Si Bungsu

Si Bungsu
8. Kedatangan Vian


__ADS_3

Setelah dari kampus Liana menunggu Jeni di gerbang kampus. Karena mereka ada janji mau makan bareng dengan Sari sama Kia. Tidak lama kemudian Liana melihat mobil Jeni menghampirinya.


Liana membuka pintu mobil dan Jeni kagum melihat penampilan Liana. "Kamu cantik bangat Li dengan hijab itu".


"Iya makasih Jen, doain aku ya semoga istiqomah"


Jeni langsung memeluk Liana saking gembiranya karena mereka sudah lama tidak ketemu.


"Udah ah, kasihan Sari sama Kia nunggu kita lama" Jeni melepaskan pelukan Jeni.


"Oh iya" Jeni menjalankan mobilnya.


Tidak lama kemudiab mereka sampai di kafe biasa mereka datangi. Dari jauh Sari dan Kia melihat Liana dan Jeni datang. Reaksi mereka sama dengan Jeni tadi, mereka sangat kagum melihat penampilan Liana. Mereka langsung memeluk Liana tanpa memperdulikan semua orang disana.


Mereka pada nangis sambil memeluk Liana "kok pada nangis sih. Aku pulang aja ya kalau kalian pada nangis. Sepertinya kalian nggak happy ketemu aku".


Mereka semua melepaskan pelukannya dan menghapus air mata masing-masing.


"Jangan gitu Li, kita happy kok ketemu sama kamu. Iya kan Kia, Jen" ucap Sari.


"Iya, sebab kita kangen dan terlalu happy makanya nangis barusan" sambung Kia.


Mereka jalan duduk di kursi masing-masing. "Kamu semenjak kapan pakai hijab, Li?" tanya Sari.

__ADS_1


"Sudah seminggu, semenjak aku mulai ke kampus minggu lalu" jawab Liana.


"Jadi kenapa kamu nggak bawa mobil lagi?" Kia penasaran sebab semenjak Liana mulai lagi aktivitasnya dia dilarang sama keluarganya untuk membawa mobil sebab mereka masih khawatir dengan kondisi psikis Liana.


Liana terdiam sebelum menjawabnya "karena.. karena aku gak di izinin sama mas Dani dan mas Bagas untuk bawa mobil. Sebab aku masih harus diawasi karena aku menderita trauma yang berat karena kehilangan ayah bunda dan masalah aku putus dengan kak Reza" Liana menunduk sambil menahan air matanya.


"Kamu yang sabar dan kuat, Li. Kita sayang dan peduli sama kamu. Kita ingin melihat Liana yang cerewet, bawel, dan selalu tersenyum seperti dulu" ucap Jeni.


"Berapa lama kamu harus diawasi dan tidak boleh keluar sendiri, Li?" tanga Sari.


"Semenjak satu bulan yang lalu aku berobat kata mas Bagas tidak lama lagi sekitar satu bulanan lah".


Pelayan datang membawa makanan "itu makanan kita udah sampai" Kia melihat pelayan datang.


"Iya Sar, santai aja kok. Kalau soal makanan aku nggak ada larang kok" Liana mengambil minum.


Setelah makan tiba-tiba ponsel Jeni berbunyi dan langsung mengangkatnya.


"Iya dad" jawab Jeni.


"Jen, kamu dimana?"


"Di kafe dad, sedang makan sama Liana, Sari, dan Kia"

__ADS_1


"Jadi Liana udah sehat?"


"Belum sepenuhnya dad tapi sekarang lebih baik dari kemaren"


"Alhamdulillah, titip salam daddy dan mommy sama Liana ya"


"Okey dad. By the way kenapa daddy nelvon, Jen?"


"Oh iya daddy jadi lupa. Kamu sekarang ke bandara ya jemput abang kamu"


Jeni sedang minum langsung kaget "apa, abang balik. Kenapa dad? Udah 10 tahun gak balik-balik sekarang udah mau sampai aja disini".


"Nanti di rumah di bahas, setengah jam lagi dia sampai. Jangan sampai kamu telat ya. Setelah itu langsung ke rumah, karena opa dan oma disini sekarang"


"Okey dad, nanti setelag ngantar Lili pulang Jen langsung ke bandara" Jeni langsung menutup teleponnya.


"Jen, daddy yang nelvon?" tanya Liana.


"Iya nih, aku di suruh ke bandara jemput abang aku baru balik dari London" Jeni memasukkan ponsel kedalam tas.


Semua kaget karena tiba-tiba saja Jeni bilang abangnya. Sebab mereka tidak tahu kalau Jeni ada kakak laki-laki. Jeni juga tidak pernah memberitahu kalau dia ada seorang kakak. Mereka mengira kalau Jeni itu anak tunggal makanya dia sangat manja dengan keluarganya. Meskipun dia kaya raya tapi tidak pernah sombong dan membedakan teman.


*BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2