Si Bungsu

Si Bungsu
11. Pertemuan


__ADS_3

"Maafin Jen, bang. Ternyata apa yang dibilang Lili benar kalau abang marah-marah sama Jen ada alasannya" Jeni masih menangis memeluk Vian.


Vian melepaskan pelukan Jeni dan menghapus air matanya. "Apapun yang terjadi kamu tetap adik kesayangan abang".


"Seharusnya Jen harus sering mendengarkan apa yang dibilang Lili. Meskipun Lili menderita tapi dia masih bisa menenangkan siapa saja" Jeni tetap membanggakan Liana. Sedangkan Vian tidak tahu siapa itu Lili, berbeda dengan orang disana sudah mengenal siapa Lili.


Semua orang masih memperhatikan keakraban kakak adik tersebut. Mereka sangat senang melihat mereka yang akhirnya bisa akur kembali.


Daddy berdehem memberhentikan mereka "Vian, sebenarnya kami menyuruh kamu pulang bukan karena masalah ini tapi apakah kamu tidak ingat dengan janji kamu sewaktu kamu memutuskan ke London 10 tahun lalu".


Vian masih bingung "kamu memang sudah waktunya pulang Vian. Karena ini sudah melebihi dengan janji kamu yang hanya pergi selama 5 tahun" sambung mommy.


"Janji apaan dad, mom?" tanya Jeni yang tidak paham maksud orang tuanya.


"Janji bahwa Vian ingin mendiri dan tidak ingin menyusahkan kami semua. Dia akan kembali jika kamu sudah wisudah atah kamu sudah masuk kuliah. Sekarang Vian sudah membuktikan kepada kami makanya kami meminta Vian untuk kembali" jawab mommy.


"Lagian tidak hanya itu Vian. Semua masalah kamu itu kami semua sudah mengetahuinya. Sepintarnya kamu untuk membunyikan kebohongan kamu kami tidak akan pernah bisa melihat kamu mrnderita" sambung oma.

__ADS_1


Sekarang opa serius bicara pada Vian "opa juga sudah tua Vian. Tidak sanggup lagi buat mengurus perusahaan. Opa ingin kamu membantu opa meyelesaikan masalah ini. Opa yakin kamu pasti bisa dan memperbaiki saham opa yang menurun itu".


Vian baru ingat dengan janjinya dulu akan kembali kalau dia sudah berhasil. Vian menarik napas panjang dan menerima semua keinginan opa.


"Baik opa, Vian akan membantu opa. Tapi setelah semua masalah perusahaan opa selesai Vian akan melanjutkan usaha Vian yang baru disini. Vian akan membuka sebuah klinik psikologi buat orang-orang yang trauma dan hilang kepercayaan diri bersama sahabat Vian".


"Semua itu tidak masalah, kami sudah mengetahui semua rencana kamu itu" sambung opa.


Seminggu kemudian Vian sudah mengetahui siapa orang yang didalam foto itu yaitu Rian musuh Vian. Mereka berencana ingin menghancurkan perusahaan keluarga Vian satu persatu dengan bersekongkol. Rian dan Angel sama-sama dendam kepada Vian.


Asisten pribadi Vian masuk ke ruangannya untuk memberitahukan jadwal Vian selanjutnya.


"Apa mobil sudah siap, Rey?"


"Sudah ada dibawa bos"


Mereka berjalan menuju lift khusus CEO. Sampai dibawa semua orang memperhatikan bosnya yang ganteng tanpa bekedip. Kaum perempuan sangat tergila-gila dengan prnampilan bosnya tapi karena bosnya itu jarang tersenyum dan sering marah-marah mereka pada takut dengan bosnya.

__ADS_1


Sewaktu di jalan mau ke rumah sakit, mereka berhenti di lampu merah. Vian melihat seseorang turun dari mobil sebelahnya dan membantu seorang nenek yang ingin menyebrang. Vian terus melihat gadis itu yang tersenyum sangat ramah pada semua orang. Gadis itu juga memberikan beberapa lembar uang pada nenek tersebut kemudiab gadis itu kembali masuk kedalam mobilnya.


Sampai di rumah sakit Vian dan Rey langsung menuju ke ruangan Bagas. Ternyata sahabat Vian itu adalah Bagas kakak ipar Liana. Seorang perawat masuk ke dalam ruangan Bagas yang didalamnya ada Liana dan Riri.


"Dok, tuan Vian sudah datang dengan asistennya"


"Dia sudah datang, suruh aja masuk"


Perawat keluar dan memanggil Vian dan Rey buat masuk. Tidak lama kemudian mereka masuk dan disambut oleh Bagas.


"Assalamualaikum bro" Vian masuk.


Bagas berdiri dan menyambut Vian "waalaikumussalam Vian. Kamu semakin ganteng saja dan tidak berubah"


"Kamu masih ada pasien, jadi aku ganggu ini" Vian melihat ada orang yang duduk disana.


Liana dan Riri berdiri melihar keakraban Vian dengan Bagas.

__ADS_1


"Oh iya aku lupa. Kenalkan ini istri aku, Riri. Disebelahnya adik ipar aku Liana, pasien yang pernah aku ceritain sama kamu" Bagas memperkenalkab Riri dan Liana.


*BERSAMBUNG


__ADS_2