
Sewaktu mereka di kamar tamu, datang Mbok Ina. "Ada apa mbok?" tanya Vian.
"Di luar ada tuan Rey dan Alex" ucap mbok Ina.
"Iya mbok, mbok disini ya jagain Mimi sebentat" kata Vian.
"Iya tuan" jawab mbok Ina.
Mereka semua keluar "sayang bawa minum ke ruang kerja dan bilang sama Alex sama Rey untuk menyusul kesana" ucap Vian.
"Iya bang" Liana langsung pergi ke ruang tamu.
Vian, Max, dan Bagas langsung ke ruang kerja Vian. Ruang kerja ayah Liana sudah menjadi ruang kerja Vian semenjak Vian jadi suami Liana. Itu pun sudah kesepakatan dari kakak Liana.
"Kak Rey, kak Alex, di suruh langsung ke ruang kerja Vian" ucap Liana.
"Baik buk bos" ucap Alex dan Rey meledek Liana.
"Sudahlah kak, gak usah meledek Lili terus. Nanti kedengaran sama Vian baru tahu ras" ucap Liana melihat mereka pergi dengan tersenyum.
Mereka masuk ke ruang kerja Vian, disana sudah ada Vian, Bagas, dan Max.
"Vian, bro" ucap Alex.
"Bos" ucap Rey.
"Rey ini Max bawahan loe di kantor kakek, Alex kenalin Max, orang yang membawa Mimi sepupu Liana" Vian memperkenalkan mereka. Mereka saling berjabat tangan dan kenalan.
"Jadi ada apa kamu panggil kita kesini?" tanya Alex.
Lalu Vian menceritakan semua apa yang sudah di ceritakan Mimi tadi.
"Berarti kita harus cari tahu teman Andi itu bos" ucap Rey.
"Iya benar, setidaknya kita tahu nama atau gak wajah orang itu seperti apa" kata Vian.
"Kita tanya sama Mimi dong Bro" ucap Alex.
__ADS_1
"Itu masalahnya, dia tidak tahu nama sama dimana dia bekerja" sambung Vian.
"Maaf sebelumnya bos, setahu saya Mimi suka menggambar seperti Lili. Saya sempat melihat dia melukis di rumah" kata Max.
"Gimana kita minta saja dia buat melukis wajah orang itu, pasti dia ingat kan" kata Bagas.
"Iya benar" kata mereka serentak dengan gembira.
Kemudian datang Liana membawa minum dan snak. Liana bingung melihat mereka sangat senang.
"Kenapa nih, kelihatannya pada happy" ucap Liana.
"Sayang, bisa bawa Mimi sebentar" Vian.
"Kenapa?" Liana penasaran.
"Bawa saja dek, nanti adek akan tahu juga" sambung Bagas.
Liana langsung ke kamar Mimi dan membangunkannya. Kemudian Liana membawa Mimi ke ruang kerja bersama mbok Ina.
"Itu Mimi Rey, Lex" ucap Vian pada Rey dan Alex.
"Kamu tenang ya, kamu ingat kan siapa teman Andi yang ingin menyentuh kamu itu" Max bicara selembut mungkin.
Mimi mengangguk "bisa kamu lukis wajahnya seperti kita di rumah melukis papa sama mama. Aku sama Lili hanya ingin tahu dia seperti apa" sambung Max.
"Iya, tapi sama kamu kan" Mimi sedikit ketakutan melihat orang disekitarnya.
"Iya" jawab Max.
"Rey, ambil kertas sama pensil" perintah Vian.
Rey mengambilnya dan memberikan pada Max. Max memberikan sama Mimi, kemudian Mimi mulai menggambar wajah orang itu. Tidak beberapa menit kemudian Mimi selesai menggambarnya.
"Ini sudah selesai" Mimi memberikan pada Max.
Vian memberi kode sama Liana untuk membawa Mimi ke kamar lagi.
__ADS_1
"Mbok, bawa Mimi ke kamar lagi ya. Beri dia makanan tadi" ucap Liana pada mbok Ina.
"Iya non, mari non" Mbok Ina membawa Mimi tapi Mimi masih memegang tangan Max.
"Nanti aku kesana, sekarang pergi sama mbok Ina sebentar ya" ucap Max.
Mimi mengangguk dan pergi bersama mbok Ina. Mereka melihat mbok Ina dan Mimi sudah keluar dari ruang kerja tersebut. Max memberikan hasil gambar tadi pada Rey.
"Coba kita lihat" ucap Alex.
Mereka memperhatika gambar tersebut. Vian, Rey, Alex, dan Bagas terkejut melihat hasil gambar itu. Liana melihat reaksi mereka sangat heran.
"Kok pada kaget gitu" ucap Liana.
"Bro, udah saatnya kita berurusan lagi sama nih orang" ucap Alex.
Vian tersenyum "sepertinya iya. Tunggu, dimana Andi bisa kenal dengan nih orang. Bukannya dia di luar negeri".
"Bang, apa abang kenal dengan orang itu?" tanya Liana.
"Ini adalah musuh Vian, dek. Namanya Rian, mereka sudah bermusuhan semenjak zaman sekolah dulu" jawab Bagas.
"Mas, mas gak ingat sama orang ini. Dia kan pernah datang waktu acara kantor ayah dulu. Orang ini sepupu Dian, Dian pernah datang bersama" kata Liana.
"Mas lupa, waktu itu mas sebentar karena mas harus ke rumah sakit" ucap Bagas.
"Jadi bagaimana ini bos?" tanya Max.
"Kamu tenang saja, Mimi akan bertemu dengan orang tuanya sebentar lagi. Kalau dari awal tahu Rian dibalik semua ini pasti akan mudah kita menemukan paman" ucap Vian.
"Apa rencana kita sekarang, bro?" tanya Alex.
Vian tersenyum licik "Rey atur pertemuan aku sama Rian secepatnya".
"Baik bos" ucap Rey.
Setelah mereka membicarakan rencana untuk menghadapi Rian. Mereka langsung makan bersama.
__ADS_1
*Bersambung