Si Bungsu

Si Bungsu
78. Surat Panggilan


__ADS_3

Dani sedang berada di bengkel, tiba-tiba datang pekerjanya mengantar surat.


"Mas, ini ada kiriman" ucap pekerja Dani.


"Iya, makasih ya" Dani mengambilnya dan membuka surat itu.


Dani terkejut setelah melihat isi surat itu "kenapa seperti ini. Bukannya Vian yang mengambil tanggung jawab masalah ini".


Dani langsung mengambil ponsel dan menghubhngi Vian. Saat ini Vian sedang berada di kantor bersama Rey.


"Assalamualaikum, mas" jawab Vian.


"Waalaikumussalam. Kamu dimana, Vian?" tanya Dani.


"Lagi di Vp Entertaiment, mas".


"Maaf, mas ganggu. Ada yang mau mas bicarakan!".


"Apa itu, mas?" tanya Vian.


"Barusan mas dapat surat panggilan mengenai perusahaan om Dion dan super market tante Gina. Bukannya mas sudah menyerahkan semuanya sama kamu" ucap Dani.


"Benar, mas. Vian akan menceritakan sama mas" Vian lalu menceritakan rencana yang sudah mereka susun. "Begitu rencananya, mas" ucap Vian.


"Owh.. kirain kamu sudah tidak mau mengambil tanggung jawab ini. Mas akan ikuti permainan mereka, sesuai dengan plan kamu" Dani.


"Tapi mas jangan membawa Liana setiap mas mengurusnya ya. Sebab Liana, Mimi, sama paman dan bibi sedang mereka intai. Mereka tahu kelemahan Vian, makanya mereka sedang mengintai orang-orang yang sangat Vian sayangi" ucap Vian.


"Iya, mas paham" ucap Dani.


"Kalau gitu, mas rencanakan sama Rey dan Bagas ya. Vian akan pura-pura pergi dari Indonesia saat ini" kata Vian.


"Iya Vian. Assalamualaikum" Dani menutup panggilan.


"Rey, mulai dari sekarang ikuti mas Vandi dan Bagas ya. Kalau ada orang-orang menanyakan aku bilang sama mereka bahwa aku sedang pergi ke luar kota" perintah Vian.


"Baik, bos" Rey pergi meninggalkan Vian.

__ADS_1


Keesokan harinya Vian tidak bersiap-siap ke kantor. Dia mengurus perusahaannya dari rumah. Liana melihat Vian sedang duduk di ruang keluarga sedang mengetik.


Liana menghampirinya "bang, gak ke kantor?"


"Nggak sayang, mulai hari ini sampai seminggu kedepan abang akan di rumah saja" jawab Vian sambil mengetik.


Liana merasa ada yang aneh, dia duduk di samping Vian "kenapa? pasti ada terjadi sesuatu kan".


"Kita lihat saja, nanti kamu akan mengetahuinya" Vian melihat Liana.


Liana masih tidak percaya "oya sayang, kapan kita akan membuka klinik kita?" tanya Vian.


"Klinik kita, bukannya klinik abang?" Liana tidak paham.


"Mulai dari sekarang klinik itu akan abang berikan sama kamu. Sebagai hadiah pernikahan dari abang. Kamu suka?" tanya Vian.


"Apapun yang abang berikan sama Lili, Lili suka bang. Tapi kalau itu untuk Lili, apa Lili sudah mulai bekerja?" tanya Liana.


"Tidak sayang, kamu boleh datang hanya sekali-kali dan di dampingi oleh Tina" ucap Vian.


Liana cemberut "ya sudah gak apa-apa. Semakin bosan saja di rumah, apalagi sekarang Mimi sudah mulai menjalankan pengobatannya" ucap Liana.


Liana tersenyum "jadi kapan kita akan membuka klinik itu?" tanya Vian lagi.


"Tunggu dulu, resepsi kita kapan kita laksanakan? Apa gak perlu saja kita laksanakan lagi" ucap Liana.


"Kalau itu abang gak setuju. Waktu akad kita sudah sederhana juga, waktu resepsi abang tidak mau mengecewakan kamu lagi. Masa iya istri dari Vian menikahnya sederhana" Vian tidak setuju.


"Itu pendapat Lili aja bang. Sebenarnya Lili sekarang sudah tidak memikirkan itu lagi bang. Lili sudah mendapatkan semuanya, Lili tidak mengharapkan lebih" ucap Liana.


"Jadi bagaimana? resepsi dulu apa pembukaan klinik?" tanya Vian.


"Resepsi aja dulu, setelah itu baru kita pembukaan klinik dan pergi honeymoon ya" Liana menggandeng tangan Vian.


"Iya, emang kamu mau pergi honeymoon kemana?" tanya Vian.


"Lili mau umroh sama keliling negara Eropa, boleh?" tanya Liana.

__ADS_1


"Boleh, tapi kalau kamu hamil menjelang kita pergi, kita batalkan saja ya" ucap Vian.


Liana mengangguk "oke abang, makasih" Liana memeluk Vian.


Siang harinya Max datang kerumah Liana "assalamualaikum" Max masuk rumah.


Keluar mbok "waalaikumussalam, Max".


"Mimi mana mbok?" tanya Max.


"Ada didalam kamar beristirahat, setelah melakukan pengobatan sama Bagas dia disuruh istirahat" jawab mbok.


"Baik, makasih mbok. Max langsung ke kamarnya saja" Max langsung masuk kamar.


Vian melihat Max memasuki kamar Max "Max, kapan datang" ucap Vian.


"Baru saja bos, kok bos di rumah bukannya ke luar kota?" tanya Max.


Lalu Vian menceritakan sama Max mengenai rencananya. Liana dari belakang rumah terdengar olehnya mengenai percakapan Vian dan Max.


"Jadi karena itu abang gak ke kantor, apa yang terjadi setelah mas mendapatkan surat panggilan itu?" tanya Liana.


"Dia tidak akan kenapa-napa. Mas akan didampingi oleh Rey dan Bagas. Lagian sampai persidangan dua kali, persidangan terakhir kita akan datang dan memenangkan itu semua" ucap Vian.


"Oh kirain abang akan biarkan semua ini" ucap Liana.


Vian mendekati Liana "jangan khawatir, abang akan selalu ada".


"Max, loe mau ketemu sama Mimi kan" ucap Liana.


"Iya, gue jadi lupa setelah melihat loe sama bos mesraan" ejek Max.


"Loe bisa mesraan sama Mimi, sana pergi" Liana sebal.


"Oke, oke" Max langsung pergi.


"Ayo ikut, jelaskan sama aku mengenai rencana abang" Liana menarik Vian duduk untuk menceritakan rencananya.

__ADS_1


Vian lalu menceritakan sama Liana semuanya. Mengenai paman dan bibi sudah bergabung dengan Rian. Kemudian mengenai rencananya sama Rey dan Alex.


*Bersambung


__ADS_2