Si Bungsu

Si Bungsu
67. Pertengkaran


__ADS_3

Semua orang sudah menunggu kepulangan Andi. Andi masuk rumah "Andi.." panggil papanya yang sedang duduk bersama Jeje dan Anis.


Andi mendekati mereka "apa yang sebenarnya terjadi?" tanya papa.


Andi hanya diam "pa, mas Andi selingkuh dengan Dian. Sekarang Dian sedang hamil anaknya. Papa juga harus tahu ini, sebenarnya perusahaan orang tua Liana bukan mereka sendiri yang memberikan pada mas tapi mas mengambil paksa dan sekarang mas menyembunyikan paman Pandi" jawab Jeje.


Papa kaget dan geleng kepala "jadi itu alasan kamu Nis, kamu mau pulang ke rumah orang tua kamu?" tanya papa ke Anis.


"Iya pa" jawab Anis menunduk.


"Jadi sekarang apa keputusan kamu sekarang, papa tidak akan ikut campur lagi masalah kalian" ucap papa.


"Anis.. Anis.." Anis gugup "Anis mau cerai sama mas Andi, pa".


Andi melihat sama Anis "gak, aku gak akan ceraikan kamu" tolak Andi.


Anis berdiri menghampiri Andi "kenapa? Apa kamu belum puas menyakiti aku. Selama ini aku diam, aku selalu membela kamu dari pertanyaan papa dan Jeje mengenai kamu. Tapi apa balasan kamu sama aku, kamu selingkuh dengan sepupu aku" Anis memukul Andi sambil menangis.


"Maafin aku, aku terpaksa melakukan itu, karena... karena..." Andi tidak bisa mengungkapkan sebenarnya.


"Karena apa! Karena apa?" bentak Anis.


"Karena dia menggoda aku dan membantu aku mengambil perusahaan keluarga Liana" jawab Andi.


"Bohong" jawab Jeje "mas yang menggodanya, aku tahu dari pertama aku memperkenalkan Dian sama kalian. Mas sudah tertarik dengan Dian karena dia cantik dan seksi. Mas juga yang menjanjikan banyak harta sama dia. Kemudian mas minta bantuan dia untuk membantu mendapatkan perusahaan itu" tegas Jeje.


Andi tercengang mendengar apa yang dikatakan Jeje, papa langsung menampar Andi. "Kamu sudah keterlaluan, papa akan mendukung keputusan kamu, Nis" ucap papa.

__ADS_1


"Iya pa, Anis pamit" Anis langsung meninggalkan rumah itu.


"Mas tunggu saja panggilan pengadilan dari mbak Anis dan mas tunggu saja kehilangan perusahaan itu" ucap Jeje.


"Tidak akan bisa, sebab paman Pandi hanya aku yang tahu dimana" Andi.


Jeje tersenyum "mas lupa suami Lili siapa, dia tidak ada tandingannya dari mas. Mas hanya pengusaha kecil sedangkan Vian udah tahu semua orang dengan kepintarannya sama keberhasilannya selama ini".


Papa kaget mendengar Liana sudah menikah "apa Je, Liana sudah menikah?".


"Iya pa, hampir seminggu. Tapi resepsinya belum karena bang Vian lagi sibuk sekarang" jawab Jeje.


"Syukur la Je. Kamu Andi, jangan harap papa akan bantu kamu. Apapun yang terjadi sama kamu, kamu juga tidak akan bisa ketemu sama anak kamu" ucap papa.


"Maksud papa!" Andi tidak mengerti.


"Pa, ayo kita istirahat. Jangan fikirkan ******** ini" Jeje mengajak papa masuk kamar.


"Ahhh...." teriak Andi karena kesal.


Andi langsung pergi lagi meninggalkan rumah tersebut menuju rumah Dian. Sampai disana Andi sudah mabuk berat dan tengah malam, Andi masuk kamar Dian. Dia melihat Dian sedang tidur pulas, dia langsung menarik selimut Dian dengan kasar. Dian tidur dengan pakaian tidur yang sangat seksi semakin menggoda Andi. Andi langsung membuka bajunya dan langsung melakukan hubungan dengan Dian. Andi melakukannya dengan sangat paksa dan Dian sangat kesakitan.


Pagi harinya Dian duduk melamun sendirian di depan televisi. Andi baru bangun tidur melihat Dian tidak ada di sebelahnya. Andi langsung bersih-bersih kemudian dia turun mencari Dian. Dia melihat Dian sedang duduk sambil menangis, dia langsung menghampirinya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Andi.


Dian langsung menghapus air matanya "tidak apa-apa, ayo sarapan" Dian langsung pergi ke dapur.

__ADS_1


Andi mengikutinya, lalu dia duduk dan Dian mengambil makanan buat Andi. Andi memakan nasi goreng buatan Dian, dia merasa berbeda dengan makanan itu.


"Ini kamu yang masak?" tanya Andi.


"Aku gak bisa masak, kamu tahu sendiri itu masakan siapa" jawab Dian jutek.


"Kok bisa dia datang kesini?" tanya Andi menghentikan makannya.


"Mbak Anis datang mengantar makanan buat suaminya. Katanya sebelum pengadilan mengeluarkan suarat cerai kamu sama mbak Anis, itu masih tanggung jawabnya buat menyiapkan makan buat kamu" ucap Dian.


Andi hanya diam, Dian melihat Andi "sekarang apa yang mau kamu lakukan?" tanya Dian.


"Maksud kamu?" Andi tidak paham.


Dian tersenyum "kamu tidak bisa kan bercerai dengan istri kamu. Semalam aja waktu kamu melakukan itu sama aku, kamu masih menyebut nama mbak Anis dan minta maaf. Kalau kamu bercerai dengan mbak Anis kamu akan kehilangan semuanya. Mana bisa kamu hidup miskin sedangkan di fikiran kamu hanya penuh dengan uang".


"Cukup. Emang aku sangat mencintai Anis, iya aku tidak bisa hidup miskin. Tapi aku telah salah menyakiti Anis, apapun keputusannya aku terima. Karena aku memikirkan anak dalam rahim kamu. Apapun yang terjadi aku akan mempertahankan semua ini" Andi kesal.


"Kamu tidak akan bisa, yang kamu lawan sekarang bukan Liana Juanda tapi Vian Prabowo. Aku juga tidak yakin kamu akan menikahi aku" Dian.


"Emang benar aku tidak akan pernah nikahin kamu. Meskipun anak itu lahir juga tidak akan aku nikahi. Sebab kamu tahu sendiri kalau aku nikah lagi, aku semakin susah mempertahankan ini".


"Kalau gitu tinggalkan aku, karena aku bukan *******. Kamu tahu sendiri waktu pertama kamu menidurkan ku. Tinggalkan aku.." bentak Dian sambil menangis.


Andi kesal dan melempar semua makanan yang dimeja "kamu jangan harap aku akan tinggalkan kamu, sebab kamu adalah pemuas nafsuku" Andi pergi.


Dian semakin menangis mendengar perkataan Andi dan dia menyesal. Dia terbayang awal-awal didekati Andi dan tergoda dengan ketampanan Andi dan kekayaannya. Memang awalnya dia tidak menyukai Andi tapi Andi selalu datang menawarkan harta dan kesenangan, makanya dia rela selingkuh dengan Andi.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2