
Mimi telah sampai di rumah Liana, sekarang Liana mengantar Mimi untuk istirahat di ruang tamu. Setelah Mimi tertidur Max minta izin sama Liana dan Vian untuk pamit pulang.
Max keluar dari kamar tamu "bagaimana Max, Mimi udah tidur?" tanya Liana.
"Sudah Li. Gue mau pamit, tolong jaga Mimi ya" ucap Max.
"Itu sudah jadi tanggung jawab gue, Max. Mimi itu sepupu gue, sudah sewajarnya gue yang jagain dia" jawab Liana.
"Loe pulang sama siapa, Max" tanya Vian.
"Gue pulang sama taksi" jawab Max.
"Rey... Rey.. " Vian memanggil Rey yang sedang di dapur.
Rey datang "iya bos".
"Loe mau balik apartemen kan, loe sekalian antar Max pulang" perintah Vian.
"Baik bos. Ayo Max" ajak Rey.
Mereka langsung pamit pulang, Rey mengantar Max ke rumahnya dulu. Vian langsung ke kamar sedangkan Liana ke dapur menemui mbok.
"Mbok, mulai sekarang mbok temani Mimi tidur ya. Kemudian mbok harus masak makanan sama seperti waktu Lili sakit kemaren. Nanti mas Bagas akan datang berikan mana yang boleh dan tidak dimakan sama Mimi pada mbok" ucap Liana.
"Iya nona, mbok akan jaga non Mimi" ucap mbok.
"Kalau gitu mbok istirahat lagi, Lili juga mau istirahat" Liana langsung pergi ke kamarnya.
Pagi hari Mimi terbangun, dia melihat mbok di sebelahnya tidur. Dia merasa sangat bahagia, ternyata masih ada juga yang peduli sama dia. Dia meneteskan air mata, lalu mbok terbangun dan melihat Mimi menangis.
"Kenapa non?" tanya mbok.
"Mimi terharu mbok, ternyata masih ada orang yang peduli sama Mimi" ucap Mimi.
Mbok langsung memeluk Mimi supaya dia tenang.
"Sekarang non bersih-bersih ya, mbok juga mau menyiapkan sarapan dulu" mbok bangun.
"Iya mbok, makasih" ucap Mimi.
__ADS_1
Mbok langsung keluar buat menyiapkan sarapan. Mbok menyiapkan sarapan buat semua orang. Biasanya mbok hanya menyiapkan untuk dirinya dan satpam. Tapi untuk sekarang, dia ingin menyiapkan untuk semua orang.
Liana bangun tidur "bang.. bangun bang" Liana membangunkan Vian.
Vian terbangun "jam berapa, sayang?" tanya Vian.
"Jam 06.30. Kenapa abang tidur lagi setelah subuh, lihat Lili juga telat bangun" Liana kesal sama Vian.
Liana sekarang sedang tidak sholat, jadi Liana setelah membangunkan Vian sholat, dia kembali tidur. Vian setelah sholat melihat istrinya masih tidur, dia tidur juga lagi. Karena itu mereka terlambat bangun.
"Maaf, sayang" Vian menyentuh pipi Liana.
"Ya sudah, abang mandi gih. Lili mau siapkan sarapan buat abang dulu" Liana pergi ke dapur.
Sampai di dapur Liana melihat semua sarapan sudah tersedia. Dia yakin pasti mbok yang menyiapkan, sebab dia bangun telat. Kemudian Liana kembali lagi kekamar buat bersih-bersih juga. Vian setelah mandi melihat Liana sedang membersihkan tempat tidur.
"Sayang, kok cepat kali menyiapkan sarapannya?" tanya Vian.
"Semuanya sudah disiapkan sama mbok, mungkin karena Lili bangun telat. Bang, baju abang sudah Lili siapkan, tuh di atas meja" ucap Liana pada Vian.
"Makasih sayang" Vian tersenyum dan langsung mengganti bajunya.
"Belum juga siap, bang?" tanya Lili sambil memakai bajunya.
"Ini abang sedang cek jadwal abang yang baru di kirim sama Rey" jawab Vian yang masih fokus.
Selesai Liana memakai baju, Liana meletakan notebook Vian di atas kasur. Liana menarik Vian buat berdiri, Liana membantu Vian merapikan penampilannya dan memasang dasi.
"Selesai, ini sepatu abang. Sekarang boleh lihat notebook lagi" Liana memberikan notebook.
Vian tersenyum dan langsung mencium kening Liana "makasih sayang".
Liana hanya membalasnya dengan tersenyum, kemudian Liana kembali bersiap-siap. Setelah siap Liana dan Vian turun sarapan. Sampai disana mereka melihat Mimi yang sudah sarapan duluan.
"Morning, Mi" ucap Liana.
"Pagi kak, bang" Mimi tersenyum.
"Kelihatannya kamu bahagia hari ini?" tanya Liana.
__ADS_1
"Iya kak, semalam mbok nemani Mimi tidur. Udah lama Mimi tidak ada yang nemani tidur semenjak ayah sama ibu hilang. Kalau Mimi ingin ditemani pasti mas Max yang nemani, itu pun baru beberapa bulan ini. Kalau dulu Mimi aja gak dilirik oleh mas Max" cerita Mimi.
"Mi, abang mau kasih kamu informasi. Tapi kamu jangan terlalu bahagia dulu ya, kamu harua sabar" ucap Vian.
"Informasi apa bang?" tanya Liana.
"Informasih ini juga buat kamu senang, sayang" sambung Vian.
"Ya apa?" Liana tidak sabaran.
"Rey sudah menemukan ayah dan ibu Mimi, seminggu lagi mereka akan datang kesini" ucap Vian.
Liana senang "beneran bang, abang gak bohong kan".
"Iya sayang, gak mungkin abang bohong" Vian menyentuh kepala Liana.
"Mi, bentar lagi ayah sama bibi akan pulang" Liana melihat sama Mimi.
"Kak, Mimi bahagia sekali, sudah lama Mimi kangen mereka. Tapi Mimi harus menunggu seminggu lagi ya, kak" ucap Mimi juga bahagia.
"Iya Mi, sampai paman dan bibi datang, Mimi tinggal disini dulu. Mimi tidak boleh keluar rumah, jika ada yang Mimi butuhkan bilang sama mbok atau Lili bisa juga. Kalau tidak Mimi juga boleh hubungi Max untuk datang kesini" ucap Vian.
"Iya bang, makasih bang" Mimi berterima kasih.
"Sayang, nanti Bagas akan datang memeriksa keadaan Mimi" ucap Vian sama Liana.
"Iya bang" Liana mengangguk.
"Kalau gitu abang berangkat sekarang" Vian berdiri.
"Mimi lanjut sarapannya ya, kakak antar abang kedepan dulu" ucap Liana pada Mimi.
Liana mengikuti Vian "sayang, klinik udah selesai. Kapan kita akan openingnya?" tanya Vian sambil jalan kedepan dengan Liana.
"Gimana setelah semua masalah selesai bang, Lili gak mau nanti ada gangguan lagi" saran Liana.
"Ya sudah kalau itu keputusan kamu, abang berangkat dulu, assalamualaikum" Vian bersalaman dengan Liana dan mencium kening Liana.
*Bersambung
__ADS_1