
Liana turun dari kamarnya jalan ke meja makan.
"Morning.."
"Morning dek" ucap Bagas dan Riri.
"Molning unty" jawab Fani sambil makan.
"Dek, seperti yang mas bilang tadi malam kamu mau kan nemui Vian"
"Iya nanti Lili ke kantornya selesai dari kampus" Liana mengambil nasi goreng.
Vian sedang pusing di ruangannya sambil melihat desain klinik yang akan di bangun. Sampai saat ini juga dia belum menemukan desain yang pas menurutnya. Rey masuk ke ruangan Vian.
"Bos, barusan Bagas menghubungi saya. Katanya nanti siang si bungsu akan datang kesini menemui bos" ucap Rey.
Vian senang "yang benar kamu, apa yang buat dia berubah fikiran".
"Saya tidak tahu bos"
"Jadi apa saja jadwal saya hari ini, Rey?"
"Sepuluh menit lagi kita ada rapat, jam 10 menemui client di luar, siang sampai malam nggak ada selain mebunggu si bungsu datang" penjelasan Rey.
__ADS_1
"Baiklah, kamu boleh keluar" usir Vian.
Setelah dari kampus Liana langsung datang ke perusahaan Vian. Sampai disana dia menemui resepsionis menanyakan diman ruangan Vian. Tapi mereka tidak mau mengasihnya karena Liana belum buat janji sama Vian.
"Siang mbak, saya Liana. Saya mau ketemu sama bapak Vian Prabowo ada?" tanya Liana.
"Apa mbak udah ada janjo sama pak Vian?"
Liana menggeleng "kalau belum mbak tidak bisa menemuinya" ucap resepsionis itu.
"Pak Vian ada di atas atau sedanf ada dimana, mbak? kalau boleh tahu?"
"Pak Vian sedang keluar mbak, kalau mbak mau menunggunya silakan disana" wanita itu menunjuk sofa yang ada di ruang itu.
Hampir satu jam Vian belum juga datang dan Liana masih menahan laparnya. Liana sudah tidak kuat dia mencoba berdiri. Sewaktu berdiri pandangannya sudah kabur dan kepalanya pusing.
Vian melihat Liana menunggunya, dia langsung menghampiri Liana. Sampai disana Liana sudah ambruk dan pinsan di pangkuan Vian. Vian sangat khawatir langsung mengangkat Liana ke ruangannya.
"Liana..." teriak Vian.
Semua yang ada disana cemas, termasuk resepsionis dan satpam disana.
"Kenapa kalian tidak menyuruhnya menunggu di ruangan saya. Karena kalian dia pinsan kan" bentak Vian. Semua orang terdiam dan menunduk ketakutan karena kemarahan Vian. Vian langsung diangkat Vian dan dibawa le ruangannya.
__ADS_1
Sampai di ruangannya sudah ada makanan untuk Liana. Sebab Vian sudah tahu Liana akan datang makanya sekretarisnya menyiapkan semuanya. Sebab Liana tidak boleh telat makan dan minum obat.
"Susan telvon dokter pribadi saya, suruh datang kesini" ucap Vian sewaktu melewati meja sekretarisnya. Sedangkan Rey membantu membuka pintu ruangan Vian.
Vian meletakan Liana di atas sofa, dia mencoba juga membangunkan Liana. Beberapa menit kemudian datang Susan dan seorang dokter.
"Bos, dokter Fendy sudah datang" ucap Susan.
Vian langsung berdiri "paman, coba periksa Liana paman" Vian khawatir.
"Kamu harus tenang Vian, biar paman periksa" dokter langsung memperiksa Liana.
"Liana kenapa paman?" vian sangat khawatir.
"Dia tidak kenapa-kenapa, dia cuma telat makan. Sepertinya dia ada penyakit serius pada fisik dan psikisnya. Itu lah penyebabnya pinsan dan tidak boleh telat makan dan minum obat" penjelasan dokter Fendy.
"Iya paman betul, mungkin kesalahan Vian tadi paman. Dia menahan laparnya karena menunggu Vian" Vian merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Vian, sebentar lagi dia sadar dan berikan dia makan. Paman tidak akan memberikan obat, pasti dia punya obat khusus kan" ucap paman.
"Iya paman" Vian menyesal.
"Kalau begitu paman pamit, jangan risau dia baik-baik saja" paman langsung pergi diantar Susan dan Rey.
__ADS_1
*BERSAMBUNG