tidak lama kemudian zatnika dan yosef datang. Mereka masuk sambil bertanya-tanya ada apa ini? Kenapa ada kepala sekolah, kakak kelas si bili, dan juga bulina. Zatnika memang terheran-heran..namun yang lebih terheran-heran dengan seribu pertanyaan adalah soyef. Karena ia tidak mendengarkan sedikitpun cerita dariku atas peristiwa ku dengan chaidir. Sedangkan zatnika setidaknya ia tahu sedikit apa yang terjadi.


Kalian tahu, kenapa kalian di panggil ke kemari?


Tidak bu. (Zatnika dan yosef menjawab berasamaan)


Kalian di mintai menjadi saksi atas peristiwa arik dan chaidir. (Zatnika mengerti sedangkan yosef hanya bengong saja)


Saksi bagaimana yahbu? ( jawab yosef)


Apa benar yang di katakan arik bahwabili meminta arik untuk menghadiri pertemuan rapat jam tujuh malam di sekolah?

__ADS_1


Yah benar bu (jawab yosef)


Yah benar bu. Zatnika ikut bicara. Saat itu kami dan arik sedang berada di kantin, lalu bilimengampiri kami yang sedang duduk di kantin. Bili meminta arik untuk menghadiri rapat. Awalnya arik tidak mau dan menolak tawaran bili. Namun...bili sedikit memaksa kepada arik dengan alasan chaidir ingin arik yang mengikuti rapat. Lalu tanpa berpikir lagi. Akhirnya arik meng-iakan.


Bu lina mengangguk-ngangguk.


Apa betul yang di katakan zatnika dan yosef? (Tanyabulina kepada bili)


Tidak bu kapan saya berkata demikian, saya tidak pernah meminta arik untuk menghadiri rapat. Bukan kah rapat telah di adakan kemarin? Bahkan perwakilan dari kelas x 10 juga ada. Yaitu diana. Kalau ibu tidak percaya coba tanya saja diana.


Lagi...lagi teman-teman ku di panggil karena maslah ini. Diana datang seperti biasa diana ditanyai perihal yang sama. Diana yang tak tahu apa-apa, dan menjawab seadanya seperti apa yang di katakan bili. Bahwa memang benar rapat diadakan kemarin sore setelah pulang sekolah sekitar jam dua lebih tiga puluh menit.

__ADS_1


Setelah mwndengarkan penjelasan dari teman-teman ku semua, zatnika, yosef dan diana serta bili dipersilahkan kembali ke kelas. Sementara aku tetap berada di ruangan.


Kamu lihat kan apa yang di katakan diana dan bili? Bahwa rapat di adakan kemarin sore. Dan bili tidak mengakui atas apa yang di katakan yosef dan zatnika. Bisa saja mereka membela kamu.


Dengan perasaan yang tak karuan juga di penuhi dengan keputus-asaan. Aku menjawab dengan nada yang lirih. “Tidak bu...apa yang di katakan yosef dan zatnika itu benar. Dan apa yang di katakan bili itu tidak lah benar”


Sudah lah arik kamu menyerah saja. Mengakui semua kesalahan mu. Ibu harap besok kamu datang bersama dengan orang tua mu ke sekolah.


Aku diam saja. Bu lina menyudahi pembicaraan kami. Kepala sekolah hanya diam saja dan menatapku tanpa berkata apa-apa. Aku pun keluar dan mengucapkan salam dengan nada lirih.


Aku bertanya-tanya dimanachaidir yang memiliki konflik dengan ku? Kenapa dia tidak ada di ruangan? Kenapa hanya aku saja yang di panggil? Kenapa dia tidak? Aku kesal. Kenapa bisa jadi seperti ini?

__ADS_1


Aku yang kembali ke kelas hanya duduk diam saja, teman-teman ku semua memandangi ku. Zatnika dan yosefmerangkul ku dan mengelus-ngelus pundak ku. Seakan-akan mereka berkata “sabar yahrik”. Diana hanya menatap ku. Tatapanya penuh dengan pertanyaan. Ada apa sebenarnya? Namun diana tak berani untuk menanyai nya kepada ku.


Bel sekolah pun berbunyi aku, zatnika, dan yosef pulang berjalan bersama ke tempat parkir. Ketika aku berjalan. Aku bertemu dengan april, dari kejauhan aku tersenyum kepadanya. Namun ia tak membalas senyuman ku. Ia seperti sedang kesal.


__ADS_2