Si Bungsu

Si Bungsu
42. Villa


__ADS_3

Semua oran sudah sampai di villa, mereka risau memikirkan Liana sama Vian yang belum sampai-sampai. Mereka sudah mencoba menghubungi ponsel mereka tapi tidak ada seorang pun yang aktif. Sudah hampir satu jam mereka baru sampai di villa.


"Assalamualaikum" ucap mereka masuk villa.


"Waalaikumussalam" jawab orang-orang yang sedang khawatir di ruang tamu.


Jeni melihat mereka datang "abang.. Lili.. kenapa lama kali sampainya".


Semua orang langsung berdiri melihat mereka datang dengan baik-baik saja.


"Maaf semuanya kami telat, tadi kami ketinggalan sama kalian. Karena tadi aku harus makan dulu sebelum minum obat. Dan nunggu bang Vian selesai sholat jumat dulu" jawab Liana berbohong.


"Untung Rey gak jadi nelvon polisi buat cari kalian" ucap Alex.


"Loe lebay, mana mungkin polisi mau menerima laporan orang hilang sebelum 24 jam" ucap Vian sambil duduk disebelah Jeni.


"Lagian kenapa no abang sama Lili pada gak aktif?" tanya Jeni.


Vian dan Liana sama-sama mengeluarkan ponselnya dan melihatnya "mati" kata mereka bersamaan.


"Pantasan kita nelvon gak ada yang masuk" Jeni kesal.


"Udahlah Jen, yang penting Lili sama bang Vian sudah sampai dengan selamat" sambung Sari.


"Apa kalian udah pada makan siang?" tanya Vian.


"Kita udah bro, kelamaan nunggu loe" jawab Alex.


"Berarti hanya kita berdua aja yang belum. Ayo Li, makan dulu" ajak Vian.


"Tunggu, bukannya makanan udah habis ya" ucap Kia.


"Nggak apa-apa. Mang Udin.... mang..." Vian memanggil penjaga villa.


"Bos, mang Udin lagi pergi ke kebun" kata Rey.


"Hmz.. kalau gitu kita makan di luar aja" ucap Vian.

__ADS_1


"Nggak usah bang, biar Lili yang masak" bantah Liana.


"Kamu emangnya gak capek" Vian melihat Liana.


"Cuman masak buat kita berdua gak bakalan capek bang. Ya udah Lili kedapur dulu" Liana langsung ke dapur.


"Bantuin gih" Vian menyuruh Jen.


"Li, butuh bantuan?" teriak Jen.


"Nggak usah Jen, aku bisa sendiri" jawab Liana dari dapur.


"Dengar kan bang, orangnya sendiri yang menolak" ucap Jeni.


"Kamu ini...." Vian langsung menyusul Liana ke dapur.


"Pepet terus sampai dapat" teriak Alex.


"Sudahlah jangan ledek mereka terus, lebih baik kita buat jadwal untuk liburan kita selama 3 hari 2 malam disini" Sari memberhentikan mereka.


"Gimana di gazebo belakang, sambil melihat pemandangan puncak" ajak Rey.


"Lebih baik disana, dari pada disini ganggu orang yang lagi bucin" sindir Jeni.


Mereka langsung pergi ke gazebo belakang rumah. Disana mereka bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Sebelah kanan mereka melihat kebun teh. Sebelah kiri mereka melihat kebun strawbery. sedangkan di tengah-tengah mereka melihat pabrik pengolahan strawbery dan teh.


"Wah pemandangan yang sangat indah, kalau lama-lama tinggal disini pasti nyaman" ucap Sari.


"Iya, Sar" sambung Kia.


"Kak, sejak kapan abang punya perkebunan disini?" tanya Jeni sama Rey.


"Sudah hampir satu tahun lebih Jen. Kebun strawbery itu semua milik Vian sedangkan kebun teh itu milik Alex. Tapi yang mengurus karyawan Vian semua" penjelasan Rey.


"Kak Alex, jadi kakak yang punya kebun teh itu?" tanya Jeni.


"Iya, tapi saham kakak masih dikit disana. Masih banyak saham Vian dan kakak juga ada villa disana tapi gak sebesar villa Vian" Alex menunjuk letak villa.

__ADS_1


"Apa daddy, kakek, sama om Beni tahu?" tanya Jeni lagi.


Alex menggeleng-geleng "ini rahasia kami bertiga. Ini semua kami bangun hanya karena kami dulu bosan tinggal di kota. Makanya Vian mengajak kakak untuk membeli semua ini tapi yang masih banyak uang Vian sih" jawab Alex.


Jeni manggut-manggut "ayo guys. Hentikan dulu foto-fotonya kita diskusi dulu buat kegiatan kita selama disini".


Liana di dapur sudah hampir selesai memasak di temani oleh Vian.


"Li, kamu sejak kapan bisa masak?" tanya Vian.


"Semenjak bunda tidak ada, dulu Lili hanya bantu-bantu bunda aja. Kalau antar kita berempat yang paling hebat masak itu Sari. Dia juga sering ajarin kita buat masak" Liana sedang sibuk memasak.


"Tapi kenapa Jen sampai sekarang tidak juga pandai masak?".


Liana tersenyum "dia bohong bang, Jen sudah bisa masak. Tapi dia malas aja mengakuinya, makanan yang waktu itu kita makan itu hasil masakan Jen juga ada. Abang ingat gak, kak Alex cuma betul 2 kan. Karena emang 2 itu masakan Sari, yang selebihnya masakan Jeni sama Kia".


"Anak itu, sampai sekarang masih juga jail. Mana ada cowok yang mau sama dia" Vian tersenyum.


"Ada kok bang, ada juga yang sudah lamar dia. Ada juga yang sudah mau menemui daddy sama mommy. Tapi Jen tidak mau sebelum abang yang duluan menikah. Jen juga mau mencarikan jodoh yang sesuai dengan abang, katanya bisa melawan kekonyolan dia. Bisa membantah semua ucapannya dia, bisa memberikan nasehat sama dia, dan bisa menerima dia dengan ikhlas. Dia juga tidak mau abang mendapatkan calon yang hanya ingin memanfaatkan abang dan ketenaran abang" cerita Liana sambil memasukan makanan kedalam piring.


"Apakah semua itu ada sama kamu" ucap Vian.


Liana kaget "apa, Lili.." Vian mengangguk.


"Abang jangan terlalu berharap sama Lili, abang belum tahu Lili sepenuhnya. Setelah abang tahu pasti abang akan meninggalkan Lili" ucap Lili sambil duduk di depan Vian.


"Tapi Jen hanya ingin kamu jadi calin abang".


Liana mengambil minum buat Vian " Lili tahu dan Jen pernah bilang juga. Tapi semua alasannya Jen juga udah tahu, walaupun dia masih tetap dengan pendiriannya".


"Emang ada apa?" Vian mengambil makanan.


"Suatu saat abang akan tahu juga, ayo makan dulu" ucap Liana.


Sekarang mereka langsung makan dengan pembicaraan yang tidak juga habis. Sampai selesai makan mereka masih ada aja yang mau dibahas.


*BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2