
Liana menarik napas sebelum cerita "yang nelvon tadi itu bibi Maya adik dari bunda. Paman Johan adalah adik bunda juga. Semenjak bunda meninggal mereka ingin sekali mengambil harta milik bunda. Mereka berfikir semua yang bunda punya dulunya adalah pemberian dari kakek dan nenek. Tapi semua itu adalah kerja keras dari bunda dan ayah".
"Beberapa tanah dan sebuah perusahaan yang atas namakan kakek maupun nenek sudah dikasihkan oleh ayah menjelang ayah meninggal dulunya. Tapi kalau Lili Mart sama DRL Corporati**on tidak akan pernah kami kasih. Karena itu adalah punya bunda sam ayah tapi mereka masih menginginkannya".
"Kalau abang boleh tahu, Lili Mart sama DRL Corporation itu apa?"
"Lili mart adalah super market yang besar di pusat kota itu bang. Kalau DRL Corporation adalah perusahaan ekspor dan impor barang. Abang pasti tahu perusahaan itu, soalnya tidak jauh dari Arc Enterprise".
"Abang tahu, tapi dari dulu abang mau menanamkan saham disana tidak bisa. Karena orang disana tidak ada yang memberitahukan siapa pemiliknya. Emang siapa yang mengurus perusahaan itu sekarang?"
"Sahabat ayah dan bunda, sebab ayah tahu pasti akan terjadi seperti ini jika mereka pergi".
"Kalau super market siapa yang mengurusnya?"
"Tante jauh Lili bang, anak dari sahabat nenek yang pernah mengurus bunda waktu kecil".
"Kenapa tidak kalian aja yang mengurus itu semua?"
"Tidak dibolehkan sama ayah dan bunda, sebab mereka yakin bibi sama paman pasti akan mengambilnya jika mereka tahu".
"Terus sekarang apa yang mau kamu lakukan?"
"Mereka masih berfikir Lili sakit makanya mereka tadi menghubungi Lili. Kalau Lili kembali sakit, itu akan lebih mudah buat mereka mengambilnya. Makanya semenjak ada abang Lili kuat bang, makasih banyak abang selalu ada disisi Lili" Liana meneteskan air mata.
"Tidak boleh nangis, abang akan bantu Lili sampai kapan pun. Tapi Lili harus janji sama abang jangan pernah buat menjauh dari abang" Vian menenangkan Liana.
"Bang, apakah bisa Lili mempertahankan semuanya nanti bang?".
"Bisa, abang pastikan" ucap Vian.
Semua orang kembali dan menghampiri mereka. Sari dan Alex datang membawa makanan.
"Assalamualaikum" ucap Sari dan Alex.
"Waalaikumussalam" jawab Vian dan Liana.
"Darimana aja kalian?" tanya Vian.
"Kita jalan-jalan ke kota, Sari kasih sama mereka" ucap Alex.
__ADS_1
"Ini.." Sari mengasih bungkusan sama mereka.
Liana mengambilnya "ini apaan?"
"Coba buka" ucap Sari.
Liana membuka bungkusan, ternyata isinya gorengan kesukaan Liana. Liana sangat senang "kamu tahu aja".
"Emang apaan?" tanya Vian.
"Gorengan" Liana memperlihatkan sama Vian.
"Pantasan raut wajahnya berubah, dari tadinya sedih sekarang udah tersenyum" Vian mencubit pipi Liana.
"Abang..." Liana melihat sama Vian
Vian langsung melepaskannya "maaf.."
"Kamu sedih kenapa, Li?" tanya Sari.
"Karena kalian tinggalkan" sambar Vian.
"Its ok" Liana memakan gorengan.
Mereka jalan mau masuk bersih-bersih, sampai di dalam mereka ketemu sama Kia dan Rey.
"Ha.. Kalian darimana?" tanya Vian.
"Kita jalan-jalan bos sambil mencek perkebunan" jawab Rey sambil menunduk.
Liana memegang tangan Vian "bang, jangan seperti itu. Sekali-kali kak Rey liburan kan gak apa-apa. Lagian juga sambil mencek perkebunan juga kan".
Vian melihat Liana "iya, abang gak marah kok".
Rey senang "Makasih calon buk bos" Rey memegang pipi Liana langsung lari ke kamarnya.
"Rey..." teriak Vian.
"Calon... buk bos.. siapa?" Sari tidak paham.
__ADS_1
Alex berbisik sama Sari "itu Rey menggoda Liana. Dia juga sudah membantu menyelamatkan Rey dari amukan Vian".
"Emang kenapa?" tanya Sari lagi.
"Biasanya Rey tidak pernah jauh-jauh dari Vian begitu lama. Kalau tidak bekerja bertemu clientnya" ucap Alex.
"Alex.. ikut gue sebentar" bentak Vian.
Alex terkejut "oke.." mengikuti Vian dengan perasaan takut.
Selesai maghrib semua orang sedang bersiap-siap mau makan malam di luar. Mereka sedang menunggu Jeni yang belum juga balik dari pergi tadi siang.
"Apa kalian tidak tahu kemana Jeni pergi?" tanya Alex.
Cewek-cewek menggeleng "kalau bos datang sekarang, dia tidak melihat Jen pasti dia akan mengamuk" ucap Rey.
"Untuk apa loe takut, tuh ada" Alex menunjuk Liana yang sedang duduk mencoba nelvon Jeni.
Semua orang tersenyum pada Liana, Liana melihatnya "kenapa kalian melihat aku seperti itu?".
"Kalau bos marah bantu kita ya, calon buk bos" rengek Rey pada Liana.
Liana merasa jijik dengan tingkah Vian "gak usah sok imut gitu, jijik aku melihatnya kak".
Keluar Vian dari ruang kerjanya "yuk kita berangkat" ajak Vian.
Semua orang masih diam dan menunduk "apa lagi?" tanya Vian.
Semua orang melihat sama Liana, Liana terpaksa menghampiri Vian.
"Bang, Jen belum balik juga sampai saat ini" Liana melihay Vian.
"Iya, abang udah tahu. Lagian Jen sudah disana sama seseorang, katanya mau di kenalkan sama kita" Vian melihat Liana.
Semua orang mengangkat kepalanya "dari mana loe tahu?" tanya Alex.
"Barusan Jen nelvon" ucap Vian.
"Kalau gitu ayo berangkat" ajak Liana.
__ADS_1
*BERSAMBUNG