
"Maaf ya bang, ruangan abang jadi berantakan gara-gara Li" Liana memberukan hasil desainnya.
"Its ok Liana" melihat desain "kalau semua ini bagus yang mana yang akan mau kita pilih Li" Vian bingung memilihnya.
"Iya bos, semuanya bagus. Saya juga bingung mau pilih yang mana" Rey ikut bingung.
"Gini aja bang, abang bawa desain ini semua ke rekan client abang. Biar mereka yang pilih mana menurut mereka bagus. Tapi Li harap abang gak bilang kalau Li yang gambar. Sebab Li gak mau buat almarhum ayah kecewa sama Li nantinya" saran Liana.
"Kalau itu keputusan kamu abang gak akan bilang tapi setelah ini kamu akan terus ketemu sama abang dan lihat pembangunannya" ucap Vian.
"Its ok, tapi Li gak mau nantinya orang-orang berfikir kalau Li yang desain. Li akan datang sebagai wakil dari mas Bagas aja. Li harap semua keputusan Li tidak ada yang membantahnya nanti" Liana menyimpan semua barang-barangnya.
"Ok bos, apapun keputusan bos kita akan turuti" Vian senang. "Ini ambil Rey dan besok kita langsung meeting" Vian memberikan hasil desain Rey.
Rey mengambilnya "Baik bos, saya permisi".
"Ayo Li, abang antar pulang sebentar lagi maghrib" ajak Vian.
Diperjalanan pulang mereka terjebak macet terpaksa mereka berhenti di masjid terdekat buat sholat maghrib. Setelah sholat maghrib mereka langsung ke rumah Liana.
Sampai di rumah Liana langsung turun mobil "bang mampir dulu yuk" ajak Liana.
"Boleh juga, abang mau ketemu Bagas sebentar" mereka turun mobil.
__ADS_1
Sampai di dalam rumah, semua orang berkumpul termasuk Dani, Lala, dan Gio. Gio melihat Liana datang langsung berlari memeluk Liana.
"Unty..." teriak Gio.
"Hei sayang, How are you?" Liana memeluk Gio.
"I'm good unty. Who he is unty?" Gio melihat Vian.
Liana pun melihat Vian "he is...."
Belum selesai Liana menjawab Gio langsung memotong pembicaraan Liana.
"Ini pasti uncle, boy friend unty. Hai uncle, kenalkan i'm Gio. Uncle boy friend unty kan, senang bertemu uncle" ucap Gio.
"Gio sayang, uncle ini bukan boy friend unty tapi teman papa. Namanya uncle Vian, ayo ajak uncle makan malam sama kita".
"Ayo uncle kita makan" Gio menarik tangan Vian.
Bagas melihat Liana "ayo dek makan dulu".
Mereka semua jalan ke meja makan sampai di meja makan Bagas memperkenalkan Vian sama Dani dan Lala.
"Mas, mbak, kenalkan ini Vian yang Bagas cerita tadi. Bro kenalkan ini kakak ipar gue mas Dani dan mbak Lala. Itu cowok yang cerewet sama dengan unty nya itu namanya Gio" Bagas memperkenalkan mereka.
__ADS_1
Mereka saling berjabat tangan dan saling memperkenalkan. Liana pun bersalaman pada semua orang yang ada disana.
"Ayo Vian makan malam dulu. Dek, ajak Vian makan malam dulu" ajak Dani.
Liana melihat Dani dengan ekspresi memelas "ayo bang, makan malam dulu baru pulang".
Setelah makan malam mereka semua duduk di ruang keluarga. Kecuali Liana karena dia masuk kamar buat bersih-bersih.
"Vian bagaimana dengan proyek klinik kalian itu?" tanya Dani untuk memulai percakapan.
"Itu yang saya mau bicarakan sama Bagas mas. Saya sudah buat desain klinik itu sama Liana tadi di kantor. Besok kita akan meeting bersama client menentukan desain mana yang bagus" jawab Vian.
"Berarti kalau desain itu diterima Liana pasti akan sibuk bersama kalian" ungkap Lala.
"Iya mbak" jawab Bagas.
"Trus bagaimana dengan kesehatan adek, apakah tidak akan semakin parah. Apa lebih bagus?" tanya Lala kembali yang risau dengan kesehatan Liana.
"Menurut perkembangan satu bulan ini adek udah lebih baik mbak, mas. Vian juga tahu kondisi adek dan dia tahu bagaimana cara untuk menyembuhkan adek. Sebab Vian dulu pernah belajar tentang semua itu selama satu tahun di Amerika mas, mbak. Makanya Bagas setuju apapun kegiatan adek selama ini yang berhubungan dengan Vian" Bagas menjelaskan mengenai kesehatan Liana. Dia juga memberitahu semua orang mengenai rahasia Vian yang hanya beberapa orang tahu.
"Kalau gitu mas setuju jika membuat adek happy" ucap Dani menyetujui.
*BERSAMBUNG
__ADS_1