Si Bungsu

Si Bungsu
4. Bunda Meninggal


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian bunda kembali dilarikan ke rumah sakit. Liana sedang kuliah di kampus merasa perasaannya tidak enak. Mata kuliah pertama sudah selesai, Liana masih melamun di dalam kelas. Tiba-tiba sahabatnya menghampirinya.


"Li, kamu kenapa?" tanya Kia


"Aku nggak kenapa-napa, tapi kenapa perasaan ku tidak enak ya. Aku cemas dan khawatir sama bunda".


Tidak lama kemudian ponsel Liana berdering, Liana langaung mengangkat panggilan dari Lala.


"Assalamualaikum mbak"


"Waalaikumsalam Li, kamu dimana dek? Udah selesai kuliahnya?"


"Udah mbak, kenapa?"


"Kamu ke rumah sakit temui Bagas sama mas Dani sekarang ya. Barusan bunda dibawa lagi ke rumah sakit. Mbak di rumah sedang jagain ayah sama anak-anak" jelas Lala.


"Baik mbak, assalamualikum" Liana mematikan ponselnya.


Liana langsung menangis setelah meletakan ponselnya. Sahabatnya khawatir melihat keadaan Liana dan langsung memeluk Liana.


"Kenapa lagi Li?" tanya Sari.


"Bunda dilarikan ke rumah sakit lagi" sambil menangis.

__ADS_1


"Kalau gitu ayo kita ke rumah sakit lihat bunda, sama mobil aku aja. Nanti mobil kalian di jemput sopir aja" ajak Jeni.


Mereka langsung pergi ke rumah sakit, sampai disana mereka langsung menuju ruang rawat bunda. Bagas sedang bicara dengan dokter pribadi bunda dan melihat Liana datang dengan teman-temannya.


"Sebentar dok. Lili untung kamu cepat datang dek, sekarang masuk ya temui bunda. Di dalam juga sudah ada mas Dani sama mbak Riri" ucap Bagas sambil menerima salam dari Liana dan teman-temannya.


Liana mengangguk "iya mas. Ayo kita masuk" ajak Liana sama teman-temannya.


Sampai disana Liana langsung melihat ke bunda begitupun dengan bunda. Liana menangis sambil jalan dan menghampiri bunda menggantikan Riri yang duduk di sebelah bunda. Sahabat Liana langsung bersalaman dengan Riri dan Dani. Bunda masih saja melihat Liana tanpa bicara sepatah kata pun. Sedangkan Liana terus bicara sama bunda.


Sekitar 10 menit kemudian bunda kejang-kejang dan keluar cairan hitam kehijau-hijauan dari mulut dan hidung bunda. Bunda masih melihat sama Liana sambil memegang tangan Liana. Semua orang sudah khawatir, Liana langsung keluar memanggil dokter yang sedang bicara sama Bagas di luar. Tidak lama kemudian dokter masuk bersama Bagas dan Liana.


Mereka berusaha menjauh dari bunda dan membiarkan dokter memeriksa bunda. Tapi mata bunda masih melihat sama Liana seperti ada yang mau disampaikan tapi tidak terucapkan. Tidak lama kemudian bunda langsung menutup mata untuk selama-lamanya.


"Bagas, maaf sebelumnya, ibu mertua kamu sudah pergi untuk selamanya" kata dokter pada Bagas.


Setelah semua surat-surat kematian bunda sudah selesai dan bunda sudah selesai di mandikan. Bunda dibawa pulang dengan ambulance bersama bagas. Sedangkan Riri dan Dani dengan mobil yang dibawa Bagas ke rumah sakit. Liana bersama sahabatnya dengan mobil Jeni.


Sampai di rumah semua tetangga sudah berdatangan. Liana kembali pinsan dan di angkat oleh Denis sahabat masa kecilnya ke kamar. Sahabat-sahabatnya mengikuti Denis di belakang. Sedangkan ayah hanya duduk melamun di sebelah bunda.


Kemudian Kia kefikiran dengan pacar Liana. Apakah dia sudah tahu bunda Liana meninggal dan keadaan Liana yang terpuruk seperti ini.


"Guys apa kita harus menghubungi Reza dan memberitahu semua ini" ucap Kia.

__ADS_1


"Menurut aku lebih baik iya, biar aku aja yang menghubunginya" Jeni mengeluarkan ponsel dari tasnya.


Reza mengangkat telepon dari Sari "iya halo".


"Baby..." ucap suara cewek di sampingnya.


"Loe bisa diam sebentar nggak" bentak Reza.


Jeni kaget mendengar suara cewek dan dia menutup mulutnya.


"Kenapa Jen" Sari melihat ekspresi Jeni yang kaget.


"Halo Jen, kenapa?" tanya Reza disana.


Jeni mengangkat tangannya menyuruh Sari sama Kia diam.


"Oh iya Za, maaf ganggu loe. Gue cuma mau bilang kalau bunda Liana sudah meninggal. Keadaan Liana sangat mengkhawatirkan, dia sudah dua kali pinsan. Kalau bisa loe datang kesini ya menghiburnya" jawab Jeni.


"Maaf ya Jen, bisa loe sampaikan pesan gue sama Liana. Gue turut berduka cita atas kehilangan bunda ya. Sekarang gue sedang di luar kota tidak bisa kembali" Reza menghindar.


Mendengar alasan Reza yang tidak masuk akal Jeni kesal dengan sikap Reza tersebut.


"Oh gitu, ya udah nanti gue bilang, selamat bersenang-senang Reza. Dasar ********.." Jeni langsung mematikan teleponnya.

__ADS_1


Reza bingung dengan ucapan terakhir dari Jeni. Apakah Jeni tahu kalau dia berbohong dan sudah mengkhianati Liana.


*BERSAMBUNG


__ADS_2