
Vian sedang berada di kantor Arc Enterprise, Rey masuk ke ruangannya.
"Ada apa Rey?"
"Bos, barusan gue mendapatkan informasi bahwa paman Lili berada di Amerika. Benar kata bos, katanya mereka selama ini berada di London di sembunyikan oleh Angel" lapor Rey.
"Bagus, berarti dia sendiri yang datang kesana. Sekarang hubungi anak buah disana untuk menangkap paman Lili dan bawa kesini" perintah Vian.
"Mereka sekarang sedang mengusahakannya, bos. Kita hanya menunggu informasi dari mereka" ucap Rey.
Tidak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu "masuk" ucap Vian dari dalam.
Sekretaris Vian yang mengetuk pintu "maaf ganggu, bos. Ada orang yang mau ketemu sama, bos" kata Gino.
"Siapa Gino?" Rey yang bertanya.
"Namanya Max, dia bekerja di PN Group" jawab Gino.
"Max, suruh dia masuk" ucap Vian.
Gino keluar lagi menyuruh Max masuk.
"Bos, sepertinya ada masalah. Tiba-tiba saja Max datang kesini" ucap Max.
"Bisa jadi, kita tunggu aja" kemudian terdengar orang mengetuk pintu "masuk".
Max masuk dan menunduk tanda hormat "ada apa Max?" tanya Vian.
"Beberapa hari yang lalu ada beberapa orang yang selalu mengikuti aku bersama Mimi. Jadi aku sangat risau dengan keselamatan Mimi. Apakah boleh Mimi tinggal di rumah bos untuk sementara waktu?" cerita Max.
"Boleh saja, tapi apa kamu tahu siapa orang itu, Max?" tanya Vian.
"Aku tidak tahu, makanya sekarang aku minta bantuan sama bos" ucap Max.
"Rey, coba loe selidiki siapa mereka dan berikan keamanan yang ketat pada Mimi sewaktu Max mengantarnya ke rumah" perintah Vian.
"Baik, bos" jawab Rey.
"Gue rasa Rian sudah tahu bahwa gue yang melakukan ini dan dia pasti sekarang punya rencana lain lagi. Tapi tunggu Max, apa Mimi mau tinggal bersama kami. Sedangkan Mimi hanya menurut sama loe" ucap Vian.
"Aku akan sering datang kesana, lagian disana juga ada Lili yang bisa membantu pengobatannya" Max.
"Max kalau loe sering datang ke rumah bos bukan ide yang bagus. Pasti orang-orang itu akan mengikuti loe, lebih baik loe tidak sering datang buat keselamatan Mimi dan Lili" kata Rey.
__ADS_1
"Benar juga yang dikatakan Rey, Max" sambung Vian.
"Kalau gitu kata bos tidak masalah, nanti malam aku akan mengantar Mimi kesana" Max.
"Iya" jawab Vian.
Setelah percakapan itu Max kembali lagi ke kantor. Sedangkan Vian melanjutkan kerjaannya. Kemudian ponsel Vian berdering, ternyata telepon dari Rey.
"Iya, Rey?"
"Bos, barusan anak buah di Amerika memberitahu gue bahwa mereka sudah berhasil menyelamatkan paman Lili. Mereka akan kembali kesini dalam waktu seminggu" ucap Rey.
"Bagus Rey, itu berita sangat bagus. Jangan loe kasih tahu Liana maupun Max dulu".
"Baik bos" Rey menutup panggilannya.
Hari sudah semakin sore, Vian bersiap-siap mau pulang. Semenjak menikah Vian sudah sering membawa mobil sendiri karena dia tidak dibolehkan oleh Lili buat memakai sopir jika pergi bersamanya. Sewaktu di jalan pulang, Vian mendapatkan pesan dari istrinya. Dia disuruh singgah super market buat beli beberapa keperluan Lili.
"Bagaimana ke super market dia saja" gumam Vian sambil menyetir mobil.
Vian sampai di Lili mart, Vian melihat Angel dan Rian mau masuk kesana juga. Vian tidak peduli, dia langsung keluar mobil dan menuju super market. Sampai didalam Gina melihat Vian masuk dan menghampirinya.
"Vian.." ucap Gina.
"Sama siapa kesini, Lili mana?" tanya Gina.
"Lili di rumah tante, Vian dari kantor tadi" jawab Vian.
Angel melihat Vian bicara sama Gina "Yan, itu bukannya Vian".
Rian melihatnya "iya, ngapain dia disini".
"Mana gue tahu, mybe belanja" ucap Angel.
Angel memanggil karyawan disana "mbak permisi, apa mbak tahu siapa cowok itu" Angel menunjuk Vian.
"Saya tidak tahu mbak, tapi sama ibu-ibu itu saya tahu. Dia pemilik super market ini" jawab karyawan itu.
"Oh.. makasih ya" ucap Angel.
"Mau cari apa kamu kesini, biar tante bantu" ucap Gina.
"Ini tante, tadi Lili minta Vian membeli ini" Vian melihatkan ponselnya.
__ADS_1
Gina memanggil karyawannya "kamu cari ini semua" perintah Gina pada karyawan.
Karyawan itu mengambil catatan dari Gina dan Gina memberikan ponsel Vian. Sedangkan Angel memperhatikan mereka dari jauh.
"Njel, semua ini sudah kan?" tanya Rian.
"Iya" Angel masih memperhatikan Vian.
"Loe lihat apaan sih" Rian melihat apa yang dilihat Angel. "Oh.. apa loe masih mengharapkan dia" ucap Rian sambil jalan ke kasir.
"Ya gak lah" Angel mengikuti Rian. "Gue penasaran saja sama Vian, begitu dekat dengan orang pemilik ini".
"Itu bukan urusan kita, ayo" Rian mulai kesal.
Sampai di kasir Vian sedang menunggu belanjanya sambil bicara sama Gina. Lalu datang karyawan memberikan belanja sama mereka.
"Ini Vian" Gina memberikan pada Vian.
"Makasih tante" Vian melihat Rian dan Angel "hai Yan, Angel" sapa Vian.
Mereka berdua hanya tersenyum "tante, mereka berdua teman Vian. Semua yang dibelinya gratis aja ya, tante" bisik Vian pada Gina.
Gina mengangguk "buat mereka berdua gak perlu bayar" ucap Gina pada karyawannya.
"Tante, Vian pamit pulang. Titip salam sama om, ya" Vian salaman dengan Gina.
"Iya, salam juga buat Lili dan Tina" ucap Gina.
Vian jalan keluar disusul oleh Rian "Vian, tunggu".
Vian berhenti "ya, kenapa?".
"Maksud loe tadi apaan, loe menghina gue. Menurut loe, gue gak mampu buat bayar" Rian kesal.
"Bukan, itu hadiah buat loe" Vian tersenyum "sampai ketemu lagi, mulai dari sekarang kita akan saling bertemu" Vian jalan masuk ke mobilnya.
"Maksud loe" teriak Rian, tapi tidak dipedulikan Vian.
Angel datang membawa belanja dan memberikan "ayo Yan".
Mereka langsung masuk mobil dan pulang ke rumahnya.
*Bersambung
__ADS_1