
Setelah makan selesai Liana kembali ke kamarnya untuk mengerjakan skripsinya. Riri masuk kamar menidurkan Fani yang sudah mulai ngantuk. Sedangkan Bagas, Vian, dan Rey duduk di tepi kolam berenang sambil bincang-bincang.
Liana turun dari kamarnya membawa semua buku-buku untuk mengerjakan skripsinya. Liana memang sudah menjadi kebiasaannya mengerjakan tugas sambil nonton televisi dan ngemil. Dia juga berfikir teman-teman Bagas sudah pulang karena sudah selesai makan malamnya.
Vian pergi ke toilet dan melihat Liana yang sedang asyik mengetik dan televisi menyala. Karena sudah kebelet dia langsung lari ke toilet. Sewaktu keluar dari toilet Vian ketemu dengan pembantu Liana yang sedang membawa minuman.
"Mbok, minuman buat siapa?"
"Eh tuan, ini minuman buat non Liana"
Vian heran malam-malam Liana masih minum kopi. Pantasan dia tidak mau tidur kalau sering minum kopi setiap malamnya.
"Mbok apa Liana sering minum kopi setiap malamnya?"
"Iya tuan, apa lagi kalau sedang ngerjain skripsi pasti minta pakai gelas besar tuan".
"Mbok tahukan kalau Liana itu gak boleh minum kopi terlalu banyak. Apa Bagas sama Riri tahu mbok?"
Mbok Ina menggeleng-geleng karena dia telah sembunyi-sembunyi memberikan kopi dari Bagas dan Riri.
"Maaf sebelumnya mbok, saya tahu mbok sayang bangat sama Liana. Tapi mbok jangan terlalu memanjakan dia karena tidak baik buat kesehatannya".
__ADS_1
Mbok ina mengangguk dan merasa menyesal karena telah memanjakan Liana.
"Mbok istirahat saja, biar saya yang buat minuman buat Liana dan mengantarkan padanya" ucap Vian.
"Permisi tuan" mbok Ina meletakan minuman ke dapur dan langsung pergi ke kamarnya buat istirahat.
Vian sedang membuat susu buat Liana dan membawa minuman itu ke ruang keluarga. Vian meletakan minuman itu di atas meja.
"Makasih mbok" Liana kaget melihat minumannya berubah jadi susu "mbok kok susu" Liana melihat ke Vian.
Vian duduk di atas sofa sambil tersenyum "kok tu.. maksudnya abang yang bawa" Liana kaget.
Liana kembali menghadap ke letopnya "yang minum saya dan yang sakit saya. Kenapa abang yang sibuk!"
"Kamu nggak ada niat buat sembuh ya, gak kasihan kamu sama keluarga kamu".
Liana kesal sambil menggeprak meja di depannya "seharusnya mereka yang kasihan sama saya. Not me, abang gak tahu jangan sokan buat nasihati saya" Liana langsung pergi ke kamarnya.
Vian geleng-geleng melihat tingkah Liana. Dia langsung melihat ke meja apa yang di kerjakannya. Vian merasa kagum melihat hasil desainer Liana yang berserakan di atas meja.
"Bukannya kata Bagas jurusannya keuangan kenapa disini banyak desainer gedung disini. Desainernya sangat bagus-bagus, kalau di buat proyek pasti langsung gol" kata hati Vian.
__ADS_1
Bagas dan Rey sudah lama menunggu Vian di tepi kolam renang. Tapi Vian tidak juga kembali dari toilet. Mereka langsung menyusul Vian masuk ke dalam rumah. Mereka melihat Vian duduk di ruang keluarga sendiri. Mereka langsung menghampiri Vian di ruang keluarga.
"Pantasan lama, jadi loe asyik duduk santai disini, bro" ucap Bagas.
"Tadi waktu gue dari toilet gue lihat Liana duduk disini jadi gue samparin deh" jawab Vian.
"Trus Liana nya mana?" tanya Bagas lagi.
"Kalian duduk dulu, gue mau tanya sama loe. Apa loe tahu adik ipar loe itu sering minum kopi tiap malam?"
Bagas menggeleng "dari mana loe tahu, bukannya itu susu" Bagas menunjuk susu di atas meja.
"Itu tadi gue yang buat, kalau loe ingin tahu jelas besok loe tanga pembantu loe. Tapi ingat jangan loe marahi pembantu loe itu. Satu lagi gue mau tanya, ini semua apaan" Vian mengambil desain-desain Liana.
"Itu desain Liana, emang kenapa?"
"Bukannya Liana jurusannya keuangan tapi kenapa dengan desain ini" Vian semakin tidak mengerti.
"Iya betul. Liana sebenarnya tidak ingin ambil jurusan itu tapi dia dipaksa ayah untuk ambil jurusan itu. Sebenarnya dia lebih minat jadi seorang perancang gedung dari pada keuangan" jawab Bagas.
*BERSAMBUNG
__ADS_1