Si Bungsu

Si Bungsu
25. Wisudah Liana


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu Liana sudah menyelesaikan kuliahnya. Tapi penyakit Liana masih belum sembuh total. Sebab Liana masih menyimpan semua masalahnya sendiri. Tidak mau cerita sama siapa pun. Meskipun Vian masih sering bertanya dan minta penjelasan Liana tetap tidak mau berbagi. Liana masih belum percaya sepenuhnya pada seorang cowok.


Sahabat-sahabatnya pun sudah jarang menemui Liana. Sebab mereka tidak mau mengganggu skripsi Liana. Lagian Liana sekarang sudah sibuk dengan proyek yang dibangun sama Vian dan Bagas.


Hari ini adalah hari wisudah Liana, semua orang berkumpul dan datang memberukan selamat padanya. Disaat semua orang yang datang Liana mencari seseorang yang diharapkannya untuk datang.


Jeni menghampiri Liana "Li selamat ya. Ini bunga dari abang, katanya gak bisa datang karena abang sekarang ada di luar kota".


Liana mengambil bunganya "thanks Jen, bilang sama abang makasih".


"Coba baca dulu kartu ucapannya" saran Jeni.


Liana membuka kartu ucapan, setelah dia membacanya Liana langsung berlalu pergi. Semua orang memanggilnya dan heran melihatnya pergi.


"Jen kemana Lili" Dani menghampiri Jeni.


"Menemui bang Vian"


"Tadi kata kamu dia ke luar kota"


Jeni tersenyum "iya mas, nanti Lili pulang kok, jangan khawatir".


Liana pergi ke tempat yang dikatakan di kartu ucapan. Sampai disana dia tidak menemui siapa-siapa. Tempat itu kosong, Liana menyusuri pantai sampai dia menemukan sesuatu yang aneh seperti petunjuk-petunjuk yang mengarah ke sebuah tempat makan romantis. Liana duduk sambil melihat-lihat sekeliling.


Beberapa menit kemudian datang Vian dengan membawa kado berdiri disampingnya.


"Bang Vian... bukannya abang di luar kota?" Liana kaget.


Vian memberikan kado "ini buat kamu".

__ADS_1


"Apaan ini bang" Liana mengambil kado tersebut.


Vian duduk di depan Liana "menurut kamu siapa yang akan kamu temui disini?"


"Lili fikir kak Rey yang akan menemui Lili, katanya ada yang mau dibicarakan mengenai abang" jawab Lili.


Vian tersenyum "iya benar abang kemaren keluar kota. Barusan abang baru sampai, makanya abang langsung kesini".


"Trus maksud semua ini apaan bang?" Liana bingung dengan dekorasi makan romantis di tepi pantai.


"Ini kan salah satu impian kamu, abang cuma ingin memberikan selamat dan mewujudkan salah satu dari impian kamu" .


"Iya Lili paham, tapi dari mana abang tahu? Semenjak kejadian di kantor waktu itu Lili gak ada ketemu abang. Lili hanya fokus dengan skripsi Lili".


"Kamu lupa Li, salah satu sahabat kamu adik abang loh"


Vian sadar pasti Liana akan bertanya terus, jadi Vian mengalihkan pembicaraannya.


"Bagaimana kita makan dulu, kamu pasti belum makan dan makan obat kan"


"Oke.." Liana dan Vian langsung makan.


Vian masih memperhatikan Liana sedang makan "saya tahu kamu pastu berfikiran lebih dari apa yang saya lakukan ini, Li. Tapi saya pun yakin kamu pasti akan menolak saya jika saya mengatakan perasaan saya pada kamu. Sebab fikiran kamu masih menyimpan rasa sakit yang sangat dalam. Berkali-kali saya ingin kamu menceritakan sama saya tapi akhirnya kamu juga yang menderita" kata hati Vian.


Liana melihat Vian "kenapa bang! ada yang salah sama Lili, sehingga abang terusan melihat Lili seperti itu?"


Vian langsung berhenti melamun "oh,, nggak ada Li. Kamu cantik juga kalau pakai make up".


"Biasanya Lili juga pakai make up bang, tapi gak tebal seperti hari ini" Liana tetap makan.

__ADS_1


"By the way setelah wisudah kamu mau ngapain, Li?"


Liana menggeleng-geleng "gak tahu bang. Kalau kerja di perusahaan mas Dani, Lili gak suka berhubungan mesin. Kalau di butik bunda sudah ada mbak Riri yang urusnya. Kalau di perusahaan ayah udah di pegang sama adik-adik bunda" Liana bersedih.


"Kok bisa?" Vian kaget.


"Sebab itu dulu perusahan kakek ayahnya bunda, bang. Ayah cuma bantu menjaganya waktu ayah nikah sama bunda" Liana minum air karena sudah selesai makan.


"Bukannya ayah kamu juga ada perusahaan arsitek, Li?" Vian juga sudah selesai.


"Iya bang, tapi udah di ambil ahli oleh keponakan ayah anak dari adiknya ayah".


"Kok bisa diberikan kepada mereka?" Vian semakin penasaran.


"Karena waktu itu bibi sakit keras jadi dia bermohon sama ayah dan karena ayah sayang sama bibi terpaksa ayah menyerahkannya" jawab Liana sambil mencari obat di dalam tasnya.


Vian memperhatikan Liana yang sedang memeriksa tasnya "cari apa, Li?"


"Obat Lili, bang. Sepertinya ketinggalan di rumah, gimana dong bang?" Liana cemas kalau tidak minum obat akan membuat Liana sakit kepala dan histeris lagi.


Vian memberikan obat Liana "ini minum".


Liana heran kok ada sama Vian "kok bisa ada sama abang".


"Minum aja, abang selalu bawa obat itu untuk kamu" Vian berbohong. Sebenarnya dia juga minum obat tersebut tapi ketika dia berkeringat banyak dan sesak napas.


Liana tersenyum dan mengambilnya lalu meminum obat tersebut.


*BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2