Si Bungsu

Si Bungsu
65. Bertamu


__ADS_3

Vian sedang bekerja di ruang keluarga, Liana datang dengan membawa minum. "Bang ini kopi" ucap Liana.


"Makasih sayang" jawab Vian yang fokus ke letop.


Liana duduk di depan Vian "bang boleh Lili nanya".


"Boleh lah sayang, mau nanya apaan" Vian masih fokus pada letop.


"Sebenarnya pekerjaan abang apaan sih, kenapa abang seperti gangster seperti itu" Liana menunduk.


Vian tersenyum melihat Liana "abang pengusaha seperti yang kamu lihat. Itu semuanya perlindungan buat abang dalam mengurus semua usaha bang. Tidak ada didalam bisnis yang sempurna sayang, pasti ada kelicikan. Tapi abang tidak pernah seperti itu, abang akan seperti itu jika orang yang paling abang sayangi yang mengalaminya".


"Syukurlah bang, semoga apa yang abang lakukan bermanfaat" ucap Liana.


Vian menutup letopnya "besok ikut abang ya".


"Kemana bang?"


"Ke rumah Andi, setelah menikah kita kan belum berkunjung kesana".


"Yakin! hanya ingin berkunjung" Liana tidak yakin dengan Vian.


Vian kembali tersenyum "kamu memang tahu abang. Seperti yang kita rencanakan tadi, kita harus mendekati Andi untuk mengetahui dimana paman Pandi".


"Bukannya kita mau menemui Max sama Mimi?"


"Itu iya juga, tapi kita harus tahu apa rencana Andi. Kamu masih penasarankan kenapa Andi selingkuh".


"Iya, kenapa?"


"Kamu tahu mantan Jeje sebelum dekat sama Jeni?".


"Tahulah, dia hanya ingin memanfaatkan Jeje. Tapi Jeje tidak pernah kasih tahu apa penyebabnya dia putus".


"Apa kamu tahu rumah Andi selain rumah orang tuanya?".


"Aku tahu, dia pernah mendapatkan hadiah dari ayah sewaktu nikah sama mbak Anis. Tapi mas Andi tidak pernah membawa mbak Anis kesana".


"Kamu tahu alasannya?".

__ADS_1


Liana menggeleng "kalau gitu kita besok akan kesana" ucap Vian.


"Kemana?" Liana mengikuti suaminya yang jalan ke kamar mereka.


"Ke rumah Andi tapi bukan ke rumah orang tuanya tapi ke rumah hadiah dari ayah" ucap Vian.


"Mau ngapain kesana?"


"Nanti kamu akan tahu setelah kamu melihatnya dan kirim pesan sama istrinya untuk juga datang kesana" Vian masuk kamar.


"Emangnya ada masalah apa bang?" Liana penasaran.


"Sini..." Vian memanggil Liana.


Liana mendekati Vian, Vian membisikan rencana Rey yang pernah dikatakannya. Setelah mendengar penjelasan Liana, Liana sangat kaget mengetahui semuanya.


Pagi harinya mereka sudah siap mau pergi ke rumah Andi. Mereka hanya pergi berdua, di jalan Liana mengirim pesan sama Anis dan Jeje untuk datang kesana. Anis datang kesana dengan menyamar sebagai pembantu. Sebab Andi sedang membutuhkan seorang pembantu untuk membersihkan rumah itu.


Anis mengetuk pintu, tidak lama kemudian datang Dina membukanya. Dina memakai baju tidur yang sangat seksi dan acak-acakan seperti orang yang baru siap melakukan pertempuran hebat.


"Maaf cari siapa ya?" kata Dina dengan angkuhnya.


"Saya Beti nyonya, saya pembantu yang di suruh datang kesini" ucap Anis.


Mereka jalan masuk, Andi keluar dengan memakai boxer dan penampilan seperti bangun tidur "siapa sayang!" ucap Andi dari lantai atas.


Anis sangat kaget melihat Andi ada disana, tapi dia harus pura-pura tidak mengenalnya.


"Ini sayang, pembantu yang kamu bilang kemaren" jawab Dina.


"Owh..kamu mulai kerja aja sekarang. Sayang ayo kita lanjut lagi" ucap Andi.


Anis sangat sakit hati melihat kemesraan Andi dengan Dina. Tapi Anis hanya diam tetap dengan rencananya. Anis mengikuti Andi dan Dina dari belakang ke kamar.


Andi dan Dina masuk ke kamar, mereka langsung melakukan kemesraan. Anis mendengarnya dari luar kamar sambil menahan tangisannya. Selesai mereka melakukannya, mereka bercakap-cakap di dalam kamar.


"Sayang, bagaimana kita selanjutnya. Hampir dua tahun kita seperti ini tanpa status. Meskipun kamu memberikan rumah ini untuk aku dan membawa aku di setiap acara kantor mu, memperkenalkan aku sebagai pacar mu tapi sampai kapan?" tanya Dina.


"Sampai aku mengalahkan Liana dan merebut hartanya".

__ADS_1


"Kalau kita ketahuan oleh istri mu bagaimana?".


"Itu tidak akan terjadi, kalau terjadi pun aku akan memilihmu sayang" Andi mencium Dina dengan bertubi-tubi.


Ternyata Jeje juga datang kesana, dia langsung membuka pintu dengan paksa. "Hentikan, sekarang kalian berdua keluar. Ada seseorang yang ingin menemui kalian" bentak Jeje.


Andi dan Dina sangag kaget melihat kedatangan Jeje. Mereka langsung memakai pakaiannya dan menyusul Jeje keluar. Diluar sudah ada Vian, Liana, Jeje, dan Anis yang sedang menyamar.


"Ada apa ini, kenapa kalian ada disini?" teriak Andi.


Liana berdiri "jadi kamu selingkuhan mas Andi. Tidak dapat dari Jeje kamu pergi sama kakaknya, kamu perempuan macam apa" bentak Liana.


"Kamu jangan bentak-bentak dia, dasar perempuan penyakitan" teriak Andi.


"Stop..." Vian menghampiri mereka "kamu jangan sekali-kali bentak istri saya. Dulu saya diam karena saya tidak ada hubungannya sama kalian. Sekarang kamu jangan main-main sama saya".


"Ho... sudah menikah, jadi sekarang kamu cari perlindungan untuk mengambil harta kamu lagi. Tidak akan bisa, karena paman Pandi ada sama saya" Andi.


"Benar, kita tidak akan bisa. Tapi setelah kamu bercerai dengan mbak Anis, semua akan balik menjadi milik saya. Apa kamu lupa, syarat yang diberikan paman Pandi sewaktu kamu ambil paksa harta aku" Liana.


"Tidak akan bisa, sebab Anis tidak mengetahui semua ini. Selagi aku masih tidak ketahuan, itu tidak akan terjadi" Andi.


"Mas sangat yakin sekali, kita lihat saja nanti, sampai ketemu di pengadilan" ucap Jeje.


"Maksud kamu" Andi kebingungan.


Jeje melihat sama Anis yang menyamar, dia membuka samarannya. Andi dan Dina terkejut melihat Anis yang menangis sambil membuka penyamarannya.


"Aku tidak menyangka kamu akan melakukan ini sama aku. Selama ini aku diam dan pura-pura tidak tahu hanya ini balasan kamu. Kamu jangan berharap apa lagi, aku sudah mendengar dan melihat semua yang kamu lakukan. Dian selamat, kamu berhasil mengambil Andi dari aku. Tapi sudah cukup kalian pura-pura selama ini di dekat aku. Aku muak, dengan semua ini. Ayo Je, antar mbak pulang" Anis pergi meninggalkan mereka.


Jeje melihat sinis sama Andi dan Dian "jangan sering buat dosa, halalin tuh anak orang yang sedang hamil anak mas" ucap Jeje.


Andi sangat kaget dan melihat Dian "kamu hamil?".


Dian mengangguk "iya, aku lupa makan pil kb waktu kita pergi liburan ke bali bulan lalu" jawab Dian sambil menunduk.


"Ayo bang kita pergi, jijik aku melihat mereka" Liana mengajak Vian pergi.


Andi marah sama Dian "kenapa kamu bisa ceroboh itu sih".

__ADS_1


"Maafin aku.." Dian menangis.


*Bersambung


__ADS_2