
Liana sedang membuat minuman segar-segar buat yang lain ditemani dan dibantu oleh Vian.
"Untuk apa kamu membuat minum segala buat mereka?"
"Abang mau bantu apa tidak, kalau tidak abang boleh kesana duluan".
"Iya abang bantu. Tapi abang heran bangat sama kamu, kamu itu terlalu baik" Vian melihat sama Liana.
"Berbuat baik itu gak ada salahnya bang, kan ini buat kita juga" ucap Liana.
"Li, abang mau tanya"
"Hmm.."
"Apa keinginan kamu yang belum terwujud?"
"Semua usaha bunda sama ayah dulu sudah pernah Lili rasakan. Jadi keinginan Lili sekarang hanya ingin buat yayasan buat anak-anak yang tidak mendapatkan ilmu seperti kita ini".
"Owh... keinginan buat melanjutkan kuliah ada?"
"Sebelum orang tua Lili meninggal ada tapi sekarang sudah gak ada. Keinginan Lili hanya ada dua, pertama Lili sembuh dari trauma, kedua Lili menikah dengan orang yang menerima Lili dengan kekurangan Lili dan dia tidak hanya ingin memandang harta warisan ayah bunda".
"Harta warisan?"
"Iya, selama ini cowok yang ingin pacaran sama Lili hanya karena kekayaan orang tua Lili. Lili sekarang kan udah gak kaya makanya sekarang gak ada orang yang mau sama Lili" ucap Liana enteng.
"Tidak semua orang seperti itu, Li. Dari segitu banyak laki-laki pasti ada satu yang tulus" ucap Vian.
"Maybe. Ayo bang kita ke belakang" Liana dan Vian membawa minuman.
Mereka melihat Liana dan Vian datang membawa minuman.
"Lili emang tahu kesukaan kita" ucap Jeni.
__ADS_1
"Nih minum dulu" Liana meletakan minuman itu.
"Jadi apaan yang kalian bahas?" tanya Vian.
"Ini bro, kita sedang buat list apa saja kegiatan kita selama liburan disini. Ini coba lihat" Alex memberikan list pada Vian.
"Baik, gue setuju" jawab Vian.
"Jadi nanti malam kita mau ngapain?" tanya Liana.
"Kita akan BBQ disini" jawab Kia.
"BBQ, di dalam aku rasa sudah gak ada makanan yang bisa kita buat BBQ" jawab Liana.
"Kita beli aja keluar, di depan sana kan ada mini market" saran Sari.
"Eh non, disana tidak ada jual dagiang sama sayur-sayuran. Disana mini market jual makanan ringan saja. Mana sanggup penduduk sini beli gituan disini" Alex sewot.
"Biasa aja keles, aku kan gak tahu dan hanya menyarankan saja" Sari kesal.
"Iya, Rey sama Kia aja yang pergi. Dia kan tahu daerah sini" ucap Vian.
"Kok Kia sih bang, Kia mana tahu" Kia kaget.
"Maksud abang, Rey yang tahu Kia. Kamu temani dan pilih-pilih aja daging sama sayur. Nggak mungkin kan Rey yang pilih" Liana menjelaskannya.
"Iya Kia, sekali-kali pergi berdua sama kak Rey. Iya kan kak Rey!" ejek Jeni.
Rey hanya diam "sana pergi, bentar lagi sore" perintah Vian
"Baik bos. Ayo Kia" ajak Rey.
"Tunggu di depan, Kia mau ambil tas dulu" Kia masuk ambil tas dan Rey langsung ke depan.
__ADS_1
"Jen, Li, jalan-jalan ke kebun yuk" ajak Sari.
"Aku capek Sar, aku mau istirahat dulu" Jeni langsung lari masuk.
Sari melihat Liana "aku juga capek, Sar. Tadi sampai disini aku kan langsung masak. Kamu pergi sendiri aja ya" tolak Liana.
"Ya udah deh, disini juga mau ngapain" Sari langsung pergi sendiri.
Mereka melihat Sari pergi sendiri, Liana dan Vian melihat ke Alex.
"Kenapa!" ucap Alex melihat sama mereka.
"Gentle dikit bro, gak kasihan sama tuh anak pergi sendiri. Kalau nyasar giman?" ucap Vian.
"Oke.. oke.. bilang aja loe gak mau di ganggu berdua" ucap Alex.
"Pergi sana" Vian mengusir Alex.
Alex langsung menyusul Sari yang pergi sendirian. Tinggal Liana dan Vian disana.
"So, kita mau ngapaian sekarang?" tanya Vian.
"Nggak tahu, menurut abang?"
"Abang mau dengar cerita kamu, boleh?"
"Cerita apa lagi bang?"
"Apa aja yang ingin kamu ceritakan dan yang kamu rasakan sekarang di fikiran kamu".
"Apa ya?"
"Misalnya tentang kuliah, sahabat, pacar, mantan pacar, keluarga. Terserah kamu aja, abang siap dengar kok".
__ADS_1
Liana sedang memikirkan apa yang ingin dia ceritakan sama Vian.
*BERSAMBUNG