
Liana sedang menunggu sahabat-sahabatnya untuk makan di sebuah kafe kesukaan mereka. Tapi mereka belum juga datang. Mereka terlambat datang karena ada beberapa pekerjaan yang harus mereka selesaikan terlebih dulu.
Sambil menunggu mereka datang Liana mengerjakan skripsinya. Vian bersama Rey juga masuk di kafe yang sama. Vian melihat Liana yang sedang duduk sendiri. Mereka langsung menghampiri Liana yang sedang sibuk dengan letop di depannya.
"Assalamualaikum.." ucap Vian
Liana melihat siapa yang datang sambil menjawab salam "waalaikumussalam.."
Liana kaget melihat Vian yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum tipis padanya.
"Bang Vian, ngapain disini?"
Vian duduk di samping Liana "mau makan, barusan ketemu client dekat-dekat sini"
Liana hanya ber-oh saja dan langsung fokus pada letopnya kembali.
Vian melihat kopi ada di depan Liana "kamu masih minum kopi?" tanya Vian.
"Iya, di rumah sudah gak boleh minum kopi karena abang kemaren kasih tahu mas Bagas. Terpakasa deh disini aku minum" jawab Liana tanpa melihat Vian.
__ADS_1
"Mereka larang kamu untuk kebaikan kamu Liana. Saya tahu kamu kesal sama saya kemaren maupun sekarang kamupun kesal ketemu saya".
Liana melihat Vian "nggak kok bang, aku tahu itu kebaikan buat aku sendiri. Tapi aku mohon sama abang jangan ikut campur masalah aku. Sebab abang baru kenal sama aku, abang juga tahu dengan penyakit aku. Aku mohon sama abang jangan ganggu aku lagi dan kalau ketemu jangan tegur aku" Liana memohon pada Vian dengan berderai air mata.
Vian kasihan melihat Liana "jangan nangis donk. Saya minta maaf jika perkataan saya menyinggung kamu. Tapi boleh nggak saya tidak menjauhi kamu. Saya ingin lebih mengenal kamu".
Sewaktu mereka sedang asyik bicara, Jeni dan sahabatnya datang. Jeni kaget melihat Liana menangis dan ada kakaknya disana.
"Abang.. Li, kok nangis? Abang apaan Lili sampai nangis?" Jeni langsung marah sama Vian.
"Jeni! Ngapain kamu disini?" Vian juga kaget.
"Mau makan juga"
"Ok. Tapi abang belum jawab pertanyaan adek, kenapa Lili nangis?" Jeni curiga dengan kakaknya.
"Sut, Lili siapa? Abang aja nggak kenal dengan sahabat kamu yang itu. Siapa juga yang buat dia nangis" Vian tidak tahu kalau Liana itu sahabat Jeni dan panggilannya Lili. Sebenarnya dia lupa atau pura-pura lupa, karena Bagas sama Riri sering panggil Liana dengan Lili.
Jeni mencubit Vian "abang ku sayang yang nyebelin bangat. Orang yang di depan abang itu sahabat aku Liana. Kita sering panggil dia dengan Lili. Ini lah Lili yang sering aku ceritakan sama abang, bodoh".
__ADS_1
"Ya mana abang tau kalau Liana ini Lili sahabat kamu itu. Abang kenal sama dia karena dia adik ipar dari sahabat abang" jawab Vian.
"Bicara sama abang seperti aku sedang sidang skripsi saja gak ada ujungnya perdebatan ini. Li, aku mau tanya kamu kenal dengan abang aku ini?" Jeni tanya Liana.
"Iya, abang Vian sahabat mas Bagas. Waktu itu dia pernah makan malam di rumah. Kalau tidak salah mereka juga mau ada proyek klinik bareng" jawab Liana.
"Owh.. jadi malam itu pergi ke rumah kamu. Oya bang kenalin ini sahabat-sahabat aku, Liana sudah kenal. Berarti Sari sama Kia" Jeni memperkenalkan sahabatnya dan mereka saling berjabat tangan.
Jeni mencari Rey "kak Rey mana bang?".
"Dia sudah kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan" jawab Vian.
"Kalau gitu abang gabung sama kita aja makannya tapi jangan lupa traktir kita. Ayo guys kita duduk" Jeni langsung duduk bersama sahabatnya.
"Aku butuh penjelasan abang, kenapa Lili nangis tadi" bisik Jeni langsung pergi duduk disebelah abangnya.
Tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang. Mereka makan sambil bercanda dan cerita waktu kuliah sama pekerjaan mereka. Vian hanya mendengar mereka sambil geleng-geleng. Karena kebanyakan yang mereka bicarakan adalah cowok semua.
*BERSAMBUNG
__ADS_1