Si Bungsu

Si Bungsu
48. Telepon


__ADS_3

Liana keluar dari kamarnya, melihat sekeliling tidak ada orang. Liana langsung menuju gazebo belakang villa. Sewaktu Liana jalan kesana, Vian keluar dari ruang kerjanya. Vian langsung pergi membuat air minum. Kemudian Vian menyusul Liana ke belakang dengan membawa minum dan snak.


"Assalamualaikum" ucap Vian.


Liana sedang berdiri melihat pemandangan membalikkan badannya "waalaikumsalam".


"Yang lain mana?" tanya Vian sambil meletakan apa yang dibawa di gazebo.


Liana menghampiri Vian "nggak tahu, tadi waktu Lili siap sholat dan keluar. Semua orang sudah tidak ada, makanya Lili langsung saja kesini".


"Yang abang tahu yang keluar cuma Jen, Rey sama Kia. Kalau Alex sama Sari abang tidak tahu kemana" Vian memberi Liana minum.


"Ini abang yang buat?" Liana mengambilnya.


"Iya, bagaimana rasanya? ini perdana abang buat untuk orang lain" ucap Vian.


Liana mencobanya "gulanya pas dan segar juga"


Vian ikut mencobanya juga "bang bohong kan!" ucap Liana.


"Bohong apaan?" Vian tidak paham.


"Katanya perdana buat untuk Lili, tapi ini udah kedua kalinya abang buat minum untuk Lili".


"Masa. Kapan?" Vian lupa.


"Waktu di apartemen Jen, abang kan pernah buat hot cokelat buat Lili".


"Oh iya, abang lupa" Vian menggarut-garut kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Liana berdering, Liana melihat panggilan itu ternyata bibi Maya.


"Assalamualaikum bi" Liana mengangkat telepon.


"Kamu dimana?"


"Lili di puncak lagi liburan sama teman-teman, bi"


"Kapan pulang, soalnya bibi sama paman Johan mau ketemu. Ada yang mau bibi bicarakan sama kamu"


"Emang bicara apaan bi?"


"Mau bicara mengenai warisan bunda kamu"


Raut wajah Liana sudah berubah, itu semua tidak lepas dari Vian yang memperhatikannya.


"Karena mereka sudah pernah kami temui tapi mereka tidak mau bicara sama kami".


"Kalau mereka tidak mau ngapain juga bibi bicara sama Lili".


"Karena kemaren bibi sudah ketemu sama pengacara bunda kamu. Katanya perusahaan sama mini market atas nama kamu. Makanya keputusan ada sama kamu".


"Kalau mini market memang atas nama Lili, bi. Tapi perusahaan atas nama bunda dan ayah. Kalau bibi sama paman mau ambil itu silakan bicarakan sama mas Dani. Kalau mengenai mini market sampai kapan pun Lili tidak akan pernah kasih sama bibi maupun paman" Liana sudah marah.


"Kamu memang keponakan tak tahu diuntung. Selama orang tua kamu sakit siapa yang menjaga kalian dan orang tua kalian" bibi ikut kesal.


Liana tertawa "nggak salah apa yang bibi bicarakan. Mana pernah bibi menjaga kami, Lili aja minta tolong sama anak bibi, bibi yang larang mereka temui Lili. Oya bi, jangan harap bibi dapat mengambil harta peninggalan ayah sama bunda. Karena tidak ada lagi harta kakek maupun nenek sama kami. Semuanya sudah kami serahkan sama bibi dan paman".


"Oke, kami sudah minta baik-baik tapi kalian masih membangkang jadi kami akan membawa ke jalur hukum" teriak bibi.

__ADS_1


"Bawa aja, Lili gak takut" Lili langsung mematikan ponselnya.


Vian khawatir melihat wajah Liana yang sudah banyak mengeluarkan keringat.


"Kamu tidak apa-apa kan Li?" tanya Vian.


"Tidak bang. Bang Lili mau telvon mas Dani" Liana sedang melihat ponselnya sambil cari nomor ponsel Dani.


"Li, jangan. Ada yang mau abang katakan sama kamu" Vian memberhentikan Liana.


Liana melihat Vian "apa abang sudah tahu masalah ini?" Liana curiga sama Vian.


Vian mengangguk "iya, Li. Dimas pernah cerita sama abang. Kemaren mas Dani juga minta tolong sama abang mengenai pengacara".


"Kenapa mereka tidak pernah kasih tahu Lili. Abang juga tidak kasih tahu Lili" Liana kecewa.


"Abang dilarang sama Dimas dan bang Dani. Katanya takut kesehatan kamu akan menurun. Tapi dari tadi abang perhatikan kamu biasa aja meskipun kamu berkeringat" Vian memberikan sapu tangannya pada Liana.


Liana mengambilnya dan membersihkan keringatnya "apa abang akan kasih tahu Lili".


"Abang masih tanya-tanya masalahnya apa. Sebab abang belum bicara banyak sama mas Dani. Rencana mas balik dari sini abang akan bicara sama mas Dani dan Alex yang akan jadi pengacara kamu bersama pengacara lainnya yang ada di Vian Firm" jawab Vian.


"Sebenarnya apa masalahnya kalau boleh abang tahu?" tanya Vian.


"Bagaimana Lili mau cerita bang, ini masalah tidak tahu awalnya. Masalah keluarga yang tak kunjung selesai" Liana bersedih.


"Abang akan dengarkan" ucap Vian.


*BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2